
Berkata Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bahwa pernah pada suatu hari masuk seorang pemuda kepada Syaikh Dad. Dia berkata: “Coba Syaikh, engkau berbicara kepadaku.” Syaikh Dad diam saja. Beliau menundukkan kepalanya. Beliau merenung tentang keagungan Allah, tentang keindahan hadiratNya.
Tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan merespon pemuda itu: “Kau menginginkan jawaban?” Pemuda itu menjawab: “Ya.” “Tentang apa pun selain Allah Ta’ala, aku tidak berhak untuk mengatakan semua itu. Dan apa pun tentang hadiratNya, tidak bisa dikatakan dengan ungkapan,” kata Syaikh Dad.
Tapi pasti bahwa Allah Ta’ala itu disifati dengan sifat-sifat tertentu dan pasti pula bahwa hadiratNya itu banyak disebut dalam dzikir orang-orang yang merindukanNya. Tidak mungkin tidak. Bagaimana mungkin mereka yang telah merindukan Dia kok tidak menyebutNya?
Seorang sufi suatu saat datang untuk mengabdi kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair. Setelah mengabdi, dia hendak pergi ke Baghdad. Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan kepada orang itu: “Apabila engkau telah masuk Baghdad dan orang-orang di situ bertanya kepadamu: apa yang kau lihat? Apa yang kau peroleh? Terus, apa jawabanmu?”
“Kau akan mengatakan bahwa aku telah melihat wajahnya, aku juga telah melihat jenggotnya. Begitu kau akan mengatakan?” Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berkata: “Di hadapan orang yang mengerti bahasa Arab, hendaknya engkau membaca bait-bait berikut ini:
Khurasan telah melahirkan seorang yang tidak ada duanya dalam perkara ketampanan. Kukatakan janganlah kalian mengingkari kebaikan-kebaikannya. Terbitnya matahari tidak lain dari Khurasan.” Bait-bait itulah yang mesti kepada mereka yang mengerti bahasa Arab.
Sedangkan kepada orang-orang yang tidak mengerti bahasa Arab, bacalah bait ruba’i berikut ini: “Keberadaan surga telah berdandan dengan berbagai keindahan lantaran engkau. Sedangkan sesuatu yang disebut abadi bagi kami, yaitu kenikmatan, air yang begitu deras mengalir, lukisan-lukisan China, dan pekerjaan bagi orang-orang Iraq:
Semuanya telah diberkati. Semua itu berasal-usul darimu, tidak diragukan lagi.” Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bertanya kepada Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq: “Apakah pembicaraan ini akan terjadi selamanya?” Beliau menjawab: “Tidak.” Syaikh Abu Sa’id menundukkan kepalanya dan bertanya lagi: “Apakah pembicaraan ini abadi?”
Beliau memberikan jawaban: “Jika pembicaraan itu abadi, maka itu termasuk salah satu yang jarang terjadi.” Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair lantas bertepuk tangan dan mengatakan: “Semoga ini termasuk salah satu yang jarang terjadi.” Amin ya Mujibassailin.
Pada malam Jum’at setelah melakukan shalat malam, pada tanggal empat Sya’ban tahun empat ratus empat puluh Hijriah beliau menghembuskan napasnya yang terakhir. Umur beliau adalah seribu bulan persis, atau sekitar delapan puluh tiga tahun. Semoga Allah memberikan berkah kepada kita lewat beliau. Amin amin amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi - 30 January 2026
- SYAIKH ABU SAHL ASH-SHU’LUKI - 23 January 2026
- SYAIKH HUSIN BIN MUHAMMAD AS-SULLAMI - 16 January 2026
