Syaikh Abu al-‘Abbas as-Syaqani

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad Abu al-‘Abbas asy-Syaqani, seorang sufi yang memiliki berbagai macam leilmuan di dalam dirinya: di dalam ilmu-ilmu ushul dan furu’, keduanya sama-sama mendalam. Beliau juga merupakan seorang imam, lahir dan batin, pada zamannya.

Beliau juga telah menyaksikan para sufi, beliau juga merupakan salah satu sufi agung di zamannya. Menjadi salah seorang sufi agung itu, sungguh bukan merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Bukan prioritas manusia, tapi mutlak hanya bisa dilakukan oleh Allah Ta’ala.

Seorang penulis kitab terkenal, Kasyf al-Mahjub, Syaikh al-Hujwiri, pernah menyatakan bahwa beliau memiliki kecintaan yang sangat agung kepada Syaikh Abu al-‘Abbas asy-Syaqani. Sementara beliau memiliki cinta yang sangat jujur dan mendalam kepada Syaikh al-Hujwiri.

Di dalam sebagian ilmu, Syaikh Abu al-‘Abbas asy-Syaqani merupakan guru bagi Syaikh al-Hujwiri. “Dan aku tidak pernah melihat jenis manusia yang lebih mengagungkan kepada syari’at ketimbang beliau,” tulis Syaikh al-Hujwiri. Betul-betul polos di dalam memberikan penilaian.

Beliau juga pernah menginginkan dan berdoa kepada Allah Ta’ala: “Ya, Allah, aku sangat menginginkan untuk menjadi tiada, dan tidak kembali lagi untuk menjadi ada,” pintanya kepada hadiratNya. Lantas, dikabulkan oleh Allah doanya itu? Tidak. Sebab, dengan mengabulkan doa seperti itu berarti mengajari orang tak bersyukur.

Kenapa beliau mohon untuk tidak ada? Karena setiap karomah, kejadian luar biasa yang terjadi pada para wali, sesungguhnya tidak lain merupakan hijab, tedeng aling-aling yang membatasi dirinya dengan Allah Ta’ala.  Demikian juga dengan maqamat, tingkatan-tingkatan kedudukan di hadapan hadiratNya.

Sedangkan manusia senang terhadap hijabnya. Maka, tidak ada itu lebih bagus daripada hijab, lebih baik daripada senang kepada ini dan itu. Sementara Allah Ta’ala wujud selamanya, mustahil tidak ada. Karena itu, tak mungkin alam raya ini tersentuh oleh kemudharatan dan kekurangan kalau “aku tiada.”

Di dalam Kitab Kasy al-Mahjub juga tertulis: “Pada suatu hari,” kata Syaikh al-Hujwiri, “saya datang ke rumah Syaikh Abu al-‘Abbas asy-Syaqani untuk menjumpai beliau. Beliau membaca surat an-Nahl ayat tujuh puluh lima. Beliau menangis dan menjerit-jarit. Aku mengira bahwa roh beliau sudah keluar.”

Syaikh al-Hujwiri berkata: “Wahai Syaikh, kondisi apa ini?” Beliau menjawab: “Sudah sebelas tahun ngajiku baru sampai di sini. Aku sama sekali tidak bisa melanjutkan.” Konon seperti zaman sahabat dulu, mereka jarang sekali bisa khatam Qur’an. Sebab, mereka sering merenungi apa yang mereka baca.

Ketika mereka baca tentang surga dan segala kenikmatan, mereka merenungi hal itu, merenungi terus, hingga kegembiraan mereka meluap-luap. Demikian pula ketika mereka membaca tentang ayat-ayat neraka dan kepedihan yang menyala, mereka gak bisa tidur karena itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!