Imajinasi dalam Rungkup Teknik Berkisah dan Pesan yang Ingin Disampaikan

in Hibernasi by

Imajinasi dalam Rungkup Teknik Berkisah - Rehal BASABASI.CO

Judul: Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?

Penulis: Eko Triono

Penerbit: DIVA Press

Cetakan Pertama, April 2016

ISBN: 9786023911288

Harga: 55.000

Peresensi: Muhajjah Saratini

Cerpen pertama Eko Triono dalam Kompas adalah “Ikan Kaleng” (2010). Cerpen itu sempat menuai kontroversi karena bagi sebagian pembaca, cerpen itu terlalu biasa, kelewat eksplisit dibanding cerpen-cerpen yang biasanya dimuat di sana. Berkisah tentang seorang pemuda dari Jawa, Sam, yang sedang ditugaskan mengajar di Jayapura dan menghadapi dilema antara pendidikan sesuai kurikulum yang mereka junjung dengan pendidikan menghadapi alam yang ia saksikan sendiri memang jelas lebih dibutuhkan.

Tiap redaktur surat kabar tentu memiliki kriteria sendiri bagaimana sebuah tulisan dapat diterima dalam media yang sedang dinaunginya. Dan “Ikan Kaleng”, terlepas dari teknik, memang berhasil menyampaikan pesan, menimbulkan setidaknya riak kegelisahan mendapati kisah di ujung timur negara ini.

Tiga tahun kemudian, Eko kembali muncul di Kompas dengan cerpen yang mengangkat perkara yang sama sekali berbeda dengan judul “Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?” (2013). Berkisah mengenai seseorang yang mempertanyakan keberagaman agama yang dianut manusia dan keributan yang ditimbulkan karenanya, membuat sebagian besar manusia tidak bisa hidup berdampingan secara damai. Pertanyaan rumit tersebut disajikan dengan balutan kisah romantis yang meninggalkan sesak. “Bukankah berbagai pohon dapat tumbuh di tempat yang sama dengan damai?” (halaman 257). Cerpen ini merupakan hasil pemaknaan kembali dari pembacaan Eko Triono terhadap puisi Goenawan Mohammad yang berjudul “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”. Penciptaan karya baru setelah seseorang membaca karya lain adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, cukilan karya lain, seperti yang dilakukan Eko Triono, atau Seno Gumira Ajidarma yang mengutip puisi Chairil Anwar dalam “Sepotong Senja Untuk Pacarku” (Kompas, 1991—untuk menunjukkan contoh lain), menampilkan catatan sumber. Sehingga pembaca tidak salah paham dan kepemilikan kalimat-kalimat yang menginspirasi tersebut tidak beralih.

Setahun kemudian, dengan tema mistis kedaerahan, Eko kembali muncul di harian yang masih menjadi kiblat cerpen bermutu Indonesia itu dengan cerpen “Turi-Turi Tobong” (2014). Cerpen ini mengambil setting lawas, ketika masih ada lotrean lipat berisi permen telur cecak seharga dua ratus rupiah. (halaman 206).

Seakan seperti remaja yang sedang beranjak dewasa, Eko Triono menunjukkan bahwa ia mampu bertahan tak peduli apa yang dikatakan orang, bahkan mungkin justru menjadikannya sebagai cambukan untuk memperbaiki tekniknya bercerita. Cerpen-cerpennya dalam buku ini, selain tiga cerpen yang sudah disebutkan tadi, sudah dimuat di beberapa media massa lain di Indonesia.

Dalam buku ini, selain tiga cerpen tersebut, juga memuat beberapa cerpen yang sudah dimuat di media massa lain, mulai dari tema cinta (“Kau adalah Gelas” dan “Pernikahan Tuan Mensen”), kegelisahan kedaerahan (“Mereka Mengokang Senjata” dan “Mata Lain”), hingga sindiran pada pemerintah (“Pledoi Sepasang Tikus” dan “Tahun-Tahun Penjara”). Selain itu, ada juga cerpen yang belum pernah dipublikasikan. Sebabnya, cerita itu tidak memenuhi kriteria pemuatan cerpen dalam media dalam hal batasan jumlah karakter. Akan ditemukan pembaca cerpen yang benar-benar singkat namun justru karena itu justru lebih terasa efek yang ditimbulkannya. “Namamu” dan “Anak Manis” adalah dua di antaranya.

Cerpen yang tidak kalah menarik adalah “Aku Ini Ibumu” karena tanpa banyak kerumitan teknik, Eko Triono berhasil menunjukkan sosok seorang ibu dalam bayangan pembaca. Tidak harus ibu si pembaca, tapi bisa jadi seorang ibu yang pernah dilihat dalam perjalanan hidup pembaca. Selalu ada seorang ibu ditemukan sedang mengomel seakan tiada henti kepada anak bisa ditemukan dalam perjalanan pulang kantor, saat mampir ke swalayan, saat mengantar anak ke sekolah, atau mungkin terdengar jelas di sebelah rumah. Cerpen lain, “Antoine Gusteau Ditemukan dalam Mimpi Seorang Baghdad”, sebaliknya, justru menggunakan teknik yang rumit. Tia Setiadi menyebutnya sebagai cerita dalam cerita. Pembaca mungkin tidak bisa memahaminya dengan sekali baca, dan bisa jadi tetap mengernyit setelah pembacaan ketiga.

Variasi tema yang diangkat dan teknik bercerita Eko Triono sebaiknya memang dinikmati perlahan. Seperti yang dikatakan Damhuri Muhammad, “Cerpen-cerpen Eko Triono berupaya memberi nyawa pada sejumlah entitas yang selama ini tidak dianggap hidup. Kisah-kisahnya bergerak dengan napas-napas baharu yang bisa saja tak terduga, tak terencana, tak kasatmata.”

Eko Triono memang memanfaatkan pengetahuannya secara teori—dia kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia—dan menerapkannya dalam buku ini. Sehingga bukan keseragaman yang akan ditemukan—seperti umumnya buku kumcer disusun—melainkan justru variasi kemungkinan perluasan teknik bercerita tanpa kehilangan pesan yang ingin disampaikan.  (*)