Tenang, Pelan, dan … Mengerikan

Ibu, perempuan yang menolak lelah itu, akhirnya tumbang. Ia, yang tak pernah tahu bagaimana rasanya terbujur di ranjang rumah sakit, tak bisa berbuat apa-apa ketika aku dan Bi Lika yang sering bantu-bantu di rumah menggotongnya ke bangku belakang mobil. Seperti subuh itu, mataku basah dan berkabut.

Hasil pemeriksaan yang dokter sampaikan di hari kedua Ibu dirawat membuatku mati kata. Bagaimana mungkin batu empedu Ibu bermasalah? Maksudku, aku tak pernah melihat Ibu mengeluh, terutama di bawah perut sebelah kirinya. Ketika kukonfirmasi, perempuan sebaya Ibu itu menggeleng. “Kenapa Bibi sepertinya tidak tidak terkejut dengan kabar ini?” kataku heran.

“Bibi sudah bekerja dengan ibumu sebelum kamu lahir,” katanya, tenang dan pelan. “Jadi, Bibi tahu benar perangainya,” ia menghela napas, “Kamu harusnya juga sudah hafal. Tapi ternyata tidak. Sebagai anak, kamu jauh dari peka.”

Tentu saja aku tak terima. 

“Tentu kamu tidak senang dengan kata-kata Bibi ini, ‘kan?” 

Ya, Bibi memang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Tapi, rasanya Bibi tak pernah “selancang” ini. 

“Pernah ibumu mengeluh?”

Aku diam, berusaha mengingat-ingat.

“Tentu saja jawabannya tidak.”

Bahuku menggigil.

“Masak kamu nggak peka urusan beginian, Rez.”

“Bibi sok tahu!”

“Ia ibu sebenar ibu. Hanya memberikan, pantang mengemis perhatian.”

Bi Malika tampaknya memang berniat menamparku sejak tadi.

“Kamu, Rez,” matanya menyelidik, “seharusnya bertanggung jawab dengan keputusanmu mengajak Ibu tinggal bersamamu, bukannya …”

“Cukup, Bi!”

“ … malah tak ubahnya seperti ketiga kakakmu yang lain. Yang hanya mengiriminya uang dan dengan itu si politisi, juragan keramik, dan pembuat film itu merasa sudah mengurus ibu mereka.”

“Bibi?!”

“Bahkan, laki-laki yang sudah ibumu ceraikan karena diam-diam punya istri lain itu pun masih sering mengirim bunga di hari ulang tahun ibumu. Kamu, ada ingat?”

“Bi!”

“Kau hanya sibuk bekerja, jalan sama teman-teman, ngejar cita-cita, dan pulang sebagai sultan yang cukup senang melihat ibumu masih hidup. Dia manusia, Rez. Dia ibumu, bukan boneka, hewan peliharaan, apalagi pembantu!”

Aku layangkan tamparan, tapi kibasan telapak tanganku berhenti satu kilan dari pipi perempuan itu.

“Kenapa? Kamu marah?” Bibi membelalak. “Kamu tak terima diceramahi oleh jongos?”

Cerocosan Bibi berhenti ketika seorang laki-laki berjaket putih menghampiriku dan menunjukkan hasil CT scan di tangannya. “Tidak ada pilihan lain selain operasi,” katanya, tenang dan pelan. Tampak sekali laki-laki sebayaku itu terbiasa meramu ketegasan dan simpati dalam berbicara. Dan tidak tahu kenapa, aku benci sekali mendengarnya.

Beberapa saat setelah menutup pintu kamar, aku gagal menahan tangis. Ibu terkulai lemah dengan tangan kanan ditusuk jarum infus. Matanya terpejam. Ia tidur atau menahan sakit, aku takut bertanya. Tabung oksigen sejak pagi tadi stand by di sisi kirinya agar kejadian malam kemarin tidak terulang: Ibu megap-megap tanpa aba-aba.

Ingatan tentang kasih sayang Ibu meriap-riap dalam kepala. Tak terhitung skena hitam-putih yang diputar dalam kepala: dari kecil hingga aku dewasa, hingga usiaku menginjak 40 tahun saat ini.

“Ibu ikut aku!” 

Aku ingat sekali, sepuluh tahun lalu, aku meneriakkan itu di sebuah makan malam tanpa Ibu di rumah kakak keduaku (saat itu Ibu masih tinggal dengan si sulung). Aku heran, bagaimana mungkin seorang pengusaha, anggota DPRD, dan sutradara terkenal itu, harus memusyawarahkan urusan paling kurang ajar: mengirim Ibu ke panti jompo. 

“Kalau kamu berkeluarga nanti, baru tahu bagaimana beratnya, Rez,” kata sulungnya, tenang dan pelan. 

“Di kota, hidup sangat keras, apalagi kalau kau punya anak bini …”

“Baik,” kupotong kata-kata kakak ketigaku. “Kalau begitu, aku mungkin memilih tidak akan menikah.”

“Jangan ngomong sembarangan, Rez,” kakak keduaku sukses tampil hipokrit malam itu. “Kamu baru ditunjuk jadi kepala cabang bank …”

“Apalagi sejak Bi Malika …”

Entah suara siapa lagi itu.

“Kau yakin mampu mengurus Ibu sendirian?”

“Aku bukan kalian!” kembali aku berteriak, ketus dan marah.

Aku meninggalkan meja makan bahkan ketika acara makan malam belum dimulai. 

Sejak itu, aku dan Ibu hidup berdua saja. Meskipun begitu, perempuan yang menginjak usia 77 tahun kala itu tak pernah memuji tindakanku. Mulanya, itu mengganjal, tapi segera kutepiskan perasaan itu begitu kuingat niatku: mengurusnya dengan cinta. Hingga tahun kelima kebersamaan kami, Ibu membuatku menjadi anak paling beruntung. Ia memasak semua masakan kesukaanku (sebenarnya, apa saja yang ia masak selalu berhasil menerbitkan seleraku) sehingga banyak rekan kerjaku sesama bankir yang bilang (aku lebih menangkapnya sebagai bentuk perundungan), bagaimana bisa aku sudah gembul padahal belum menikah. Andai mereka punya ibu seperti Ibu, pernyataan itu tak perlu keluar dari mulut mereka. Mulanya kapan nikah menjadi pertanyaan tiga bulanan, tapi memasuki tahun ketiga, Ibu mengerti dan … bosan sendiri.

Ah, Ibu benar-benar ibu yang sempurna. Aku kerap merutuk (paling sering ngedumel dalam hati) kenapa Bi Malika jarang masuk sehingga Ibu kerap mengambil alih urusan rumah tangga, tak pernah Ibu tanggapi. Aku yang benci dengan ketakteraturan, kotoran, debu, dan pemandangan yang tak sedap dipandang, kerap meminta Ibu bersikap tegas kepada Bi Malika untuk dua alasan: pertama, semuanya memang tugas pembantu; kedua, agar Ibu tak terus-menerus mengambil alihnya. “Pokoknya, rumah bersih. Bi Malika harus tanggung jawab, bukan Ibu!” teriakku, tak sekali-dua. 

Lalu, kakak-kakakku datang, mulanya satu per satu, lalu bersamaan, ah norak sekali, untuk alasan yang kentara sekali dibuat-buat: aku menjadikan Ibu sebagai pembantu! Omong kosong apa lagi ini?

“Atas laporan tetangga,” kata kakakku. 

“Kau tak perlu tahu siapa itu,” kata kakakku satunya lagi. 

“Kalau tak sanggup dengan kerasnya hidup, jangan kaulampiaskan pada Ibu!” tentu saja yang satu lagi tak mau kalah.

Dan ketika Ibu akhirnya dirawat, aku sengaja tak memberi tahu mereka. Aku sudah membayangkan hipokritisme mereka yang menjelma jadi tuduhan-tuduhan menyakitkan untuk menyebutku tak becus mengurus Ibu. 

Ya, Ibu biarlah urusanku saja!

***

Setelah malam tadi kudelegasikan Bi Malika untuk menjaga Ibu karena banyak sekali tugas kantor yang harus kuselesaikan, pagi ini aku bersiap-siap ke rumah sakit. Terbayang olehku, aku akan mendorong ranjang Ibu ke ruangan operasi. Tapi, telepon dari bos yang memintaku merevisi sebuah berkas membuatku lupa bahwa aku hanya punya waktu sedikit untuk tiba di rumah sakit. 

“Dasar anak durhaka, kamu di mana?” teriak kakak keduaku ketika panggilan bos berakhir dan telepon mereka mendapat saluran ke nomor ponselku. “Bukannya mendampingi Ibu, malah asyik kerja!”

Aku bergegas ke parkiran, menyalakan mobil tergesa-gesa. Oh Ibu, maafkan aku ….

***

UGD ramai. Ketiga kakakku berkumpul. Tumben. Mereka menangis. Meraung-raung. Yang pertama memukul-mukul dinding, yang kedua meremas-remas rambutnya, yang ketiga mencium-cium pipiku. Hei, lebay sekali! Terlambat! Kenapa nggak dari dulu? Sebentar, hei, kenapa kalian malah memelukku? Hei, Ibu! Ya, Ibu! Ibu yang harusnya kalian perlakukan seperti ini?!

Seorang perawat menarik mereka menjauh dariku, perawat lain mengambil selimut yang tersingkap di dadaku untuk kemudian menutupi wajahku. Hei, apa-apaan ini?!

“Ia pasti buru-buru sekali ke sini sampai-sampai mobilnya menabrak tiang listrik.”

Oh, suara siapa itu?

“Pasti kamu memaki-makinya di telepon untuk segera ke sini, ‘kan?”

“Hei, kau juga tadi emosi karena nggak ada yang menunggu Ibu di luar ruang operasi.”

“Untunglah operasi Ibu lancar. Ibu sudah siuman, ‘kan?”

Bi Malika menghampiriku. 

“Bibi tidak bekerja lagi hari ini?” tanyaku, emosi.

Ngapain kerja?” katanya, tenang dan pelan, seolah-olah sengaja mengipasi bara yang menyala dalam diriku. “Bibi, ‘kan, sudah duluan ke sini sebulan sebelum kamu mengajak ibumu tinggal bersamamu. Makanya, aku sangsi apakah kalian yang supersibuk bisa mengurusnya. Aku tak menyangka kamu yang mengambil alih. Dan kekhawatiranku terbukti, ‘kan?”

Aku tak mengerti.

“Tega sekali kamu memperlakukan ibumu seperti Bibi, Rez ….”

Tubuhku seperti diangkat empat atau enam orang. Lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau ruangan atau … mobil … yang sibuk sekali dengan sirinenya. Tak kudengar lagi suara-suara kakakku. Bibi Malika juga entah ke mana.

“Kita bawa ke rumah kakaknya yang mana jenazah ini?” 

Oh, suara siapa yang tenang,

                  dalam dan …

                        mengerikan itu?(*)

Lubuklinggau, Agustus 2022

Benny Arnas
Follow Me
Latest posts by Benny Arnas (see all)

Comments

  1. laila rizky Reply

    kerenn parah!!!

  2. V. Sinko Reply

    Merindinggg!
    Ngeriiiiii!!!

    • Cestalia Reply

      Wah, endingnya bagus, gak terduga.

  3. Ervina Eka Safira Reply

    Wah! Keren

  4. Mehreen Reply

    Maknanya dalem banget.. tapi sayang ada kosakata baru yg belum dipahami pembaca. Mohon lain kali ditambah keterangan.

  5. Alya hasanah Reply

    Wahh.. Keren

  6. Diva Reply

    kereeennnnn sampe merinding bacanyaa

  7. Andika Irawan Reply

    Saya dari Lubuklinggau, kota yang sama dengan Pak Benny. Kebetulan saya juga pernah menjadi murid les di Wahid unit Kenanga II yang sekarang jadi Benny Institute. Betapa senang saya setiap membaca puisi dan cerpen Pak Benny yang menurut saya semuanya punya makna tersirat yang sangat dalam dan alur cerita yang mengalir seperti sungai dan terkadang membuat kita hanyut di dalamnya. Semoga semakin banyak karyanya yang dipublish disini Pak, sehat selalu.

  8. Atata Reply

    Dari kalimat pertama saka sudah menarik!

  9. Hervianna Artha Reply

    Akhir ceritanya mengejutkan. Suka!

  10. Ayu Reply

    Tolong, aku tidak faham… Ada yg bisa jelaskan?

  11. mars Reply

    dari yang aku tangkap endingnya si bungsu meninggal karena kecelakaan

    • shii Reply

      lalu ibunya gimana?? aduh aku biasanya ga bodoh tapi mungkin karya satu ini keterlaluan kerennya, tolong jelaskan dong. terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!