Syaikh Abu Sa’id bin Abi Al-Khair #10

Orang+orang berkata kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bahwa fulan bin fulan terbang di udara. Beliau memberikan tanggapan dengan sangat santai bahwa hal itu merupakan hal yang mudah. “Lihatlah burung gagak dan lalat, keduanya juga terbang di udara,” kata beliau.

Mereka juga mengatakan kepada beliau bahwa fulan bin falan terbang dalam sekejap mata dari negeri yang ada timur menuju negeri yang ada di barat. Beliau pun menanggapi mereka dengan sangat santai. Itu merupakan sesuatu yang sangat mudah. “Setan dalam satu tarikan napas terbang dari barat ke timur,” kata beliau.

“Yang lebih mencengangkan dan saya acungi jempol adalah orang yang berbaur dengan makhluk yang lain, membeli sesuatu, menjual sesuatu, menikah, punya anak, dan tidak lupa sedikit pun kepada Allah Ta’ala. Itu yang betul-betul membuatku kagum,” kata beliau lagi.

Orang-orang bertanya lagi kepada beliau tentang apa itu tasawuf? Beliau memberikan jawaban begini: “Letakkan apa pun yang akan terjadi di kepalamu. Berikan apa pun yang akan terjadi di genggamanmu. Sedangkan sesuatu yang sudah terjadi pada dirimu kau tidak akan merasa gundah karenanya.”

Artinya apa? Sesuatu yang akan terjadi pada diri kita tidak akan menyakitkan, kecuali kalau kita telah melakukan kecerobohan sebelumnya. Karena itu, letakkan hal tersebut di kepala kita untuk kita renungkan. Sedangkan sesuatu yang akan terjadi kita letakkan di genggaman tangan kita. Untuk apa? Untuk kita mensyukuri hal itu kepada Allah Ta’ala.

Sementara sesuatu yang akan terjadi pada diri kita tidak akan menyakiti kita. Kalau sampai menyakiti kita, pastilah Allah Ta’ala telah menyiapkan gantinya dengan sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih bermakna ketimbang hanya penderitaan itu. Itu artinya Allah Ta’ala ingin memberikan anugerah kepada kita lewat penderitaan.

Itulah sebabnya, orang-orang yang berjiwa besar dari kalangan para nabi dan wali tidak pernah mundur dari penderitaan yang diberikan oleh hadiratNya. Kenapa? Karena mereka tahu dengan pasti bahwa di balik penderitaan-penderitaan itu pastilah tersimpan anugerah-anugerah yang sangat agung.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diam saja ketika orang-orang yang tidak mengerti Allah itu melemparkan beliau ke tengah kobaran api. Ternyata di tengah kobaran api itu keberpihakan beliau pada hadiratNya makin nyata ketika Malaikat Jibril menawarkan diri untuk memberikan pertolongan pada beliau.

“Permisi, apakah engkau butuh pertolongan?” tanya Malaikat Jibril kepada beliau. Orang yang ada di tengah kobaran api kan mesti butuh pertolongan. Apalagi pertolongan itu sampai ditawarkan seperti itu. Tapi apa jawab beliau? “Kalau kepadamu, sama sekali aku tidak butuh pertolongan. Tapi kalau kepada Allah, ya,” jawab beliau.

Makin dekat seseorang kepada Allah Ta’ala, semakin kurang adanya perantara. Betul kata Maulana Rumi dalam sebuah puisinya bahwa orang yang kedudukan rohaninya adalah berpelukan dengan tuan rumah, untuk apa dia menunggu di luar pintu gerbang. Langsung saja masuk rumah dan berpelukan dengan tuan rumahnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Raikah zakiah Reply

    I want to follow this competition

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!