Syaikh Syaiban bin ‘Ali

Beliau adalah Syaiban bin ‘Ali Abu Muhammad ar-Ra’ie, salah satu sufi terdepan di Mesir yang dikenal dengan keampuhan doa-doanya. Kebanyakan para sufi di sana merupakan murid-murid beliau. Beliau juga merupakan seorang sufi yang begitu memukau ketika menjelaskan tentang ilmu rohani yang bisa mengantarkan para salik kepada Allah Ta’ala.

Beliau begitu tekun di dalam mempersembahkan ibadah kepada Tuhannya. Tidak ada waktu bagi beliau tanpa ibadah. Kecintaan dan kesetiaan beliau kepada hadiratNya tidak perlu diragukan lagi. Hati beliau begitu lekat dengan Allah Ta’ala. Hasrat beliau hanyalah Dia semata.

Sedemikian kuat rasa bersandar beliau kepada Tuhannya. Sehingga beliau menempuh jalan tawakkal yang paling murni. Yaitu, berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, bergantung pada kemurahan hadiratNya, tanpa didahului oleh adanya kasab atau ikhtiar lahiriah apa pun yang lain.

Pada suatu hari, datanglah seorang murid kepada beliau untuk memohon ijazah agar sanggup berangkat menunaikan ibadah haji dengan berpasrah murni dan tawakkal yang mutlak kepada Allah Ta’ala, tanpa membawa bekal dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki di tengah perjalanan.

Dengan tegas beliau memberikan jawaban: “Pertama-tama, bebaskan hatimu dari lupa dan lalai terhadap Allah Ta’ala. Bebaskan nafsumu dari berbagai keinginan. Bebaskan lisanmu dari kata-kata yang tidak bermakna. Kalau itu semua sudah berhasil kau lakukan, maka sama saja apakah kau menggenggam dunia atau tidak.”

Kalimat jawaban dari Syaikh Syaiban bin ‘Ali di atas sungguh merupakan sebuah ungkapan yang sempurna. Bagaimana mungkin tidak, bukankah kesanggupan memerdekakan diri dari cengkeraman lupa dan lalai terhadap hadiratNya itu jelas merupakan keberhasilan rohani yang sangat berharga? Bahkan lebih berharga daripada dunia seisinya.

Sebab, dengan demikian, berarti seseorang yang telah mengalaminya itu mendapatkan perhatian yang istimewa dari Allah Ta’ala. Tanpanya, tak mungkin dia merasa “mesra” dengan hadiratNya. Tanpanya, tak mungkin juga dia selamat dari hempasan gelombang segala sesuatu yang lain.

Ketika hati seseorang sudah lekat dengan Allah Ta’ala, secara otomatis tidak mungkin nafsunya diserimpung oleh hasrat terhadap apa atau siapa pun yang lain. Jangankan sampai berhasrat, melirik pun tidak akan. Karena di hadapannya, segala sesuatu yang lain itu pasti sudah tidak menarik sama sekali.

Dan ketika kondisi rohani seseorang sudah demikian, mungkinkah lisannya masih melontarkan ungkapan-ungkapan yang muspra dan hampa makna? Tidak mungkin. Sebab, kalimat yang diungkapkan lisan tidak lain merupakan terjemahan langsung dari isi hati. Dan hati yang bersih tidak mengejawantahkan ungkapan apa pun selain kalimat-kalimat yang terpuji.

Tentang kalimat jawaban dari Syaikh Syaiban bin ‘Ali itu, tentu beliau sendiri telah mengamalkan dan mengalaminya terlebih dahulu. Sehingga beliau menjadi orang yang istimewa secara spiritual di hadapan hadiratNya.

Ketika beliau berada sendirian, jauh dari perkampungan dan membutuhkan air, beliau berdoa. Seketika itu doa beliau diijabahi oleh Allah Ta’ala dengan langsung mengirimkan mendung yang menuangkan air yang dibutuhkan beliau. Subhanallah. Begitu dahsyatnya doa beliau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!