Indiestination dan Nostalgia Patah Hati bersama Lord Didi

Indiestination dan Nostalgia Patah Hati bersama Lord Didi
@cerita_mbahwito

 

Sewu kutho wis tak liwati

Sewu ati tak takoni

Nanging kabeh podo ra ngerteni

Lungomu ning endi….

Suatu siang, dalam bus yang melaju dari Agra menuju New Delhi, saya menyanyikan lagu ini. Tidak, saya tidak sedang mengamen di negeri orang. Saat itu, teman-teman sekelas yang berada dalam satu bus sedang bermain gim agar kami tidak merasa bosan di perjalanan. Siapa pun yang kalah, harus menyanyikan lagu dalam bahasa ibu masing-masing. Giliran saya kalah, lagu “Sewu Kutho” saya nyanyikan. Meski dengan suara pas-pasan, ternyata banyak teman yang penasaran arti lagu tersebut.

Hampir tiga tahun berlalu, pada hari Sabtu 13 Juli 2019, untuk pertama kalinya saya akan bertemu dengan Lord Didi alias Godfather of Brokenheart. Sejak membeli tiket Indiestination akhir Juni lalu, saya sudah tak sabar menantikan momen ini. Sesi pertama di hari pertama Indiestination diisi beberapa musisi indie seperti Jasmine, Dharma, Mitty Zasia, Jikustik, dan—tentu saja yang paling ditunggu—Didi Kempot. Berlokasi di Hutan Pinus Mangunan, di sebuah panggung menghadap barisan kursi dari batang kayu, dinaungi pohon-pohon pinus rindang.

Lepas tengah hari, pertunjukan pertama dibuka oleh Jasmine, disusul kemudian oleh Dharma. Mitty Sazia dengan suaranya yang jernih, lembut, dan mendayu-dayu menyanyikan sederetan lagu sendu, salah satunya “Waktu yang Salah”. Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh Fiersa Besari. Pucuk-pucuk pinus seolah ikut menikmati suaranya. Para penonton ikut menyanyi, mungkin sembari meresapi lirik lagunya.

Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah….

Hari semakin sore. Mitty yang telah turun panggung digantikan oleh Jikustik. Brian, sang vokalis, melantunkan sendu “Setia” hingga yang bernuansa ceria, “Selamat Malam Dunia”.

Silau matahari mulai turun ketika Jikustik meninggalkan panggung. Tinggal satu lagi musisi yang belum tampil dan paling ditunggu-tunggu oleh sekian banyak penonton.

Tepuk tangan dan sorak-sorai para Sadbois dan Sadgilrs sontak menyambut Lord Didi. Pandangan saya tak lepas dari sosok bersetelan hitam tersebut. Rambut gondongnya diikat rapi, persis seperti yang selama ini saya lihat dalam video-videonya di YouTube. Ia menyapa ramah para penggemar yang memadati area depan panggung. “Selamat sore, bocah sing ayu-ayu, sing ganteng-ganteng…. Sing pisanan lagune opo?” Ia bertanya.

Sebagian menjawab “Cidro”, sebagian lain memilih “Layang Kangen”. Maka dipilihlah “Layang Kangen” sebagai lagu pembuka. Di bawah tarian pucuk-pucuk pinus dan cahaya matahari yang menyusup di antara batang-batang pinus di belakang panggung, “Layang Kangen” terdengar makin syahdu. Sepertinya, banyak hati sedang dilanda rindu. Selanjutnya “Pamer Bojo” dilantunkan bersama Sadbois dan Sadgirls. Lagu ketiga adalah “Cidro”. Liriknya nelangsa tentang kekasih yang ingkar janji.

Kepiye maneh iki pancen nasibku

Kudu nandang loro koyo mengkene

Remuk ati iki yen iling janjine

Ora ngiro jebu lamis wae

“Cidro” diciptakan oleh Didi Kempot 30 tahun lalu. Barangkali, saat itu dia tak membayangkan bahwa anak muda zaman sekarang akan tetap menggandrungi lagu-lagunya. Mereka yang mengenang masa-masa pahit saat ditinggalkan. Mengenang luka yang kini tinggal bekasnya. Bagi mereka yang sedang patah hati, lirik lagu ini serupa cuka yang ditabur di atas luka.

“Kalung Emas” juga berkisah tentang luka hati. Saat matahari semakin mendekati kaki langit dan cahaya keemasannya melantas di sela pohon-pohon pinus, lagu ini dilantunkan. Suara Lord Didi dan suasana hutan pinus berpadu sempurna bagi hati yang sedang atau pernah terluka. Lagi-lagi, saya diajak bernostalgia.

Loro atiku, atiku keloro-loro

Rasani nganti tembus ning dhodho

“Kalung Emas” dinyanyikan sebagai lagu penutup setelah “Jambu Alas”, “Banyu Langit”, dan “Pantai Klayar”. Tidak semua lagu berkisah tentang patah hati, namun dinyanyikan dengan sempurna. Lord Didi tetap totalitas di usianya yang tak lagi muda.

Tak lebih dari satu jam saya menikmati suara Lord Didi, namun cukup membuat saya bernostalgia dan kembali pada suatu kesadaran bahwa patah hati adalah bagian dari perjalanan yang kadang tak bisa kita hindari. Tak apa-apa jika ingin menangis, tak peduli kamu laki-laki atau perempuan. Rasa sakitnya mungkin tidak akan terlupa, tapi setiap luka akan sembuh pada masanya. Semua berhak bahagia dan menikmati nostalgia patah hati lewat lagu-lagu Lord Didi tanpa rasa sakit yang terulang kembali.

Follow Me

Ayun Qee

Be nice, I might be your book editor someday.
Ocehannya bisa dibaca di www.ayuniverse.com
Ayun Qee
Follow Me

Leave a Reply

Your email address will not be published.