
Beliau adalah Jibal bin Ahmad, seorang pemimpin spiritual yang sangat asketik terhadap harta benda dunia. Beliau bermazhab Hanbali, mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal di dalam ilmu fikih. Beliau senantiasa memberikan nasehat kepada kaumnya di Tirmidz. Hadir pada acara pengajian beliau, di antaranya, Nabi Khidhir ‘Alaihissalam.
Beliau adalah seorang sufi yang terbaik kondisi rohaninya, paling cemerlang spiritualitasnya, menjadi panutan kaumnya yang paling cemerlang. Beliau adalah orang yang paling bergairah rohaninya pada saat itu. Beliau adalah santri dari Syaikh Muhammad bin Hamid Wasyikurdi dan Syaikh Abubakar al-Warraq.
Beliau adalah mahaguru dari sufinya sufi di saat itu, Syaikh al-Khujah ‘Abdullah al-Anshari. Beliau memiliki kata-kata indah yang tidak terhitung jumlahnya, hikayat-hikayat yang sangat bagus dalam perkara mu’amalah. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat asketik terhadap dunia, wara’ dan taqwa.
Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam bahwa Syaikh Abu al-Muzhaffar at-Tirmidzi dan gurunya, Syaikh Muhammad bin Hamid, tidak berani mengusir seekor lalat dari badan mereka. Hal itu diwarisi oleh mereka dari guru mereka, Syaikh Abubakar al-Warraq at-Tirmidzi.
Tentu bukan merupakan hal yang kebetulan kalau perilaku mereka sama dalam hal tidak mengusir lalat dari badan mereka. Bukankah lalat itu hinggap di badan-badan mereka semata karena mereka bau? Ya, pasti mereka bau sehingga badan mereka dihinggapi lalat. Kalau tak bau, untuk apa lalat-lalat hinggap?
Menurut Syaikh ‘Abdulqadir al-Jailani yang badan dan bajunya tidak pernah dihinggapi lalat, lalat-lalat itu hinggap pada diri seseorang yang badannya bau gula dunia dan madu akhirat. Dan keduanya sama-sama tidak ada pada diri seorang sufi dari Jailan itu. Karena itu, lalat-lalat tidak mau hinggap pada dirinya. Wow, sungguh menakjubkan.
Dalam kaitannya dengan hal ini, mereka sama dengan Nabi Muhammad Saw, sama-sama tidak dihinggapi lalat. Jelas bahwa Nabi Muhammad Saw tidak memiliki kegandrungan kepada harta benda duniawi, demikian pula mereka: yang menjadi kegandrungan mereka satu-satunya adalah Allah Ta’ala.
Syaikh Abubakar al-Warraq mengatakan bahwa apabila umat Islam berada di sebuah majelis, tidak pantas bagi mereka untuk mengusir lalat-lalat itu. Kenapa? Tidak lain karena lalat-lalat itu hinggap pada seseorang. Kalau lalat-lalat itu diusir oleh seseorang, bukankah mereka akan hinggap pada orang lain?
Dan membiarkan lalat-lalat hinggap pada orang lain, bukankah seseorang berarti telah melakukan dosa? Ya, berarti dia telah melakukan dosa. Memang cuma dosa kecil. Tapi ketika berhadapan dengan keadilan Allah Ta’ala, bukankah dosa kecil itu juga merupakan suatu persoalan.
Tidak ada dosa kecil ketika berhadapan dengan keadilan Allah Ta’ala. Sebagaimana tidak ada dosa besar ketika berhadapan dengan karunia dari hadiratNya. Betapa penting kita berbaik sangka kepada hadiratNya. Betapa ampunanNya sangat luas, lebih luas ketimbang apa pun. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Mu’min asy-Syirazi & Syaikh Abu Ishaq asy-Syami - 24 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku #2 - 17 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026

