Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’

Nama beliau adalah sebagaimana judul di atas, persis. Saya tidak menemukan data yang mencatat tahun kelahiran dan wafatnya. Juga tidak mendapatkan data yang menyebut tempat kelahirannya. Tapi jelas bahwa beliau wafat di Mekkah. Dan beliau segenerasi dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Bahkan di antara keduanya pernah saling berkirim surat.

Tentang gambaran mengenai keagungan spiritualitasnya, Syaikh Abu al-Hasan al-Muzayyin pernah menuturkan kisah berikut ini sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif: “Pada suatu hari, aku sampai di Mekkah. Pada waktu itu, Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’ hampir saja menghembuskan napasnya yang terakhir, akan meninggalkan dunia fana yang sering gaduh ini.

Saat itu, aku langsung mendatangi beliau. Orang-orang di situ berkata kepadaku, ‘Kalau beliau nanti menoleh kepadamu, maka bacakan kalimat syahadat kepadanya.’ Aku merasa mereka “menipuku”. Karena saat itu aku masih kecil.

Setelah aku duduk di sisi Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’, beliau memandang kepadaku. Lantas, seketika aku katakan, ‘Wahai Syaikh, asyhadu an lailaha illalLah.’ Beliau merespons, ‘Kau bacakan syahadat untukku? Demi kemuliaan Tuhan yang tidak tersentuh oleh kematian, tidaklah ada batas antara diriku dengan hadirat-Nya selain hijab keagungan’.”

Di kemudian hari, ketika sudah dewasa, Syaikh Abu al-Hasan al-Muzayyin baru menyadari kelancangannya di hadapan Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’. Beliau bergumam: “Seorang pembohong sepertiku telah bersikap lancang dengan membacakan syahadat pada seorang pecinta hadirat-Nya.”

Seorang pecinta Allah Ta’ala. Siapakah sesungguhnya dia? Dalam konteks kisah di atas, tentu saja yang dimaksud tidak lain adalah Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’. Tapi definisinya secara umum adalah siapa pun yang cintanya kepada hadirat-Nya sudah sedemikian sublim sehingga cinta transendental tersebut bisa dikatakan telah mendarah-daging bagi dirinya.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa kalimat syahadat pastilah bukan merupakan hal yang artifisial belaka bagi dirinya, sama sekali bukanlah tempelan yang mudah lenyap oleh berbagai hembusan angin persoalan di dalam kehidupan.

Bahkan sebaliknya. Yaitu, bahwa setiap gerak-gerik, keputusan dan perilaku seorang pecinta Ilahi tak lain adalah syahadat yang “nyata.” Berbagai episode kehidupannya merupakan rangkaian syahadat demi syahadat yang telah sampai pada kedudukan penafian apa pun, termasuk dirinya sendiri, selain Allah Ta’ala.

Itulah sebabnya kenapa Syaikh Abu Ya’qub al-Aqtha’ dengan tegas menyatakan bahwa tidaklah ada batas antara dirinya dengan Allah Ta’ala selain hijab keagungan. Dan apa yang disebut sebagai hijab keagungan itu tidak lain adalah Dzat hadirat-Nya itu sendiri yang tidak mungkin untuk betul-betul terpahami. Siapa pun pasti terkulai di hadapan kemutlakan Dzat Allah Ta’ala.

Barang siapa telah mendapatkan anugerah berupa hakikat syahadat, maka berarti dia telah mendapatkan hadirat-Nya itu sendiri. Itulah syahadat kenyataan. Itulah pula kenyataan syahadat yang sebenarnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.