Virus

(Virus by Stefano Bernini)

 

Kata orang, kata sejumlah orang pandai di belahan bumi nun jauh di sana, kata penemunya, dia bukan benda hidup.

Jadi? Benda mati seharusnya tidak lebih menyusahkan dari benda hidup. Bukankah makhluk hidup menyusahkan karena kita tidak mampu menebak perangai makhluk itu? Apa yang akan dilakukan makhluk itu dan bagaimana pengaruhnya terhadap kita? Benda mati tak akan menyusahkan karena hanya bisa diam, menunggu hingga ada suatu aksi menggerakkannya.

Benda ini pun demikian, di alam bebas dia diam. Ketika angin bertiup ke Timur, dia ikut ke Timur, ketika angin berbelok arah ke Utara, dia pun akan melayang menuju Utara. Air dapat membawanya, dia akan ikut ke mana aliran air membawanya, menunggu tempat yang tepat, sambil berharap tidak ada aral melintang dalam menemukan rumah barunya.  Beberapa akan gugur oleh sinar matahari, beberapa sial karena bertemu dengan lingkungan yang terlalu asam atau basa, yang tidak dapat mendukung kehidupannya.

Walaupun hanya diam di lingkungan, keberadaan benda ini dapat menakutkan makhluk hidup dengan tingkat yang lebih tinggi darinya. Nasib siallah bagi sel hidup yang bertemu dengannya. Benda itu bisa melayang-layang mendekat, lalu seperti kunci yang menemukan lubangnya, klik, dia terkunci dan menempel di kulit terluar sel. Sel mengibaskannya, namun benda itu bergeming. Sel pun menyesali takdirnya kenapa dia diciptakan dengan berbagai lubang kunci di kulit luarnya yang bisa membuat benda-benda sejenis menempel lalu tak mau pergi lagi. Tapi benda itu kan hanya benda mati. Benda mati yang tak bergerak, mungkin hanya menempel tak bisa lepas lagi, dan sel akan membawanya ke mana pun dia pergi, atau hingga panggilan alam meleburkannya.

Namun sel itu salah, atau para cerdik pandai yang salah? Benda yang konon katanya tak hidup itu ternyata bisa bereaksi. Bagian tubuhnya yang tadinya menempel bak kunci ke lubangnya di tubuh sel pelan-pelan menembus ke dalam. Sel tak merasa sakit, karena memang sel tak diberkahi dengan neuron maupun perangkat sensorik. Sel hanya merasa hidupnya pasti, seratus persen pasti, sudah di ambang pintu dan akan berakhir. Benda itu menembusnya, dan dari ujung tubuhnya yang melesak ke dalam tubuh sel keluarlah benang. Hei, benda itu menyuntikkan materinya, apa yang akan dilakukannya? Selanjutnya benda itu diam lagi, seperti cangkang yang sudah tak bernyawa. Namun materi genetiknya, yang berupa benang, berenang-renang bebas dalam tubuh sel mencari sesuatu, mencari lokasi yang dikehendaki.

Sitoplasma sel tak kuasa mencegah materi genetik ini melaju, bahkan organel sel tak berkutik ketika utas genetik ini melayang-layang di sekeliling mereka. Cepat atau lambat, materi genetik ini akan menemukan yang dicarinya, dan ketika itu terjadi, lengkap sudah, sel menyerah seratus persen, pertahanannya gugur sudah.

Benang genetik itu dapat langsung menuju pusat hidup sel, inti selnya, Sang Nukleus, di mana hidup sel itu dikendalikan. Benang genetik dari benda asing itu akan menyesuaikan dengan materi genetik sel, jika memang sudah selaras dan sepadan, ia hanya tinggal melanjutkan perjalanannya menuju Sang Nukleus. Namun jika belum selaras, karena kasus yang sering terjadi, benang genetik milik benda asing itu hanya seutas, sedangkan materi genetik dalam Sang Nukleus adalah kesempurnaan, yang memerlukan sepasang benang genetik yang saling membelit, bak pria dan wanita yang selalu berpasangan dan bersama-sama hingga akhir hayat. Seutas benang genetik tidak akan dapat bersatu dengan sepasang, keganjilan tak akan dapat bersatu dengan kegenapan. Namun luar biasa memang benda itu diciptakan, atau menciptakan dirinya sendiri. Perangkat perangnya lengkap, mungkin ia memang diciptakan sebagai pejuang ulung, atau memang takdirnya selalu untuk menginvasi makhluk-makhluk yang sebenarnya mempunyai kelas di atasnya. Kadang ada suatu enzim yang menyertai benda itu, enzim itu ikut melebur masuk bersama benang genetik, bak dayang menyertai tuannya, kemudian di saat yang tepat, enzim ini membantu tuannya untuk menciptakan seutas pendamping. Yah, akhirnya si benang genetik asing tidak sendiri. ia pun genap, dan saling membelit. Resmi sudah benang genetik-nya menyerupai makhluk tingkat tinggi.

Benang genetik yang sudah lengkap ini kemudian terus melanjutkan perjalanannya. Cangkang yang membungkus Sang Nukleus tak terlalu sulit ditaklukkan, biasanya cangkang ini sudah mempunyai pori-pori yang digunakan Sang Nukleus untuk memerintahkan prajuritnya keluar dan melakukan perintahnya di tubuh sel.  Tak ada aral berarti, benang genetik asing menembus masuk Sang Nukleus dan menemukan apa yang dicarinya.  Sepasang benang genetik sel, yang berdiam dengan tenang di dalam cangkangnya, perlahan benang genetik asing ini mendekat dan kemudian, sim salabim, ia pun menyatu dengan mulus ke materi genetik sel. Dari sini makin mudahlah tugasnya untuk menaklukkan sang sel yang sepenuhnya sudah berada dalam kekuasaannya.

Dengan kendalinya, benang genetik asing ini mulai mengendalikan sintesis protein sel. Ia menghambat berbagai protein yang tidak berguna bagi hidupnya, dan mengganti tugas sel, lebih tepatnya memperbudak sang sel untuk membuatkan protein bagi si materi genetik asing. Tak lupa ia juga menggandakan materi genetiknya sendiri di dalam Sang Nukleus, sementara perlengkapannya diciptakan di luar Nukleus, dalam sitoplasma sel, di mana pabrik-pabrik pencetak protein, ribosom, bekerja tanpa mengenal lelah. Ketika sudah tiba saatnya, ketika tubuh kuyu sang sel sudah tak mampu menahan lagi, materi genetik baru, yang bisa mencapai ribuan, keluar dari Sang Nukleus.  Berebut mereka mencari perlengkapan perangnya masing-masing. Cangkang baru, kapsul baru, atau enzim-enzim pelengkap lainnya yang sudah disiapkan di sitoplasma. Terciptalah laskar-laskar baru, laskar-laskar asing yang katanya tidak hidup lagi. Sungguh menakjubkan kan, suatu benda yang dikatakan tak hidup tapi dapat menduplikasikan dirinya sendiri hingga ribuan. Serentak, bersama cangkangnya, mereka menembus tubuh kuyu sel dan keluar, menuju kebebasan, merobek-robek membran dan kulit sel hingga organel serta sitoplasmanya tercerai berai tak berbentuk. Tamat riwayat sang sel, namun sebaliknya ribuan duplikat si benda asing menggantikannya.  Dan bak benda asing pertama, mereka pun berdiam di lingkungan, menunggu, sabar menunggu hingga menemukan sel hidup lain yang bisa untuk memperbanyak koloni mereka lagi.

Tidak hidup? Tapi merekalah parasit di dunia sel. Merekalah virus.

Mengerikan bukan? Saya harap virus ini hanya terjadi di sebatas dunia molekuler, bukan dunia nyata.

** Kisah ini adalah dramatisasi dari bagaimana cara virus menginfeksi sel-sel makhluk hidup, termasuk manusia.

Lisa Andriani Lienggonegoro
Latest posts by Lisa Andriani Lienggonegoro (see all)

Comments

  1. Bun Reply

    Ini cerpen?

  2. Wahid Reply

    Paragraf pertama sih aku percaya kalo ini cerpen. Tapi, laju terus dan tiba di ending, hmmm, sulit bagiku buat mengatakan ini cerpen.

    • Sisi Terang Dunia Reply

      Masih kerasa banget kayak sekadar rangkuman. Coba kalau naratornya si virus itu sendiri, pasti keren.

  3. Rica Manis Reply

    ini adalah cerita nyata yang di fiksikan. seperti itulah dunia cerpen setahu saya heheheh. over all mantap. ternyata penulisnya memng dibidang kedokteran. mmmmm mantap ternyata siapapun dia bisa menulis dan melihat disudut pandang mereka sendiri-sendiri. jadi terispirasi ini untuk menulis dari sudut pandang yang lain hehheheheh.

  4. bunga Reply

    keren… tapi gk ngerti aku

    • meliana Reply

      Sama 😀

  5. wi gung Reply

    penuturan sesuai profesinya. Pembaca ada yang mudeng dan juga sebaliknya..

  6. Caterina Reply

    Cerpen yang mengedukasi…. Keren👍

  7. Rintik Reply

    Andai mata kuliah mikrobiologi & virologi veteriner dikemas dengan bahasa seperti ini pasti akan menyenangkan 😄 good job!

  8. Aoki d Reply

    ini seperti rangkuman mengena virus pA

  9. Khairul Huda Reply

    Salam….
    Lebih cocok ini merupakan narasi dosen yang sedang menjelaskan materi virologi.
    Pembaca rasanya sedang berada di ruang kuliah, terus dr. Lisa ada di depan memberikan mata kuliah.
    Mahasiswa duduk di kursi penuh perhatian memperhatikan ke depan. Tentu, yang diperhatikan adalah dr. Lisa-nya.
    Ada sebagian kecil mahasiswa yang mengangguk-angguk, tapi sebagian besar yang lain mengerutkan kening.
    Terlepas bentuk penceritaannya yang monolog, pembaca tetap bisa mengambil ‘sesuatu’ dari dalamnya.
    Salam….

    • eva nurliana Reply

      Subhanallah.sangat impresif dari sudut pandang saya selaku guru biologi….tks

  10. Al Arudi Reply

    sastra ilmiah

  11. Muchlis Muin Reply

    Nobel price!
    Mm

  12. K. Lidyaningtyas Reply

    Keren. Tapi otakku sesak menerima segala pengetahuan itu 😀

  13. pena permana Reply

    awal baca saya kira ini bukan cerpen tapi oke mantap

  14. Taufik sentana Reply

    Wau! Salam hebat. Sangat eduteinment dan fresh.sukses dan berkah selalu.salam dari acehbarat.taufiksentana

  15. Elok Reply

    Keren kak, awalnya aku mau komen, pasti yg buat ahli biologi, pas dibaca naratornya eh, ternyata dokter, pantas saja kalau isinya mantap gini. Suwun kak, jadi semakin mengerti bagaimana cara virus hidup di dalam inangnya. Juga bisa me-recall pelajaran Biologi kelas 10 dulu hehe.

  16. siput santuy Reply

    hehe.. aku agak ga ngerti sih soalnya aku anak teknik kimia, tapi keren diksi diksi nya

Leave a Reply

Your email address will not be published.