Sajak-Sajak Mohamad Baihaqi Alkawy; Melihat Lempengan Patah

Oliver Gal Love Remix By Tiago Magro

Melihat Lempengan Patah

 

ia berjalan ke batas halaman

buakar tatap keluarganya membawa

ransel ke arah pelabuhan

orang ramai memberkati, menitip ajimat

di antara saku baju dan celana

 

bergegaslah berangkat sebelum keluarga

melengkung seperti jamur

 

buakar mendengar derap langkah

seperti bunyi genteng jatuh dari rumah

buakar kaget, bunyi itu hanya derap kaki

tetangga mengejar anaknya

 

lantas buakar merasakan ada lempengan patah.

hanya saja itu perasaan belaka

 

2019

 

 

 

Hidup seperti Gelembung Sabun

 

angin menumpuk di belakang rumah

tapi buakar meringkuk di bawah bunut

 

ingatan itu seperti udara

begitu kata pepatah yang kerap diwicara

pepatah lahir dari bahasa yang latah

 

buakar merasa nyaman

padahal ia ditinggal hilang ke seberang

 

ingatan seperti gelembung sabun, katanya

meledak di udara dan tiada

 

buakar mendengar bunyi malam

seperti kedatangan. terus berulang.

terus berulang. tapi tak ada

 

angin masih menumpuk di belakang rumah

sedang buakar memutar musik di kamar

2019

 

 

Buakar Melawan Bapak

 

bapak menangis dalam kamar

buakar tak kuasa menyebut nama bapaknya

sebab bapak lebur dalam dirinya

 

bapak adalah semut di luar gelas kaca

tapi buakar melihatnya merangkak di dalam

 

bapak adalah semut yang lahir

jauh di kedalaman rumbai bumi

dan buakar merasa dirinya hanya di permukaan

 

bapak menangis dalam kamar

buakar membawakan jubah timur tengah

serta sebentang benang putih tanpa jahitan

 

bapak diam dan buakar tenang

 

2019

 

 

 

 

 

 

Meroboh Tiang Depan Rumah

 

tiang panjang, tiang gantungan

tali membentang di keduanya

buakar melihatnya seperti tiang bendera

di ujungnya menggantung mata ibunya

 

hanya saja buakar merasa jauh, sungguh jauh

sejauh aroma hujan pertama

 

buakar menghidu bau tanah

seperti aroma koper dari timur tengah

dengan kurma dan anggur kecil

 

buakar masih melihat tiang menjulang

mengingat kedua mata di seberang

ia tak bisa apa-apa

sebab dirinya diingatkan dan memperingatkan

 

buakar bangkit dan memotong batang ingatan

yang menjulang sebagai tiang

di depan rumahnya

 

2019

 

 

Buakar Membangun Jembatan

 

antar tali saling mengait

buakar memberi simpul erat agar tak terpisah

seperti ikrar gunung kepada tanah

 

ada rumah yang tak kunjung jadi

berjejer di antara kedua sisi jembatan

 

buakar melongo seperti ada yang ia tinggalkan

tapi tidak, buakar mengingat sesuatu

yang lama lepas dari simpul tangannya

 

sejenak buakar tercenung

tapi tak ada waktu bagi buakar berlama-lama

melawan lempengan ingatan

yang belum dewasa

 

bukar melanjutkan pekerjaannya

ia angkut baja dan celupkan

dalam minyak tanah

 

buakar kaget ternyata tangannya menyala pula

2019

Mohamad Baihaqi Alkawy

Lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Puisinya tersiar di Indo Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Haluan, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Majalah Sagang, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013). Negeri Langit (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Terpilih dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014).

Latest posts by Mohamad Baihaqi Alkawy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.