Sang Nabi Palsu Mendapat Wahyu di Bawah Pohon Jambu

Sejak kecil, Anwar Jibawi dijuluki “Si Mata Dua”. Bukan karena ia bisa melihat makhluk halus, melainkan karena ia lebih sering menatap langit ketimbang wajah teman-temannya. 

Di sekolah dasar, saat anak lain bermain kelereng, Anwar duduk di bawah pohon mangga, berdebat dengan batu. “Kau tak punya kaki, tapi bisa menggelinding. Manusia punya kaki, tapi terjebak di sini,” gumamnya. Guru agama, Pak Haji Mansyur, kerap menarik telinganya. “Ngobrol sama batu itu syirik! Nabi Muhammad saja bicara sama manusia!”

Suatu hari Anwar bertanya di kelas, “Kalau nabi punya sahabat setia, kenapa kita cuma bisa punya teman yang nyontek PR?” Kelas tertawa. Pak Haji Mansyur merah telinganya. “Kau ini aneh, Jibawi! Nanti jadi dukun kalau terus berteman dengan batu dan botol!” Sejak itu, Anwar mulai berpikir, mungkin jadi nabi lebih baik daripada jadi dukun.

Di semester kedua jurusan Teknik Mesin (yang dipilihkan ayahnya demi jaminan kerja), Anwar memutuskan berjalan kaki dari Makassar ke Palu. “Aku mau cari pencerahan,” katanya kepada tukang fotokopi kampus yang membalas, “Mending fotokopi KTM-mu. Takutnya nanti hilang di jalan.”

Perjalanan 300 km itu menjadi parade kekonyolan. Hari kedua, Anwar tersesat di perkebunan sawit. Ia dikira mata-mata pencucian uang oleh preman lokal. Ia lolos setelah mengaku sebagai utusan nabi baru dari TikTok. Hari kelima ia tidur di kuburan, mengira nisan adalah tulisan Tuhan yang diukir manusia. Akhirnya ia diusir warga karena ketahuan merebus mi instan pakai air kendi persembahan. Hari kedua belas, ia kehabisan uang dan bekerja serabutan di warung ramesan. Bu Tati, pemilik warung, bilang, “Ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya ngulek bumbu?” Anwar menjawab, “Bumbu ini filosofi, Bu. Pedasnya kehidupan, manisnya kepasrahan.”

Nasibnya berubah pada hari kelima belas di bawah pohon jambu liar di pinggir jalan. Saat ia mengutuk, “Tuhan, beri aku jawaban atau setidaknya wifi!” sebuah jambu busuk jatuh menimpa kepalanya. Darah tidak mengalir karena itu bukan durian, tapi Anwar tertawa. “Aku mengerti! Jambu ini simbol. Pencerahan itu harus jatuh dulu sebelum manis!” Ia menulis di buku catatan. Prinsip pertama: hidup itu seperti jambu. Yang matang dimakan burung, yang busuk jadi pupuk. Kita? Kita cuma biji yang tersangkut di gigi nasib.

Sepulang dari perjalanan, Anwar jadi bahan ledekan. Teman kosnya, Andi, menjulukinya Nabi Jambu.

“Lo mau bikin agama baru? Syaratnya sih gampang. Mukjizat! Coba ubah air jadi bensin! Biar kita tak miskin lagi.”

Anwar tak marah. Ia malah mengkhotbahkan “Pesimisme Terukur” di warung kopi. “Kita ini mesin rusak di pabrik semesta. Tapi mesin rusak pun bisa jadi seni instalasi!”

Dosen filsafat agama, Dr. Arifin, menantangnya berdebat. “Kau pikir jadi nabi itu mudah? Nabi Muhammad telah melakukan Isra Miraj, kau sudah pengalaman spiritual apa?”

Anwar menyodorkan setruk tiket bus Makassar-Palu. “Ini bukti perjalanan spiritual saya. Tiga ratus kilometer tanpa AC.”

Dr. Arifin menggeleng. “Kau bukan nabi. Kau cuma anak muda yang kebanyakan baca meme.”

Tapi Anwar sudah telanjur dianggap ikon kampus. Mahasiswa stres datang kepadanya untuk terapi. “Bagaimana cara move on dari pacar, Nabi?” tanya seorang cewek. Anwar menjawab, “Beli es krim. Lalu sadari bahwa es krim pun lebih setia. Ia meleleh, tapi tak pernah meninggalkan kamu buat mantan.”

***

Karier kenabiannya di kampus berakhir setelah ia didiagnosis skizofrenia. Karena itu, keluarganya yang sudah kewalahan, memondokkannya di rumah sakit jiwa. Di sana, Anwar punya teman baru seekor ayam bernama Lord Gagak.

Pagi ini Anwar berkokok kepada Lord Gagak yang terjemahan bebasnya sebagai berikut. “Lord, apa arti hidup?” tanya Anwar. Ayam itu mengais-ngais tanah, lalu menjawab dengan kokokan sumbang yang dimaknai Anwar sebagai berikut. “Hidup itu mencari biji, tapi yang kau temukan cuma plastik.”

Perawat Yuni, yang diam-diam bersimpati kepadanya, bertanya, “Kenapa kau tak pernah marah disebut gila?” Anwar tersenyum, “Yang menyebutku gila hanyalah orang-orang yang takut keluar dari kotak. Aku lebih memilih disebut sebagai nabi. Setidaknya ada yang nge-like khotbahku di sosmed. Orang-orang itulah yang memiliki kesadaran di alam bawah sadar.”

***

Pada akhirnya, Anwar tak pernah keluar dari rumah sakit jiwa karena keburu wafat. Setelah kematiannya, cerita-cerita absurd tentang Anwar menjadi legenda.

Seorang pedagang bakso di Palu bersumpah bahwa pohon jambu tempat Anwar mendapat pencerahan telah dikasih mantra “Pesimisme Terukur”. Saat influencer TikTok bertanya kepadanya bagaimana rasa jambunya, si tukang bakso berkata, “Biasa aja, sih. Tapi bikin nggak ngarep enak.”

Batu yang dulu diajak Anwar berbincang di SD, kini dianggap keramat. Sang guru agama, Haji Mansyur yang sudah pensiun, nekat memindahkannya, tapi kakinya malah keseleo. “Ini pasti ulah si Jibawi!” umpatnya.

Di kampus, mural Anwar digambar sedang memegang jambu dengan takarir “Nabi Palsu, Tapi Ilmunya Asli.”

Anna, kakak Anwar, suatu sore duduk di tepi sungai tempat adiknya dulu biasa berkhotbah kepada batu-batu. “Kamu kalah sama batu, War,” bisiknya. “Batu ini masih di sini. Kamu enggak.”

Tapi angin berbisik balik, membawa suara yang mirip Anwar. “Aku bukan pergi, Kak. Aku cuma di-refresh fungsinya. Alam diatur oleh hukum kekekalan energi. Aku tidak musnah, hanya berganti bentuk menjadi energi atau materi. Aku ada dalam pohon dan menjelma sebagai oksigen sebelum dihirup manusia lalu menjadi karbondioksida.”

Di Ujung Pandang Timur, pohon jambu itu masih berbuah. Ada yang manis, ada yang busuk. Seperti kata-kata Anwar, jambu itu mungkin tertelan, diludahkan, atau jadi benih, tetapi yang pasti, tersisa getahnya yang lengket, pahit, dan mengingatkan kita bahwa setiap nabi palsu–walaupun ilmunya asli—selalu meninggalkan jejak yang tak bisa dicuci angin.

Sleman, 12 Oktober 2024

Muh. Syahrul Padli
Latest posts by Muh. Syahrul Padli (see all)

Comments

  1. Storylover Reply

    Mantap banget bang ceritanya 👍👍

  2. augustine Reply

    baguss bangetttt

  3. Balangan 123 Reply

    baguss, dan lucu🤓

  4. Dina Reply

    Bagusss bgttt 😆

  5. gabee Reply

    kerennn sihhhhhh

  6. Ismail Reply

    Bagus banget

  7. LIORA Reply

    wah,konyol dan LUCUUUUUUUUUU

    • Fateema Cholis Reply

      Siapa yang waras sekarang? Wkwkkwk

  8. Galih Reply

    Bagusss dan banyak kayaknya yang gak sadar tentang satirenya wkw

  9. Brodi Reply

    Keren

  10. Abdi Reply

    cerpen yang filosofis

  11. dwiki Reply

    sangat menarik

  12. zoee Reply

    lucuu cerpennya, tapi kalau dibaca kesannya saya yang ga waras 🙁

  13. Hafid Reply

    Mengingatkanku pada gaya eka Kurniawan

  14. Rread One Reply

    asyikk jenaka namun pesan tersirat

Leave a Reply to Rread One Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!