Puisi-Puisi Pranita Dewi; Orang Rantai

in Puisi by
fineartamerica.com

Kegelisahan

Dua mataku sipit dan jenaka, selalu terjaga pada pagi
Dua tanganku mengepal penuh cengkeram, selalu murung menunggu mati.

 

 


 

Lamunan Lapar

 

Kubayangkan engkau, di meja makan, menungguku pulang.

Sedang aku masih harus jauh berjalan, tertatih-tatih dan

meraba-raba di banyak tikungan: angin dan musim dingin

menghantamku ke tebing-tebing curam, gelap menghambur

ke arahku dari semua penjuru. Kulihat jauh di depanku,

rumah-rumah berjendela terang. Perapian terkembang.

Tapi jauh, jauh sekali.

 

Aku kini tiada bisa bermimpi, aku kini tiada berani lagi.

Sebab masih tercium sampai di sini abu dan ludah bacin:

kaldu kebencian yang melumuri kotaku. Sebab aku

si papa ini, yang bekerja berhari-hari, selalu melihat langkah

tegap serdadu kemiskinan menderap ke arahku.

Aku tiada bisa merekahkan musim bunga dan

menegakkan seribu istana.

 

Ingin kulihat matamu, mata yang menaburkan seribu

matahari. Namun juga mata yang bisa jadi teduh, menjemput

sunyi yang teramat jauh, sunyi yang bengal dan gemar

bertualang, agar pulang ke celah telinga: rumah bagi

semua suara.

 

 

Tapi masih kurasakan gigil petualangan ketika aku tunduk kepada

panggilan-panggilan untuk kembali ke depanmu, ke sebuah meja

makan, ke sebuah santap malam yang kausiapkan, sementara

aku masih di tebing curam ini. Padaku cuma ada bekal

ingatan, catatan yang belum genap kutuliskan tentang

tikungan-tikungan dan jarak panjang sampai jauh rambu

terakhir perhentian!

 

O, betapa aku ingin pulang, ibu!

 

Angin dan musim dingin lewat, mendarat, dengan bau daging

panggang yang kubayangkan kausiapkan di meja makan.

 

 

 


 

Weton

 

Beri aku 270 malam

untuk menatap kebusukan pagi ini

 

Tangisku yang pertama

apa hanya menjadi sebuah pertanda?

 

Seekor katak menyelip di bebatuan

halilintar memecah menjelang kelahiran

alap-alap layang di ranting dahan-dahan

 

Di sini begitu pepat

gelap ini begitu menyengat

aku begitu sekarat!

 

Tetapi akan kukenakan kain yang membikinku

lebih tampan lagi

gemerlapanlah gemintang dini hari.

 

Aku akan dikekalkan para Padri

sebagai lagu penuh pujian,

sebagai seribu orkestra sepanjang masa

sebagai silabel dalam setiap kata

dan menjadi nyanyian murung para pendosa

 

Telah kusingkapkan langit dengan kata-kataku,

kubikin kecut udara dengan mimpi-mimpiku,

bintang begitu pucat di kemegahan mataku,

dan usia menghambur di gunung dan lautan

 

Esok akan bisa kusaksikan

memar pada wujud asing ini;

sepucuk cinta yang tumbuh mengalir

simbol merah jambu di kemarau jiwaku.

 

Aku akan menjadi bagian hari ini

aku akan menjadi seribu cermin

dalam bayang-bayang negeri

yang mati terpancung, menunduk

terapung dan tidak menemukan keagungan lagi

 

Jiwa yang terkutuk ini, yang melompat keluar

dengan seribu taring dan cakar tajamnya,

akan mencabik dunia hingga ke liang nyawa

 

 

 

Tetapi begitu sunyi mati

meski berwangi mimpi

ajal menjemputku di kemudian hari

langit berkabung menyambut

yang cantik dan mekar

yang jernih berkilauan.

 

Tuhan, Tuhan, mengapa Engkau mengirimku ke mari?

 

 


 

Matsya

 

/1/

 

Telah kusaksikan kemegahan batu dari

zaman lama yang kini bertumpukan

di hadapanku.

Telah kusaksikan laut hitam

menyemburkan bayang-bayang

yang berkilauan

 

Satyabrata, ijinkan aku bangkit kali ini,

sebelum mata kail menembus

mulutku,

sebelum datang kiamat dan derita;

di laut tengah murung, di gunung terjal rimbun,

di goa-goa keramat dan rahasia

di mana semua kemarahan

terkurung dalam setiap doa

 

Engkau mendengar nujuman itu,

engkau mendengarnya sekali lagi

lalu dengan wajah berkerut

engkau mengambilku dan

menempatkan aku pada sebuah

mangkuk kecil. Di situlah aku

tumbuh dan membesar

seperti janji-janji mulia yang kautitahkan,

sebelum menjadi raja,

untuk melindungi rakyatmu yang setia.

 

Mangkuk kecil telah menjadi

duniaku. Di sinilah

aku mencabik kesunyian,

mengubahnya menjadi ribuan suara,

sebelum air bah menyiksa daratan.

 

 

/2/

 

Aku ikan raksasa, dapat pula mengira

derita dan gempita yang akan melintas

di hadapanku, bagai kirab yang keburu jadi

lintasan penghabisan dalam hidup yang garang

 

Nujuman ini, wahyu ini

yang jeritannya bagai

gemuruh dan laut

telah setia membimbing jalanku

untuk menyelamatkanmu

 

 

Aku akan jadikan diriku lebih dekat dengan matamu

sebagai penyelamat, aku telah menjauhkan

satu jalan lurus kepada maut

yang akan mendabik dadamu.

 

Selamat datang; mimpi-mimpi lama,

sengsara dan bahagia,

rancangan-rancangan masa depan

 

Mari kita sambut bandang terkutuk ini!

 

 

/3/

 

Pada mulanya engkau tidak pernah paham

arti kedalaman. Air hijau yang tenang ini,

pohon yang berkembang ini,

akan menjadi mimpi paling aneh

di setiap catatan yang terpinggirkan

oleh puluhan agama.

 

Aku impikan pesta kerajaan laut di masa lampau

di mana pilar-pilarnya terbuat dari cahaya

mercusuar. Dingin. Laut ini berangin.

 

Raja, bangunlah sebuah bahtera

jadikan tali itu dari naga banda

kaitkanlah ke tandukku

desakkan kemurnian rakyatmu di dalamnya:

biar kugenapkan penjelmaan ini

 

Tujuh macam awan mencurahkan hujan lebat

satu penanda hari jadi kiamat

seusai masa kering yang panjang

 

Kepada engkau, sebentar lagi,

akan kutunjukan arti

cinta yang terbunuh ini.

 


 

Orang Rantai

: M. Valjean

 

Aku lepas, tetapi juga tak bebas.

 

 

/1/

 

Selamat tinggal, pilar-pilar baja! Kini giliran kemerdekaan

Menyiksaku.

 

Paspor kuning akan memastikan nasibku: kau adalah gelandangan

Yang lapar dari petang hingga petang, hantu gentayangan

Yang merintih-rintih dalam larut malam, kaum lepra

Yang mengetuk pintu dan tak pernah dibukakan.

 

Ah. Kurasakan siksaan pertama bagi seorang merdeka:

Peluru-peluru putih musim dingin yang mendesing,

Mendesau, mengamuk padaku dan membugili semua pepohonan.

 

O, peluru-peluru putih musim dingin,

andai bisa kuberikan kedamaian padamu dan bisa kutemukan

Kedamaianku sendiri: tetapi damai telah pergi dariku dan patah

Dan menyerpih bersama bulir-bulirmu di atas bumi.

 

Aku tak akan pernah

Mengerti tentang selimut dan pediangan: hanya dingin

Dan gigil – gigil senantiasa.

 

 

/2/

 

O, musim dingin keji,

kau yang bersekutu dengan lapar dan dengki,

dan telah berhasil membujukku jadi pencuri,

Lihatlah jiwa jalang yang jadi kuyu dan rumpang ini

Kini dibebaskan dari rantai dan jeruji.

 

Tetapi kini di hari pembebasanku

mesti kutanggung kutuk paspor kuning – tiket satu arah

ke pulau paling terpencil

di samudera manusia yang gemuruh.

 

O, musim dingin keji!

 

 

/3/

 

Apa yang kaucari, wahai serdadu

yang menggeledah ingatan, mimpi-mimpi

dan masa laluku? Bukankah paspor kuning

telah membukakan diriku: bekas orang rantai?

Lihatlah, isyarat yang kauberikan tentang

tiang gantungan kini tiada lagi menggentarkanku.

 

Karena aku memang tetap pencuri.

Kandil, sendok, garpu perak ini dan

seluruh dunia tiada pernah menjadi

milikku.

 

Maka bawalah kini aku kepada

algojo dan tiang gantungan yang

telah lama menungguku – telah lama.

 

Maka bawalah aku kini kepada

Padri saleh yang dungu dan tertipu itu

– janjiku kepadanya yang belum pernah

kusepakati telah lebih dulu kuingkari

 

 

/4/

 

Wahai, bagaimana mesti kupetakan

Lanskap cinta dan kebencian ini?

Ia yang kusangka musuhku

Selama ini ia mencintaiku.

 

Kini aku bangkit:

Aku telah dibangkitkan!

Telah kupinang ia yang membekaliku

Topangan perak dan kandil pesta serta wangi doa

 

O padri saleh, penyelamat jiwa dan jasadku!

Akan kukembangkan jiwaku kepada semua

Angin yang bergentayangan di udara malam ini

Ketika dosa rusuh dan kebebasan menyiksa daratan.

 

Inilah sesungguhnya hari pembebasanku

kandil perak dan meja perjamuan:

dosa-dosa liarku

kini meyakinkanku untuk

 

Menjadi santo.

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Lahir di Denpasar, 19 Juni 1987. Menulis puisi, prosa liris dan cerita pendek. Sejumlah puisinya pernah dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Bali Post, Majalah Sastra Horison, Jurnal BlockNot Poetry, Jurnal Sundih, Jurnal Sajak.
Pranita Dewi

Latest posts by Pranita Dewi (see all)