Syaikh Ruwaim al-Baghdadi

Whirling Dervish by Faruk Koksal

 

Beliau adalah Ruwaim bin Ahmad bin Yazid bin Ruwaim Abu Muhammad. Beliau masih keturunan Ruwaim al-Mahin yang meriwayatkan bacaan Qur’an dari jalur Imam Nafi’. Termasuk sufi agung di Baghdad. Di bidang fikih, beliau mengikuti madzhab Imam Dawud al-Ashfihani. Beliau sezaman dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi.

Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi memberikan testimoni, sebagaimana dikutip oleh Mulla ‘Abdurahman al-Jami, tentang beliau dengan mengatakan: “Syaikh Ruwaim mengaku sebagai murid sekaligus sahabat Syaikh Junaid al-Baghdadi. Tapi beliau sebenarnya lebih utama ketimbang Syaikh Junaid. Bagi saya, sehelai rambut dari Syaikh Ruwaim lebih utama dibandingkan 100 Syaikh Junaid.”

Bahkan bagi Syaikh Junaid al-Baghdadi sendiri, Syaikh Ruwaim jauh lebih unggul daripada dirinya. Beliau menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang senggang tapi sibuk. Sedangkan Syaikh Ruwaim adalah kebalikannya. Yaitu, orang yang sibuk tapi senggang. Artinya adalah bahwa kalau Syaikh Junaid itu lahiriahnya santai, batiniah beliau sebenarnya sibuk, mungkin sedang repot mengurusi spiritualitasnya sendiri, atau repot mengurusi umat. Sementara Syaikh Ruwaim, walaupun lahiriahnya sibuk dengan urusan duniawi dan mendidik anak-anak, batiniah beliau tenteram bersanding dengan Allah Ta’ala.

Betapa jernih dan tenteram jiwa Syaikh Ruwaim al-Baghdadi, berada di “ruang” tersendiri dengan hadiratNya, tidak terganggu oleh berbagai peristiwa segala yang fana yang senantiasa berlangsung di sekitar kehidupannya, baik peristiwa itu merupakan sesuatu yang menggembirakan maupun yang menyedihkan. Keduanya bisa dengan sangat leluasa datang dan pergi tanpa meninggalkan ekses sedikit pun pada jiwa beliau.

Sungguh kekuatan spiritualitasnya jauh lebih kukuh dibandingkan dengan gunung-gemunung yang menancap teramat gagah di bumi. Dan kekukuhan rohani beliau itu kemudian terejawantahkan dengan adanya ungkapan-ungkapan ketauhidan yang sangat fasih dan indah. Sehingga seorang sufi yang lain, Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif, memberikan kesaksiannya tentang hal tersebut dengan sangat meyakinkan sebagaimana pernyataan beliau berikut ini: “Tidaklah aku menyaksikan seorang pun yang lebih indah kata-katanya di bidang tauhid melebihi Syaikh Ruwaim al-Baghdadi.”

Kekuatan dan kecemerlangan spiritualitas Syaikh Ruwaim al-Baghdadi dengan mudah menjadikan beliau sanggup menerobos nasib rohani orang lain, bahkan yang baru ditemuinya. Pernah pada suatu hari ada seseorang yang datang kepada beliau dan langsung bertanya: “Bagaimana kabarmu?” Spontan beliau menjawab: “Bagaimana kabar orang yang hawa nafsunya menjadi tuhan, cita-citanya dunia, bukan orang saleh yang bertakwa, bukan orang bijak yang suci?” Sebuah jawaban yang semua intinya adalah kondisi tentang orang yang bertanya itu sendiri.

Demikian pula ketika Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif datang kepada beliau. Ketika hendak pulang, beliau memegang pundak sang tamu sembari mengatakan: “Anakku, tasawuf itu adalah mempersembahkan rohmu. Janganlah kau sibuk dengan ‘bualan’ para sufi.” Yakni, mempersembahkan seluruh hidup dan mati kepada hadiratNya belaka, tidak kepada apa pun yang lain. Tasawuf sama sekali bukanlah kefasihan mengutip ungkapan-ungkapan para sufi.

Syaikh Ruwaim al-Baghdadi membungkus kecemerlangan spiritualitasnya dengan adanya “kecintaan” terhadap perkara-perkara duniawi. Sedangkan hati beliau tidak tersentuh oleh selain hadiratNya. Sehingga jarang orang yang memandangnya sebagai orang suci. Malah sebaliknya: kebanyakan mereka memandang beliau hanya sebagai orang yang kaya belaka.

Dan agar terhindar dari adanya penglihatan yang salah terhadap Syaikh Ruwaim itu, Syaikh Junaid al-Baghdadi sendiri pernah melarang Syaikh Abu ‘Amr az-Zajjaji untuk datang ke Syaikh Ruwaim. Bukan lantaran apa-apa: menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240) di dalam kitab Futuhatnya, barangsiapa berkumpul dengan seorang sufi dan mengingkari pengalaman rohani yang telah dinikmati oleh sang sufi itu, maka Allah akan mencabut cahaya iman dari dalam hatinya.

Dan ketika Syaikh Abu ‘Amr az-Zajjaji tetap nekad mengunjungi Syaikh Ruwaim, ternyata penglihatan az-Zajjaji itu tajam. Beliau tidak mendapatkannya sebagai seorang pencinta duniawi sebagaimana dikatakan banyak orang, tapi menyaksikan Syaikh Ruwaim sebagai seorang wali agung yang kekuatan cintanya kepada Allah Ta’ala dan kepada sesama sedemikian memukau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Hyemi Reply

    Mungkin karena cerita ini sangat berilmu aku kurang memahami, ini cerita luar biasa

Leave a Reply to Hyemi Cancel Reply

Your email address will not be published.