Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna

Beliau adalah ‘Ali bin al-Mutsanna. Cuma sesingkat itu namanya. Tidak ada satu kata pun, baik di depan maupun di belakang namanya. Di dalam setiap namanya, dalam kitab-kitab thabaqat yang ada pada diri saya, baik mulai dari yang tipis sampai yang tebal, tidak ada kata yang lain.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair pernah mengatakan bahwa ketika dia masih remaja, dia bertamu kepada seorang syaikh yang dikenal memiliki kehebatan dan keutamaan. Syaikh itu sudah sangat tua dan disegani. Kemudian terjadi pembicaraan di antara keduanya.

“Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna bersahabat dengan Syaikh Abubakar asy-Syibli, padahal jarak umur di antara keduanya sangat jauh. Sementara Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna masih sangat muda, sedangkan Syaikh Abubakar asy-Syibli sudah sangat tua,” kata syaikh yang sudah tua itu.

“Tapi di antara keduanya saling menyegani, juga saling menghormati,” sambungnya lagi. Kalau ada dua orang yang saling menyegani dan saling menghormati, bukan karena dua orang itu sama-sama tua, tapi karena keduanya memiliki posisi yang unggul di hadapan Allah Ta’ala.

Bahkan ada, yang lebih tua sangat menghormati yang lebih muda. Kenapa demikian? Karena yang lebih muda itu lebih memiliki derajat di hadapan hadiratNya. Kenapa lebih memiliki derajat? Karena jelas bahwa dia lebih bertakwa kepada Allah Ta’ala ketimbang yang lebih tua itu.

Bahkan, KH. Jazuli Usman, orang tua dari Gus Miek, berbahasa Jawa yang halus kepada Gus Miek. Kenapa? Padahal gak pernah dilakukan kepada saudara Gus Miek yang lain. Karena secara rohani, Gus Miek itu lebih tua ketimbang bapaknya sendiri. Bahkan, Gus Miek itu sudah menjadi waliyullah, menjadi kekasih Allah Ta’ala semenjak dalam kandungan ibunya.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair pernah menceritakan bahwa pada sutra hari ada seorang sufi berada di sisinya. Dia mengatakan: “Bertanyalah kepada Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna tentang Syaikh Abubakar asy-Syibli mengenai sebuah hadis.” Kata orang itu dengan sangat yakin.

“Wahai Syaikh,” kata Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair, “tolong engkau berbicara kepadaku tentang Syaikh Abubakar asy-Syibli.” Mendapatkan pertanyaan seperti itu, beliau menjawab: “Kenapa kau tidak bertanya pertama kali tentang Nabi Muhammad Saw kepadaku?”

Akhirnya, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bertanya tentang keduanya, tentang Nabi Muhammad Saw dan Syaikh Abubakar asy-Syibli. Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna menjawab: “Nabi Muhammad Saw: Jika tidak turun kepada umatku satu surat kecuali Surat al-Kahfi, maka itu sudah sempurna.”

Dituturkan oleh Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bahwa beliau pernah mendengarkan Syaikh Abu al-Hasan bin al-Mutsanna berkata: “Aku berada di masjid jami di Baghdad, di majelis Syaikh Abubakar asy-Syibli. Ada seorang sufi masuk dan bertanya: ‘Wahai Syaikh, apakah washl?'”

Mendengar pertanyaan seperti itu, beliau menoleh kepada orang yang bertanya itu. Kemudian beliau bilang: “Berdiri puncak tertinggi di hadapanmu, maka kemudian kau terhijab dari Allah Ta’ala.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah puncak tertinggi itu?” Dijawab oleh beliau bahwa itu tak lain adalah dunia dan akhirat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!