Syaikh Abu Hamzah al-Baghdadi

thesufidotcom.tumblr.com

 

Beliau adalah Muhammad bin Ibrahim Abu Hamzah al-Baghdadi. Segenerasi dan bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati dan Syaikh Bisyr al-Hafi. Pernah menempuh tirakat jalan bersama Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi, Syaikh Abu Bakar al-Kattani, Syaikh Khayr an-Nassaj, dan lain sebagainya. Beliau wafat sebelum Syaikh Junaid al-Baghdadi dan setelah Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz pada tahun 289 Hijriah.

Tafakur atau merenung tentang keindahan dan keagungan Allah Ta’ala merupakan jalan rohani yang senantiasa ditekuni oleh beliau. Tentu saja aktivitas itu tidak hanya berkaitan dengan olah pikir semata yang akan melahirkan timbunan ilmu pengetahuan belaka, tapi terutama diaksentuasikan pada adanya persentuhan spiritual melalui kepekaan lidah rohani terhadap berbagai macam dimensi kemahaan hadiratNya.

Hasil dari aktivitas spiritual yang berupa tafakur itu minimal ada dua. Pertama, semakin tajam dan cemerlangnya akal spiritual yang akan selalu mengantarkan pelakunya pada kesanggupan untuk mengarungi samudera rahasia keilahian sebagaimana yang banyak dialami oleh para sufi. Rasa takjub yang tidak kepalang terhadap kemahaan Allah Ta’ala akan senantiasa menggelayuti orang-orang yang menempuh dan menyusuri lorong rohani ini.

Kedua, semakin “terkikisnya” diri orang yang menekuni jalur riyadhah itu. Artinya adalah bahwa salik yang senantiasa menempuh lorong tafakur keilahian itu akan terus dan semakin tersedot oleh pukauan hadiratNya. Pada saat yang bersamaan, dia akan semakin “meninggalkan” dirinya. Ibarat orang yang berlari ke arah barat, pasti semakin lama dia akan menjadi semakin jauh dari timur. Itulah hakikat perjalanan dari diri seorang salik menuju kepada Allah Ta’ala.

Pada suatu hari di Baghdad, dalam kondisi berdiri beliau pernah menyelami samudera renungan keilahian, lantas beliau “lenyap” dari dirinya sendiri. Setelah sekian lama, beliau baru sadar dan mendapatkan dirinya berada di bawah sebuah menara yang dibangun untuk para musafir. Dan tidak tanggung-tanggung. Menara itu berada di sebuah lembah di pedalaman yang jaraknya sangat jauh dari Baghdad, tempat di mana beliau mulai ‚Äútidak sadar” diri.

Di jalur renungan keilahian seperti itu, ada yang mengalaminya selama tiga belas hari sebagaimana yang telah dijalani oleh Syaikh ‘Ali as-Saqqa’. Ada yang mengalaminya selama tiga tahun sebagaimana yang pernah dijalani oleh Mbah Malik, Kedung Paruk, Purwokerto. Bahkan ada yang mengalaminya selama seumur hidup sebagaimana yang telah dijalani oleh orang-orang yang secara totalitas dianugerahi kejadzaban atau rasa tertarik sangat kuat sehingga mereka dirundung mabuk yang akut terhadap hadiratNya.

Dunia keterpukauan secara spiritual kepada Allah Ta’ala itu bukanlah merupakan sesuatu yang ringan. Itu berat. Bahkan terlampau berat untuk dialami oleh orang kebanyakan. Bagaimana mungkin tidak berat, yang terjadi di situ adalah keberlangsungan yang fana menampung Yang Abadi, yang nisbi menampung Yang Mutlak, yang kocar-kacir oleh waktu menampung Yang Tidak Pernah Berubah.

Dalam keadaan sangat berat menanggung “kehadiran” hadiratNya itu, lalai merupakan salah satu bentuk hiburan, merupakan suatu jeda untuk bisa bernapas dengan agak leluasa, merupakan cara untuk mempertahankan diri agar tetap bisa survive. Karena itulah kemudian Syaikh Abu Hamzah al-Baghdadi mengatakan bahwa andaikan tidak ada lalai, maka orang-orang yang sangat dahsyat dalam berpegang teguh kepada Allah Ta’ala akan mengalami kematian disebabkan oleh roh dzikir kepada hadiratNya.

Karena itu, dapat diafirmasi dan dibenarkan ketika Syaikh ‘Abdurrahim al-Isthakhri, sufi yang mengikuti Thariqah Malamatiyyah yang senantiasa menyembunyikan identitas rohani dirinya, datang ke padang pasir untuk bermain-main dengan kawanan anjing. Tujuannya adalah agar walaupun sejenak beliau bisa menikmati jeda dari beratnya menanggung “kehadiran” Allah Ta’ala.

Lantaran itu pula, Syaikh Abu Hamzah al-Baghdadi pernah berkeluh-kesah dengan menyatakan: “Siapa yang sanggup membuatku sibuk dengan yang lain, sejenak saja, sehingga aku bisa beristirahat dari beratnya menanggung kehadiran hadiratNya, maka aku akan mendoakan agar dia diampuni dosa-dosanya oleh Allah Ta’ala.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.