Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz

pinterest.com

 

Beliau adalah Ahmad bin ‘Isa Abu Sa’id al-Kharraz. Berasal dari Baghdad. Termasuk salah satu murid dari Syaikh Muhammad bin Manshur ath-Thusi. Beliau bersahabat dengan Syaikh Dzun Nun al-Mishri, Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri, Syaikh Sari as-Saqati, Syaikh Bisyr al-Hafi, dan lain sebagainya. Beliau wafat sebelum Syaikh Junaid al-Baghdadi, pada tahun 286 Hijriah.

Istilah “al-Kharraz” itu merupakan sebuah julukan yang artinya adalah bahwa beliau seorang penjahit dalam pengertiannya secara harfiah. Dan pekerjaan menjahit itu dijadikan sebagai sarana tirakat oleh beliau untuk mengolah spiritualitas agar mendapatkan posisi rohani yang anggun dan mulia di hadapan Allah Ta’ala.

Pada suatu hari, orang-orang di sekitarnya menyaksikan beliau menjahit sepatu. Setelah rampung dijahit, sepatu tadi kemudian dirobek kembali. Dijahit lagi dan dirobek kembali. Demikianlah hal itu terus berulang-ulang. Ketika ditanya oleh mereka kenapa hal itu dilakukan, beliau menjawab dengan jujur dan tegas: “Aku membuat sibuk nafsuku sebelum ia membuatku sibuk.”

Jadi jelas bahwa menjahit yang beliau tekuni merupakan siasat spiritual untuk membersihkan dan mencemerlangkan batin dan perilakunya. Sehingga pada akhirnya, lewat ketekunan menjahit itu, Allah Ta’ala menganugerahkan hati kepada beliau yang senantiasa tersambung dengan hadiratNya. Sampai-sampai beliau tidaklah menusukkan jarum ke sebuah kain yang sedang digarapnya kecuali bersamaan dengan hatinya yang tawajjuh kepada Allah Ta’ala. Tidak ada lalai sedikit pun yang menghinggapi hati beliau di dalam aktivitas menjahit tersebut. Dan hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Betapa sangat berat tirakat spiritual yang ditekuni oleh beliau. Sampai-sampai seorang sufi tangguh yang namanya menjadi jalur dari berbagai macam tarekat, Syaikh Junaid al-Baghdadi, mengatakan dengan tegas tentang betapa tidak ringannya tirakat rohani yang ditempuh beliau: “Andaikan kita ‘mencari’ Allah Ta’ala sebagaimana kesungguhan yang ditekuni oleh Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz, maka kita akan hancur.”

Konsentrasi rohani beliau terhadap hadiratNya adalah fokus yang sangat gagah sekaligus kukuh. Bayangkan, beliau berkisah: “Di awal mula aku menekuni kesungguhan di jalan rohani, aku suntuk menjaga batinku dan menjaga waktu yang aku susuri agar tidak ‘terlepas’ dari Allah Ta’ala. Pada suatu hari, aku mengarungi padang sahara di Mosul. Aku mendengar suara yang datang dari belakang. Aku tidak menoleh hingga suara itu dekat kepadaku. Ketika kulihat, ternyata ada dua binatang buas yang sangat besar. Keduanya lalu naik ke pundakku. Dan tidak kuhiraukan sama sekali, baik ketika keduanya naik maupun ketika turun dari pundakku.”

Baik realitas spiritualnya yang ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan tindakan maupun kecemerlangan ilmunya yang ditunjukkan dengan kata-kata dan berbagai penjelasan, beliau betul-betul telah mencapai puncak rohani di kalangan para wali dan sufi di zamannya. Syaikh al-Murta’isy memberikan sebuah kesaksian tentang beliau: “Pembicaraan seluruh makhluk tentang hakikat merupakan suatu ‘maksiat’ jika dibandingkan dengan keterangan-keterangan Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz.”

Bahkan Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam menyatakan dengan tegas tentang kedudukan rohani beliau: “Hampir saja Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz itu menjadi seorang nabi kalau dilihat dari sisi derajatnya yang sangat tinggi. Beliau adalah seorang imam agung di jalan kerohanian.”

Sungguh, saya yang bukan siapa-siapa di jalan panjang keilahian ini, sangat kagum terhadap karunia rohani yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada beliau. Betapa tidak, dengan tegas beliau mengatakan: “Aku tidak pernah merasa gembira mendapatkan berbagai karunia dari Allah Ta’ala, selamanya.” Artinya adalah bahwa kegembiraan beliau itu hanya satu. Yaitu, ketika beliau mendapatkan hadiratNya secara langsung, bukan ketika mendapatkan karunia-karunia yang datang dariNya.

Betapa pun surga itu sangat menggiurkan dan telah menjadi pemicu yang halal dan berkah bagi orang-orang beriman untuk beramal saleh, baik secara transendental maupun secara horizontal, tempat balasan untuk orang-orang beriman di akhirat kelak itu sungguh tidak memiliki daya pukau apa pun untuk menarik perhatian dan minat beliau. Satu-satunya keterpukauan beliau hanyalah semata tertuju kepada Allah Ta’ala. Sebuah keterpukauan yang sangat memesona. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.