
Untuk gelar Liga ke-20 Liverpool, saya menengok ke rak buku, mencoba menemukan ke-Liverpool-an diri saya di sana. Sekadar untuk semacam perayaan kecil saja. Tapi, ternyata, Liverpool hanya ada di dalam diri saya saja. Saya tidak terlalu banyak menyisakannya di luar.
Tidak di tembok kamar sebagai poster, tidak di gantungan baju dalam bentuk kostum dan syal, tak juga ada sekadar magnet di kulkas atau stiker di belakang pintu. Dan hanya sedikit buku. Terlalu sedikit untuk 20 gelar itu.
Saya mulai mengikuti Liverpool tidak ketika mereka sedang jaya. Paro awal ‘90an, mereka sudah mulai terbiasa jadi pecundang, dan hanya bisa menatap pesaing mereka dari Manchester dengan mata iri penuh dendam. Ya, pada awal kemunculan siaran Liga Inggris di televisi Indonesia, tajuk berita utama diisi oleh Cantona dan tendangan kungfunya. Juga kecepatan lari Giggsy di sisi kiri, sementara di sisi kanan muncul pangeran baru bernama David Beckham. Semua tentang United. Atau nyaris semuanya.
Jika ada yang di luar United, mungkin itu adalah gelar pertama dan satu-satunya Blackburn Rovers dan bintang dari kejayaan instan itu, Alan Shearer. Juga wajah—dan terutama kaki-kaki—elegan Ginola di lapangan tengah Newcastle. Juga kedatangan beberapa pemain “gagal” dari Italia: Carbone, Di Canio, Baiano, yang dibarengi serombongan veteran seperti Gullit, Vialli, Ravanelli, dan Zola.
Liverpool, yang telah sepenuhnya menjadi bayang-bayang kejayaan yang sebenarnya belum lama, sedikit saja kebagian sorotan. Dan itu kebanyakan bukan tentang hal-hal yang terjadi di lapangan. Di bawah Roy Evans, mereka coba menata ulang kekuatan. Masalahnya, ia mengandalkan sekelompok anak muda pesolek berjas Armani.
Tentu beberapa dari mereka sangat berbakat. Jamie Redknapp dan Steve McManaman adalah gelandang-gelandang muda istimewa, sementara Robbie Fowler dan Stan Collymore adalah dua penyerang muda yang dibayangkan akan jadi besar beberapa tahun kemudian—dan klaim dan harapan itu bukan tanpa alasan. Tapi mereka belum jadi apa-apa, belum dapat apa-apa. Dan yang bertubi-tubi mengisi halaman berita adalah apa yang mereka pakai, mobil apa yang mereka beli, siapa yang mereka pacari.
Kebanyakan dari mereka tampan. Wajah Redknapp, Macca, McAteer, James, dan Collymore sangat cocok dengan halaman depan tabloid gosip—bahkan jika mereka tak cukup berbakat. Dan wajah-wajah itu, tampaknya, sangat sesuai betul dengan citra baru yang diinginkan Premiere League setelah masuknya uang Murdoch awal ‘90an, terutama karena mereka sangat mengandalkan televisi. Pada saat yang sama anak-anak muda ini juga menyukai lampu pesta dan sorot kamera, dan terutama pakaian mahal. Karena itu mereka mendapat sebutan Spice Boys—hasil plesetkan dari Spice Girls, band cewek Inggris yang sedang ngetop saat itu. Kita tahu ujungnya: mereka tak dapat apa-apa.
Dan tim macam itulah yang saya pilih—atau memilih saya.
Untuk remaja yang penghiburan utamanya adalah sepakbola, itu adalah perjalanan penuh “hujan badai” dan “gelap gulita”, seperti yang digambarkan lagu “You’ll Never Walk Alone”. Dan untuk saat yang sangat lama, “langit keemasan” yang dijanjikan tak kunjung muncul jua. Liverpool sepanjang ‘90an adalah nama lain dari keputusasaan. Dan mendukungnya adalah tindakan masokhistis yang tak berkesudahan.
***
Menjadi lebih berat, karena saya merasa selalu berjalan sendirian. Bukan karena tak ada orang lain yang menyukai Liverpool di tahun ‘90an, tapi demikianlah sikap saya terhadap sepakbola. Sebagaimana terhadap buku dan film, menikmati sepakbola untuk saya bersifat personal dan sebaiknya menjadi tindakan personal. Anda bisa menonton dan menyukai tim yang sama, tapi alasan Anda bisa sangat berbeda.
Bagaimana pun, saya mulai menyukai sepakbola sebagai siaran pandangan mata di radio pada pertengahan ‘80an. Pada usia tujuh-delapan tahun, menyimak siaran pandangan mata sepakbola sama dengan mendengarkan sandiwara radio atau lagu dangdut kesukaan. Semuanya tentang imajinasi, dan itu hanya milik Anda sendiri. Dari radio saya mengenal dan kemudian menjadi pemuja timnas Indonesia yang konyol, dan pada saat yang sama menaruh hati kepada Mitra Surabaya, salah satu klub lokal yang kemudian hilang seperti kebanyakan klub-klub bekas Galatama.
TV kemudian sepenuhnya mengambil alih, dan memperkenalkan saya dengan tim-tim yang jauh. Jika Mitra Surabaya saja terasa jauh, apalagi Fiorentina atau Hansa Rostock atau Liverpool. Baggio atau Boban atau McManaman jadi lebih jelas di layar kaca, tak seperti Jessi Mustamu atau Marzuki Badriawan yang seringkali hanya berupa nama yang disebut berulang-ulang, tapi kesemuanya sama tak terjangkaunya.
Ketika SMA, sekolah saya hanya berjarak satu jam dari Surabaya. Tapi saya sudah putuskan tak akan ikut beberapa teman untuk melurug Tambaksari, sebesar apa pun saya ingin. Pertama, karena saya tak pernah pegang uang lebih untuk ongkos kereta dan tiket pertandingan. Menumpang truk atau nembak kereta dan memanjat stadion tak pernah jadi opsi, karena saya penakut. Beberapa pengalaman buruk mengikuti tim galadesa di masa kanak-kanak meninggalkan trauma, dan saya tak ingin mengalaminya lagi. Tapi yang utama, saya memang tidak cocok dengan kultur teras stadion. Saya ingin menikmati sepakbola seperti membaca buku atau menonton film.
Barangkali karena itu, kultur suporter sepakbola yang tribalistik sulit masuk kepala saya. Saya tidak tumbuh dengan mengidentifikasikan diri dengan satu tim, karena tim-tim itu terlalu jauh. Mitra berada 4-5 jam naik bus dari desa saya; bagaimanapun dan sekeras apa pun saya mencoba, saya bukan orang Surabaya. Demikian juga dengan Liverpool. Saya menyukai Liverpool, dan mengalami penderitaan panjang karena mendukung mereka, tapi kami dipisahkan jarak tiga perempat dunia, dan karena itu saya tak akan sama dengan orang Liverpool yang mendukung Liverpool. Dan karena itu, tidak seperti pendukung lokal Liverpool, saya tak bisa membenci Everton sebagaimana mereka. Tentu saya membenci Pickford dengan segala ketengilannya, tapi demikian juga saya membenci El Hadji Diouf. Jika saya mengidolakan McManaman, dengan alasan yang sama saya memuja Andrei Kanchelskis. Dan ketika pendukung MU di Old Trafford bernyanyi mengejek, “Are you watching Marseyside”, saya tak merasakan apa-apa.
Saya pernah punya poster Jari Litmanen dalam seragam Ajax, jadi akan sangat menyenangkan jika punya gambarnya dalam seragam Liverpool. Mungkin bisa ditambah Didi Hamann atau Patrik Berger. Tapi jika tidak ya tidak apa-apa. Saya merasa tidak perlu menyakinkan diri bahwa saya adalah pendukung Liverpool dengan memiliki gambar mereka. Saya kadang naksir dengan beberapa seri seragam Liverpool dan akan senang memilikinya. Tapi punya satu-dua seragam tak membuat saya menjadi lebih Liverpool, melainkan hanya menjadi reklame berjalan berikutnya bagi Nike atau Adidas. Beberapa pendukung Liverpool mungkin ingin sekali seumur hidupnya masuk Anfield dan menonton Liverpool secara langsung. Itu pasti akan jadi pengalaman hebat jika saya juga bisa melakukannya. Tapi, jika diberi pilihan, saya akan dengan senang menggantinya dengan mengunjungi stadion-stadion kecil dari klub-klub gurem yang diceritakan di buku Nige Tassel atau di klub-klub kabupaten yang digambarkan Daniel Gray. Dan saya kira saya akan tetap menjadi pendukung Liverpool.
Demikian juga dengan buku. Saya senang membaca perihal sepakbola. Dan untuk itu saya memiliki satu rak khusus untuk buku-buku sepakbola. Dan saya akan sangat senang jika menyimpan lebih banyak buku tentang Liverpool di sana. Buku jelas lebih baik dari gantungan kunci atau stiker, tapi beberapa buku tentang klub atau tentang pemain dicetak memang untuk sekadar pernak-pernik saja. Karena itu, dengan hanya empat buku, tak akan mengurangi hak saya untuk ikut merayakan gelar ke-20 klub saya.
***
Ya, hanya ada empat buku yang terkait Liverpool di rak. Lima, jika saya memaksa memasukkan biografi ketengan Luis Suarez dari Luca Caioli, yang memiliki satu bab terkait Liverpool. Memoar Mick Rathbone, The Smell of Football (2011), yang bersampul merah saya pikir terkait Liverpool, tapi ternyata itu justru memuat banyak sejarah Everton—saya bahkan tidak ngeh ada pengantar Phil Neville pada sampulnya. Saya berharap menemukan buku yang lain, tapi buku sepakbola saya tak banyak dan saya tahu saya memang tak punya buku Liverpool yang lain lagi.
Dari empat buku, dua buku ditulis Brian Reade. Buku pertama adalah 44 Years with The Same Bird (2009), salah satu buku sepakbola awal yang saya koleksi. Ia dihadiahkan Darmanto, kawan saya, sepulang dari Australia. Meski buku ini secara teknis saya miliki sebelum punya Fever Pitch (1992), saya tak harus membukanya untuk tahu bahwa Reade menulis kenangannya tentang Liverpool dalam cara Nick Hornby menulis kenangannya tentang Arsenal. Ini membuat saya mesti menunggu waktu yang tepat untuk membacanya. Lagipula, tak seperti Hornby yang melewati sebagian besar hidupnya bersama Arsenal dalam masa-masa kering-kerontang gelar, Reade yang seusia dan semasa dengan Hornby (dan mulai menonton sepakbola pada pertengahan ‘60an) justru ada bersama Liverpool ketika masa-masa panen—tsunami trofi kata anak-anak medsos. Bahkan sebagai sesama penggemar Liverpool, sama-sama menghabiskan puluhan tahun bersama burung yang sama, dibanding dengan Reade saya lebih terkoneksi dengan Hornby; saya dan Hornby sama-sama menautkan diri dengan klub yang sedang bobrok-bobroknya. Itulah yang membuat 44 Years belum benar-benar terbaca sampai sekarang.
Lagipula, di saat menghadiahkan 44 Years, Darmanto juga membawakan Promised Land (2010) dari Anthony Clavane, yang juga merupakan buku memoar penggemar. Tapi Clavane menggemari Leeds United, dan pada saat yang sama ia juga seorang Yahudi, sebuah kombinasi sempurna yang segera mengundang iba dan rasa ingin tahu. Dan tak seperti buku Reade yang cerah dan ramai, buku Clavane terlihat murung bahkan sejak sampulnya yang nyaris monokrom. Buku Clavane rampung cepat, meninggalkan rasa manis-getir yang panjang, dan memberi salah satu pengalaman membaca yang sangat mengesankan, sementara buku Reade terpinggirkan.
Buku kedua Reade adalah An Epic Swindle (2011), yang belum lama saya dapatkan. Dari anak judulnya, “44 Months with A Pair of Cowboys”, buku ini merupakan sekuel ruhaniah dari 44 Years. Jika 44 Years adalah memoar, “44 Months” adalah laporan jurnalistik—Reade sendiri adalah seorang jurnalis-kolumnis di Daily Mirror. Ia mencoba menggambarkan dari jarak sangat dekat gonjang-ganjing yang dialami Liverpool selama tiga setengah tahun dalam kepemilikan duo pebisnis koboi asal Amerika, Tom Hicks dan George Gillet.
Ini episode yang sangat menarik, jika bukannya mengkhawatirkan, bagi siapa pun yang mengikuti Liverpool, ketika salah satu klub terbesar di dunia tiba-tiba terancam bangkrut akibat kengawuran pemiliknya. Tapi karena itu juga, ini adalah masa-masa gelap yang ingin dilupakan para penggemar Liverpool di seluruh dunia, termasuk saya. Saya yakin saya bisa temukan kepingan penting sejarah Liverpool pada buku ini, dan akan membacanya kapan-kapan, tapi jelas itu tidak dalam waktu dekat, apalagi di masa ketika para penggemar Liverpool sedang menikmati gelar Liga ke-20.
Buku ketiga, A Season on The Brink (2005), dari Guillem Balague saya dapatkan baru bulan lalu, ketika saya tahu Arne Slot akan memberikan Liverpool gelar Liga ke-20. Buku tentang musim pertama Rafa Benitez di Liverpool, yang dipungkasi Keajaiban Istanbul, ini jelas terlambat datang. Saya fans berat Benitez, terutama karena Benitez-lah yang praktis membangkitkan Liverpool dari lumpur kemediokeran, memberi dua final Eropa, dengan satu di antaranya memenanginya, dan terutama rasa bangga mampu bersaing dengan Unitednya Fergie, Chelseanya Mou, dan Arsenalnya Wenger. Sementara Balague adalah nama yang akrab di perbukuan sepakbola, dengan biografi nama-nama tenar seperti Messi, Ronaldo, Guardiola, dan Pochettino ada dalam daftar karyanya. Jadi, sebenarnya, tak ada alasan untuk tidak membaca buku ini, selain bahwa saya memang tak terbiasa langsung membaca buku-buku yang baru saya beli.
Buku keempat, buku yang seharusnya paling penting untuk seorang Kopites, justru hampir terlupa. Itu adalah My Story, biografinya Steven Gerrard—dalam terjemahan Indonesia, terbitan KPG. Saya mengingatnya, dan kemudian menemukannya, baru setelah saya mencoba mengumpulkan buku-buku tentang Liverpool dan hanya menemukan tiga buku saja. Saya hanya merasa pasti ada buku lain yang terlewat, tapi saya benar-benar lupa bahwa saya memiliki buku ini. Ketika saya membukanya, saya bahkan lupa membubuhkan tanggal penanda buku itu saya dapatkan, sehingga saya tak tahu sudah berapa lama buku itu di situ. (Pasti lebih dari enam-tujuh tahun.) Yang paling jelas, buku ini tak pernah saya sentuh.
Jangan salah, seperti untuk semua penggemar Liverpool seumuran saya, Stevie adalah yang terhebat dari yang terhebat. Dalglish mungkin paling besar, juga Rush dan Barnes (dua pahlawan Stevie), tapi mereka semua adalah legenda, sejarah yang sudah lewat. Stevie adalah kenyataan dan masa kini kami. Kegagalannya memenangkan gelar Liga dalam 17 tahun karir profesionalnya bersama Liverpool adalah gambaran yang paling mewakili kemalangan kami. Stevie adalah kami! (Saya selalu ingin memukul orang-orang yang membagi ulang potongan video saat Gerrard terpeleset ketika lawan Chelsea di musim 2013-14, ketika kami seharusnya juara Liga, karena yang terpeleset bukan Gerrard, melainkan kami semua!) Tapi, sejujurnya, saya tak terlalu ingin tahu tentang Gerrard di luar lapangan—sebagaimana saya tak ingin tahu tentang Jordan Henderson dan, kini, Virgil van Dijk, sosok-sosok kunci di balik kejayaan Liverpool dalam satu dekade terakhir ini.
Mungkin karena saya menatap mereka nyaris tiap tiga hari sekali di lebih dari separoh umur saya—meski hanya dari layar kaca. Mungkin karena saya hampir selalu menyimak wawancara-wawancara mereka, entah saat kalah maupun saat menang. Karena itu, saya merasa cukup tahu tentang mereka. Di luar itu, saya pikir, pada dasarnya kapten-kapten Liverpool dalam 30 tahun terakhir adalah sederetan sosok yang baik-baik saja, tak punya masalah berat di luar lapangan, tak punya skandal. Hidup mereka tidak neko-neko. Dalam bahasa lebih lugas, saya pikir, mereka sosok yang membosankan, yang tidak terlalu menarik untuk diketahui lebih dalam.
Saya, tentu saja, sedikit merasa bersalah dengan Stevie, juga dengan Hendo dan Van Dijk—mereka adalah pahlawan-pahlawan kami, mereka mengangkat piala-piala untuk kami, dan mereka akan tinggal di hati kami dalam waktu yang lama. Tapi saya tak bisa membohongi diri sendiri: saya tak bisa melihat buku dengan cara yang sama dengan saya menonton sepakbola. Liverpool akan tetap saya tonton dan tunggui, meskipun mereka sedang sangat busuk, meskipun yang melatih adalah medioker macam Roy Hodgson, dengan pemain-pemain antah-berantah macam Paul Konchesky, Jon Flanagan, dan David Ngog. Tapi saya membenci buku yang buruk; saya membenci kisah orang-orang dengan hidup lempang yang didramatisasi.
Dalam cara demikian, saya bertaruh untuk diri sendiri, kesempatan untuk membaca ulang memoar Roy Keane (Keane, 2002) atau biografi Eric Cantona (Cantona: The Rebel Who Would Be King, 2009), dua pemain yang identik dengan klub yang paling saya benci, jauh lebih tinggi dibanding saya membaca memoar Gerrard. Dan jika saya bisa mendapatkan memoar legenda dan ikon Everton, Duncan Ferguson (Big Dunc, 2025) yang baru saja terbit, sepertinya saya juga akan membacanya lebih dulu.
***
Empat buku mungkin cukup banyak untuk kebanyakan penggemar sepakbola yang biasanya hanya menumpuk kaos dan pernak-pernik dan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk nonton bareng. Tapi, jelas ini terlalu sedikit untuk orang yang mengaku menggemari liverpool selama 30 tahun lebih sekaligus suka membaca. Ya, saya tak akan seperti seorang kawan sesama Kopites yang saya kenal yang mengumpulkan buku apa pun yang berkait Liverpool, tapi saya mestinya memiliki sedikit saja lebih banyak dari cuma empat.
Saya mestinya menyimpan setidaknya satu dari belasan buku tentang masa-masa kepelatihan Klopp. Barangkali karena pengalaman membaca saya, Bring The Noise (2017) dari Raphael Honigstein saya bayangkan akan enak dibaca. Honigstein, kontributor Jerman untuk Guardian, sudah tahu Klopp sejak lama; saya yakin, saya bahkan sedikit tahu sejarah awal Klopp, jauh sebelum ia ke Liverpool, dari buku Honigstein, Das Reboot (2015), yang menceritakan kebangkitan kembali sepakbola Jerman sebelum mereka menjadi juara dunia di 2014.
Karena buku Honigstein sudah sedikit kadaluarsa, saya rasa saya bisa tambahkan buku berkait Klopp yang lebih baru. Believe Us (2020) dari Melissa Reddy sepertinya menarik. Saya tak tahu kualitas tulisan Reddy—konon ini adalah bukunya yang pertama. Tapi saya ingin tahu bagaimana seorang perempuan, dengan akar Asia, menulis Liverpool. Selain Amy Laurence yang spesialis Arsenal dan Suzanne Wrack yang khusus menulis sepakbola perempuan, saya tak banyak mendengar dan membaca para penulis perempuan di sepakbola.
Juga karena kepalang basah, saya rasa penting untuk memiliki dan membaca The Anatomy of Liverpool (2013) dari Jonathan Wilson. Wilson, yang secara sarkastis disebut oleh Mourinho sebagai Einsteinnya sepakbola karena sikap sok pintarnya, adalah penulis dengan buku bola paling banyak yang saya punya—dan saya baca. Meski kadang saya juga sebal dengannya, terutama karena karakternya yang menggurui (dan belakangan karena sikap moralisnya), tapi disebut Einstein oleh Mourinho tentu bukannya tanpa alasan. Dan, ya, harus diakui, buku-buku sepakbolanya selalu kaya oleh data dan cerita.
Salah satu biografi dari Dalglish atau Keegan, atau kedua-duanya, saya rasa akan menjadi koleksi menarik. Saya punya Get It On (2022) dari Jon Spurling dan All Crazee Now (2021) dari David Tossel, keduanya menulis tentang kegilaan dan kehebohan sepakbola Inggris era ‘70an. Buku tentang Keegan dan Dalglish saya rasa akan sempurna untuk melengkapi keduanya.
Untuk menebus rasa bersalah terhadap Gerrard, saya kira saya tetap membutuhkan buku lain. Saya akan sangat senang jika jika punya satu di antara memoar Graeme Souness atau Neil Ruddock. Souness, karena ban kapten yang pernah dipakainya, dan era kejayaan yang diwakilinya, juga kebesaran namanya sendiri, tapi terutama tipikalnya yang sangat berbeda dengan para kapten baik-baik yang belakangan identik dengan Liverpool, saya pikir akan jadi penebusan yang sepadan. Tapi Ruddock saya kira juga cukup menarik, mengingat ia adalah sosok berangasan di antara bocah-bocah tampan asuhan Roy Evans.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025


Iqbal
Wowwww 🤯🤯🤯. YNWA mas. Keren sekali, dan resonate dengan saya 😁
punz
woww ceritanya seruu sekali😆😆
Tio
ceritanya sangat bagus dan menarik