Saya Berguru Kepada Penyembah Batu

rumahouse.com

KETIKA saya datang ke rumahnya, Guru Jabron tengah menghadap ke sebuah batu hitam besar yang terletak di ruangan tengah—saya kira itu lebih mirip sebagai ruang pemujaan. Asap setanggi mengepul tipis dari sebuah batang yang terbakar. Entah bagaimana caranya batu sebesar kerbau itu bisa masuk ke dalam rumahnya—saya pikir tentu harus menjebol mulut pintu atau dinding rumah terlebih dahulu. Saya pun mengintipnya dari kaca depan rumahnya yang tak tertutup gorden secara sempurna. Tadinya saya berpikir ia sedang memandangi batu besar. Saya panggil-panggil ia tak menyahut, pintu rumahnya diketuk-ketuk, tapi Guru Jabron tetap khusyuk tanpa terusik sedikit pun. Baru setelah beberapa menit kemudian tangannya disedekapkan ke dada lalu membungkuk-bungkuk mengangkat setanggi seperti orang menyembah. Terkejut sekali, bagaimana bisa bapak menyuruh saya belajar mengaji kepada seorang penyembah batu. Penyembah berhala.

1/

SUDAH hampir tiga tahun saya belajar mengaji pada Guru Jabron. Lelaki yang konon pernah menjadi guru di sekolah dasar itu adalah teman kecil bapak memang dikenal pandai membaca huruf-huruf hijaiah yang terdapat dalam kitab suci Alquran. Ia dipecat dari tempatnya mengajar karena terlalu sering membawa siswa-siswa belajar di luar lingkungan sekolah hingga sampai menjelang sore. Siswanya senang tetapi orang tuanya berang. Suaranya pun sangat merdu. Burung kenari miliknya di sangkar yang terbuat dari anyaman bambu buatan tangannya akan bersiul-siul menirukannya ketika mendengar Guru Jabron mengaji. Barangkali mirip kisah Daud bertasbih bersama kawanan burung membacakan mazmur.

“Apa sudah kaubaca bacaan Alquranmu hari ini?” tanya Guru Jabron menyambut kedatangan saya sore itu.

“Sudah, Guru,” jawab saya sambil mencium punggung tangannya.

Pertanyaan Guru Jabron memang tak pernah berubah saban hari. Katanya, ia tidak ingin saya belajar membaca padanya sebelum terlebih dahulu menyelesaikan tugas bacaan untuk pertemuan mengaji. Oleh karenanya usai belajar, ia akan memberi batasan surat atau ayat yang harus saya baca di rumah. Besok sorenya bacaan itulah yang akan ia dengarkan untuk dikoreksi jika ada kekeliruan.

Pernah pada suatu ketika saya tak mengindahkan tugas itu. Selama saya mengaji, ia tak memandang sama sekali. Sehingga bacaan saya tak dikoreksinya sama sekali.

“Apa besok bisa lanjut, Guru?” tanya saya seperti biasanya.

“Ulangi lagi, kamu tidak membacanya di rumah,” tukasnya.

Saya benar-benar menyesal. Entah kenapa hari itu merasa seperti kehilangan kasih dari Guru Jabron. Di rumah, saya baca berulang-ulang agar besok bisa lancar membacanya. Bapak dan Ibu hanya tersenyum senang mendengarnya.

Selain guru mengaji, Guru Jabron sebenarnya lebih tepat disebut guru kehidupan. Ia mengajarkan banyak hal yang tak saya dapat dari bangku sekolah. Membaca alam; hujan, gerimis, kemarau, dan kekeringan. Menurutnya hujan dan gerimis adalah tanda-tanda Tuhan sedang menghidupkan bumi. Sementara kemarau dan kekeringan adalah cara Tuhan mematikan kehidupan.

“Kautahu, hidup dan mati suatu keniscayaan,” ucapnya pada suatu ketika.

“Apa Guru Jabron percaya ada kehidupan setelah kematian?” tanya saya menyelidik. Sebenarnya ingin sekali saya tanyakan tentang batu di rumahnya, tapi saya tak berani. Takut menyinggung perasaannya, walau timbul juga pertanyaan di benak mengapa Guru Jabron yang pandai membaca dan mengajar Alquran justru menjadi penyembah batu?

“Tentu saja aku percaya adanya hari akhir, Falich.”

“Apa boleh saya bertanya, Guru?”

“Silakan?”

“Apa agama Guru? Maksud saya siapa yang disembah Guru?”

Guru Jabron tak terkejut. Mimik wajahnya tak berubah, cerah, dan semringah. Agak lama ia menatap saya. “Lain hari aku akan jawab pertanyaanmu.”

2/

KEDATANGAN saya belajar mengaji tak sepenuhnya untuk membaca Alquran. Sesekali Guru Jabron sebelum mengajari itu, ia akan mengajak saya berkeliling hutan, ladang, sawah, pantai, atau apa saja tempat yang menurutnya ada ilmu yang dapat didapatkan. Di sana, Guru Jabron akan mengajari saya membaca semesta, mendengarkan suara alam, menafsir kejadian dan pertanda dari sebuah keganjilan fisik maupun metafisik.

Pernah pada suatu hari saya dan Guru Jabron berjalan di tepi hutan menemukan anak anjing yang terpisah dari induknya. Anak anjing itu digendongnya dan dicarilah induknya untuk dikembalikan pada keluarganya. Namun sampai menjelang sore, tak ditemukan.

“Kita taruh saja di bawah pohon itu, Guru,” ucap saya dengan menahan letih berjalan kaki di dalam hutan.

Guru Jabron hanya tersenyum. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat saya terpana. “Apa kamu mau kutinggal di hutan ini sendiri?”

Saya pun terdiam. Dalam hati merasakan betapa Guru Jabron adalah pengasih. Takjub akan sikap Guru Jabron memperlakukan anak anjing itu dengan kasih. Dibawanya anak anjing itu ke rumahnya. Esoknya dicarilah induknya. Rupanya induk anjing pun kehilangan dan mencari-cari anaknya, ditungguinya tempat di mana kami menemukannya. Anak anjing itu dilepasnya dari gendongan, berlari menyongsong induk dan saudaranya yang lain.

3/

GURU Jabron tak salat tapi puasa. Maka ia tak pernah pergi ke musala atau masjid. Orang-orang di kampung menganggapnya kafir, gila, dan karenanya anak dan istrinya minggat. Tadinya saya sempat terpengaruh, tak mau lagi belajar mengaji padanya.

Bapak marah, ia mencubit pinggang saya dengan keras. Saya meringis bahkan menangis. Ibu tak dapat berkata apa-apa jika bapak muntab.

“Kamu belajar lagi, Nak!” kata Ibu sambil mengelus-elus rambut saya yang memerah terbakar matahari.

Bapak kemudian membawa saya kembali. Guru Jabron menyambut hangat teman lamanya seperti halnya keluarga sendiri. Agak lama keduanya berbincang. Sesekali tertawa berderai-derai. Saya hanya mengamati ruang pemujaannya. Batu besar itu menyita perhatianku.

“Nah, belajarlah, Nak! Guru Jabron ini orangnya baik, pandai, dan bisa dipercaya,” kata Bapak membuyarkan perhatian saya.

“Saya tak mau belajar mengaji pada Guru Jabron, Bapak. Di musala saja sama Ustaz Adi.”

Guru Jabron hanya diam tak berkata apa-apa. Namun wajahnya tak mengisyaratkan ia tersinggung atau marah.

“Tidak, Nak. Guru Jabron teman Bapak. Jadi Bapak tahu mana guru terbaik untuk mendidikmu,” ucap Bapak bersikeras.

Saya tahu Bapak ingin menjaga perasaan Guru Jabron yang dicabik perasaannya oleh anak kecil berusia 11 tahun ini. Matanya menyiratkan pesan marah sebenarnya, tapi ia tidak ingin terlihat kasar.

“Tak apa, Sam,” ucap Guru Jabron memanggil nama Bapak, Samani, hanya depannya saja, “biar anakmu Falich diberi kebebasan untuk memilih guru ngajinya.”

Bapak pulang dengan kesal. Lengan tangan saya dipegangnya kuat dengan langkah cepat agar segera sampai rumah. Saya pun berjalan seperti terseret-seret.

4/

GURU Jabron memandangku dari atas sampai bawah, dari kepala hingga kaki. Saya rasa ia bukan tak mengenali,  hanya ingin meyakinkan kalau sore itu saya kembali padanya.

“Saya kembali Guru, ingin belajar mengaji,” ucap saya sambil tertunduk.

“Ayolah Falich, tak apa, masuklah, tak usah sungkan,” ucapnya hangat.

Tadinya saya menduga akan mendapat penolakan sebagai balasan sikap saya kemarin, tapi rupanya keliru. Sejak itu saya pun mantap berguru padanya. Di ruangan tengah rumahnya, Guru Jabron bercerita banyak hal sampai menjelang sore. Tak ada belajar mengaji hari itu.

Saban sore di rumah Guru Jabron setelah waktu asar, saya belajar mengenal huruf hijaiah, mengeja turutan, dan membaca Alquran. Sekalipun Guru Jabron penyembah batu, tapi ia mengajariku adab sebelum membaca kitab suci—berwudu terlebih dulu, menutup aurat, membaca taawuz, dan basmalah.

Bapak dan Ibu senang mendengar cerita saya. Bagi keduanya, setelah saya dapat membaca Alquran, mereka tak khawatir lagi tentang masa depannya. Kelak ketika meninggal akan ada yang mendoakannya. Dan bukankah doa anak salih akan dikabulkan?

5/

PADA sore ini, Guru Jabron sengaja tak mengajak saya keluar. Ia memilih bercakap-cakap di dekat batu itu. Sebab, seperti janjinya pada waktu yang lalu ia akan menceritakan tentang rahasia batu itu sehingga disembahnya.

“Di sini, dulu adalah hutan lebat. Tak satu pun orang berani memasukinya. Tetapi ibuku dengan menggondol perutnya yang berusia sembilan bulan terpaksa berlindung di dalamnya. Ia mencari tempat untuk merebahkan tubuhnya. Perempuan malang itu diusir dari kampung halamannya karena hamil di luar nikah. Namun, dari keluarganya aku mendapat cerita jika Ibu selalu menolak jika ia telah berzina. Ia merasa masih suci dan selalu menjaga kehormatannya.”

Diam-diam pikiran saya menerawang ke dalam kisah Maryam saat akan melahirkan Isa. Apakah mungkin masih ada kisah-kisah semacam itu?

“Dan di atas batu ini ibuku melahirkanku lalu meninggal setelah menyelesaikan nifasnya. Setelah itu, aku ingin tumbuh dengan batu ini. Tinggal di dekatnya. Kemudian membangunkan sebuah rumah untuk aku mengenangnya.”

Mendengarnya saya tak mampu untuk menahan air mata di pelupuk agar tak jatuh. “Apakah benar kata orang-orang Guru penyembah batu? Penyembah berhala?”

“Tidak. Pada mulanya tidak. Aku beragama seperti kamu beragama. Aku syahadat, salat, mengaji, dan ibadah lainnya.”

“Lantas kenapa bisa Guru, maaf, murtad?”

Guru Jabron mendesah. Lalu menatap batu besar di sampingnya, mengelusnya, dan menepuk-nepuknya. ”Ini adalah pilihan. Aku biarkanlah menjadi penyembah batu. Penyembah berhala.”

6/

SAYA telah beranjak dewasa, sudah bekerja, dan tinggal di lain kota. Guru Jabron seminggu yang lalu telah meninggal dunia. Menurut cerita warga, lelaki yang hidup sendiri di rumah berisi batu besar itu ditemukan tak bernapas dalam keadaan membusuk. Mungkin telah meninggal dua atau tiga hari. Ahli forensik menyebut, tak ada bekas penganiayaan atau sejenisnya. Guru Jabron pergi dalam keadaan sunyi tanpa ada anak dan istrinya.

Saat mendengar berita kematiannya, saya bergegas ke rumahnya. Tubuh Guru Jabron dibaringkan di lantai. Namun saya tersentak, karena tak ada batu besar itu lagi. Siapakah yang telah memindahkannya? Tapi ke mana? Di mana? Tak satu pun tanda batu itu dipindahkan.

Bapak yang juga hadir melayat teman kecilnya itu memberi isyarat agar saya tak membicarakan batu itu kepada siapa pun. Tutupilah aib seseorang semampumu dari pembicaraan orang-orang, katanya. Saya pun mengangguk. []

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal

Lahir dan tinggal di Desa Parean Girang Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI).
Faris Al Faisal

Latest posts by Faris Al Faisal (see all)

Comments

  1. Andris Susanto Reply

    Keren…

  2. Yuni Bint Saniro Reply

    Membacanya tidak membuat bosan. Yuni sanggup baca sampai akhir kalimat.

  3. Sari Reply

    Lumayan😅

  4. niLLa Reply

    Jadi teman Jabron yang sembunyikan batunya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.