
Dongeng Setelah Kejadian
sebilah jantung mulai lelah
mendayung kapal nyaris karam
tak butuh tahu
bunga yang tumbuh di belakang rumah
kering kerontang
segenggam benak bercerita perkara rencana
patah di rengkah hutan
arungi ilusi paling girang
belum sepenuhnya sadar
hamparan rencana menjelma benang
menyangar
dalam kelam
seulas paru tergagap
menghapal sebaris lirik
di seluk kereta
penuh sampah dan lintah
menuntunnya pulang
usai perjalanan jauh
tak kenal tujuan
ke rumah menjelma stasiun
penuh nyawa
kering kerontang
2024
Penggumam dalam Jantung
kaukah ulangan kejadian
memburu gelinding tubir curam
ampas perayaan, aum kemarahan
dipeluk kesia-siaan
dirimukah jentik tersambar katak
menjaring kesumat
dihidang dalam upacara
penunggu belantara liar
kamukah pemadam gerak
kala penonton menunggu kecipak
merontokkan rahang
musim menguak
kaukah cerobong
aliri gelombang
macetkan gerak
yang mestinya telak
menyumpal onak
2025
Usaha Meredam Isak
setelah bangun dari mimpi lama
menjajal malam-malam hampa
kau pinta prahara mereda
rayuan terinjak, daki-daki tak sengaja
tertusuk sinar garang mentari meraja
meringkus doa yang lama terlupa
meriap tak tentu rimba
di lemari pengelana
setelah seluruh jalan melipat usia dalam sebundel kitab
orang-orang merasa kosong, hanya menatap
kau urai sisa jerami tempat rabu istirahat
lembap-mendengkur, menghuni langkisau sesat
harap meliar, hinggap di elang tak bersayap
menodai laut gagap merindu gelombang
ombak tak meninggi menggapai mega kesiangan
karang mengelupas seirama cabik layar
setelah terjaga dari unggun kata
membuncah dari lidah hambar
kau gunting palung nadi
menggedor jantung
meledakkan malam
2025
Tubuhku Rumah Air
tubuhku berenang
melena belulang
menyusur aorta
melawan arus menggerus
nostalgia
menyarang, bekukan darah
bagi pusaran bah, kalbu terhunjam
ginjal tenggelam, hanyut membadai
kecipak napasmu
jasad mengapung
menggedor paku
menjelaga tsunami
membongkar sukmaku
mata air mencemarkan mimpi
ombak mendaki
menggelembung
pematang waktu
lenganku air gerayangi kasihmu
jariku sembilu jelajahi rona parasmu
huruf-hurufku belati liang nafsumu
mengairi denyar rayumu
udara sesak air, membungkus cakrawala
unggun kejadian hanyut
firman mengalun, senyap kerongkongan
banjir maha rapi
menyembilu
anyir zaman
2024
- Puisi Mohammad Isa Gautama - 9 December 2025
- Puisi Mohammad Isa Gautama - 17 September 2024
- Sajak-Sajak Mohammad Isa Gautama; Mata Pancing - 7 August 2018
