
Lapangan itu becek. Rumputnya jarang-jarang, beberapa bagian tanahnya menganga, dan pagar seng berderit tiap kali tubuh penonton bersandar, seperti hendak merobohkan batas antara permainan dan suporter. Di sanalah, sepak bola tarkam (antar kampung) menjelma lebih dari sekadar pertandingan—ia menjadi harga diri, menjadi taruhan, menjadi doa yang kadang tak sampai ke langit.
Di pinggir lapangan, para supporter berkumpul. Anak-anak kecil memanjat pagar sambil mencekik plastik es teh Solo. Sejumlah lelaki dewasa menggenggam rokok dan uang taruhan, seolah dua benda itu adalah dua sisi dari keyakinan yang sama: bahwa nasib bisa ditebak, atau setidaknya dibeli. Ada pula penonton perempuan. Mereka duduk di bangku kayu warung dadakan, menyilangkan kaki, mengunyah ketan, lupis, atau gorengan, bersorak pada sesuatu yang kadang tidak mereka pahami sepenuhnya—tapi mungkin justru di situlah letak keindahannya.
Dan di antara semua itu, Mardali berdiri dengan raut wajah cemas. Dadanya penuh oleh sesuatu yang tak pernah selesai: penyesalan. Dulu, ia berlari dengan dada terbuka seperti orang yang percaya masa depan adalah miliknya. Kakinya ringan, napasnya panjang, dan bola selalu tunduk pada kehendaknya. Sepak bola memberinya nama, dan nama itu hampir menjadi sejarah ketika ia dipanggil ke tim nasional junior. Di stadion yang lampunya lebih terang dari siang hari, ia pernah merasa hidupnya sudah ditentukan—bahwa ia akan menjadi seseorang.
Namun satu tekel dalam pertandingan melawan Vietnam Junior membuat segalanya runtuh. Tempurung lututnya hancur dihajar “Nguyen”, tapi yang lebih hancur adalah harapannya. Sebab sejak itu, Mardali tidak pernah benar-benar berjalan dengan tegak. Bukan karena lututnya—yang sudah sembuh—melainkan karena sesuatu di dalam dirinya yang retak dan tak pernah bisa disatukan kembali.
Maka ia memindahkan hidupnya ke tubuh anaknya. Oki. Nama itu sederhana, seperti langkahnya yang selalu ragu. Oki tidak pernah benar-benar mencintai sepak bola. Ia bermain karena ayahnya menyuruhnya bermain, berlari karena diteriaki, menendang karena takut mengecewakan. Dalam tubuhnya, sepak bola tidak tumbuh sebagai gairah, melainkan sebagai kewajiban.
Sebagai penyerang, ia gagal, terlalu lambat mengambil keputusan. Sebagai gelandang, ia hilang, tak pernah tahu ke mana harus mengalir. Sebagai bek, ia canggung, seperti tubuh yang tidak mengenali dirinya sendiri. Ia selalu berada di tempat yang salah, pada waktu yang tidak tepat.
Sampai suatu hari, dalam sebuah pertandingan kecil yang bahkan tak layak disebut pertandingan, penjaga gawang mereka cedera. Tanpa banyak pilihan, Oki didorong ke bawah mistar dengan cemooh dan tawa.
“Ya udah, lu aja!”
“Yang penting badan gede!”
“Kalau kebobolan, ya udah, nasib!”
Tidak ada yang berharap apa-apa darinya. Dan justru karena itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Bola yang seharusnya menjadi gol tiba-tiba berbelok. Tendangan keras kehilangan niatnya di udara. Sundulan yang sudah pasti masuk, entah bagaimana, melambat seperti menunggu ditangkap. Oki sendiri tidak mengerti. Ia hanya berdiri. Dan bola tidak masuk.
Orang-orang mulai datang bukan untuk melihat pertandingan, tapi untuk menyaksikan keanehan.
“Oki gak bisa dibobol,” kata seseorang.
“Bukan dia yang jaga,” jawab yang lain.
Bisik-bisik itu tumbuh seperti lumut di dinding yang lembap. Ia merambat dari warung ke warung, dari lapangan ke gang sempit, dari mulut ke mulut yang setengah percaya dan setengah takut. Bahkan ke percakapan di medsos, di-copas ke chat-chat privasi sampai ke grup WA.
Malam sebelum pertandingan, Oki mulai bermimpi. Dalam mimpinya, ada seorang pemain bola. Kaki orang itu patah, diseret seperti kayu lapuk. Wajahnya samar, seperti dilihat dari balik air. Tapi matanya, matanya seperti meminta sesuatu yang tak bisa diucapkan. Ia selalu berhenti di depan gawang. Dan menatap Oki.
Ketika Oki terbangun, sarung tangannya basah oleh tanah. Bau kuburan seperti ikut bangun bersamanya. Ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Karena ia tahu, beberapa hal tidak menjadi lebih ringan ketika diucapkan.
**
Kompetisi antarklub kampung bertajuk “Lotus Berjaya Cup” datang seperti pesta sekaligus perang. Hadiah seratus juta rupiah diumumkan dengan pengeras suara yang sember, tapi yang diperebutkan lebih dari itu: nama, harga diri, dan dendam lama yang tak pernah benar-benar padam. Tim-tim dari kampung sekitar datang dengan segala cerita mereka: pemain bayaran, janji-janji yang belum lunas, dan ambisi yang tak bisa dijelaskan.
Oki FC, tim besutan Mardali, melaju tanpa cela. Orang menyebutnya tim legend. Bukan karena mereka hebat saja, tapi juga karena mereka tidak bisa dikalahkan dan menjadi juara bertahan. Setiap pertandingan adalah pengulangan dari keanehan yang sama. Bola selalu gagal menemukan jalannya ke gawang mereka. Dan setiap kali itu terjadi, Mardali berdiri di pinggir lapangan menyimak pertandingan tim besutannya.
Di sisi lain, ada Laila FC, tim milik Anjasmara. Anjasmara adalah lelaki yang selalu tersenyum seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Senyumnya tipis, matanya tajam, dan langkahnya tenang seperti orang yang tahu ke mana ia akan pergi, bahkan sebelum perjalanan dimulai. Ia tahu bagaimana cara menang. Di dalam lapangan dan di luar lapangan.
Ia membangun timnya dari pemain bayaran, dari utang dan janji. Setiap pemain adalah investasi. Setiap kemenangan adalah pengembalian. Di antara mereka, ada Black. Namanya seperti ironi yang tidak pernah dijelaskan. Kulitnya putih bersih, wajahnya dingin seperti kaca. Ia jarang berbicara. Tapi kakinya, kakinya berbicara dengan cara yang tidak bisa dibantah. Tendangannya keras. Niatnya yang tidak bisa ditawar. Orang-orang bilang, jika Black sudah menatap gawang, itu bukan lagi kemungkinan, tapi itu keniscayaan.
Laila, anak perempuan Anjasmara, diam-diam mencintai Black. Tapi cinta itu seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar tumbuh. Ia lebih mirip kekaguman yang terlalu lama dibiarkan jadi semak belukar. Sampai ia melihat Oki. Dengan segala keraguannya. Dengan kejujurannya yang seperti tidak cocok hidup di dunia yang keras ini. Oki tidak pernah mencoba menjadi siapa-siapa. Dan mungkin justru itu yang membuatnya berbeda.
Sarkim, sahabat Oki sejak kecil, berteriak paling keras di tribun. Suaranya serak, tubuhnya kurus, tapi keyakinannya tidak pernah goyah.
“Ki! Lu bisa, Ki!”
Ia percaya pada Oki seperti orang percaya pada mukjizat—tanpa alasan yang jelas. Namun tidak semua percaya. Marcel, mantan pemain tim nasional yang tersingkir oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar dijelaskan, menatap Oki dengan mata yang berbeda. Marcel sudah tidak main di timnas karena tersingkir oleh para pemain naturalisasi. Ia pernah melihat sesuatu seperti ini, jauh sebelum main di timnas. Atau mungkin, ia pernah merasakannya.
“Yang jaga itu bukan cuma dia,” katanya suatu malam.
Oki tidak menjawab. Ia tahu kata-kata itu bukan tuduhan. Itu pengakuan.
**
Final tiba seperti hari kiamat kecil bagi kampung itu. Hujan turun sejak sore. Lapangan berubah menjadi kubangan. Lumpur menelan langkah dan garis-garis putih lapangan hilang dari pandangan. Lampu-lampu pun dipasang seadanya.
Penonton membludak. Suara mereka naik seperti ombak. Di belakang gawang, ritual dilakukan lebih dari biasanya. Air kembang disiramkan. Tanah kuburan ditabur. Seorang lelaki tua berbisik sambil menatap tanah, seolah berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat.
Mardali berdiri di sana. Dan untuk pertama kalinya, ia tampak seperti seseorang yang tidak sepenuhnya menguasai apa yang telah ia mulai. Ia menatap Oki berdiri di bawah mistar. Dan ia tahu. Putranya tidak sendiri. Di belakangnya, sosok itu muncul lagi. Lebih jelas. Lebih dekat. Kakinya patah. Tubuhnya miring. Tapi senyumnya, senyumnya seperti menemukan rumah.
Pertandingan berjalan ketat dan keras. Benturan tubuh terjadi berkali-kali. Peluit wasit tenggelam dalam teriakan. Lumpur terpercik ke mana-mana, menempel di wajah, di baju, di mata, membuat semua orang terlihat sama: kotor, lelah, dan penuh harapan. Dan setiap kali bola mendekat, Oki merasakan tangannya bergerak sendiri.
Ia menyelamatkan semuanya. Atau sesuatu dalam dirinya yang menyelamatkan. Skor imbang. Waktu habis. Tak terasa sudah dua babak. Tak ada perpanjangan waktu karena menghindari waktu azan Magrib. Langsung adu penalti. Langit seperti menahan napas. Mardali mendekat. Wajahnya bukan lagi wajah seorang ayah. Itu wajah seseorang yang telah berjalan terlalu jauh, tetapi tak ada jalan untuk kembali.
“Kalau kamu mau menang…” katanya pelan, “biarkan dia tetap di situ.”
Oki menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari roh di belakangnya. Penyesalan, yang memilih untuk terus hidup.
Dari tribun, suara Laila menembus segalanya.
“Kalau menang, tapi bukan usahamu … buat apa?”
Kalimat itu seperti pisau. Membuka sesuatu dalam diri Oki. Ia menutup mata. Dalam gelap, ia melihat lagi pemain itu. Kini lebih dekat. Hampir menyentuhnya.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Oki.
Tak ada suara. Hanya tatapan. Lalu Oki mengerti. Ia bukan penjaga gawang. Ia yang dijaga, entah oleh siapa, karena sosoknya tak kelihatan. Perlahan, ia membuka sarung tangannya. Menjatuhkannya ke tanah.
“Gue gak mau menang kayak gini.”
Angin berhenti. Sosok itu menjerit. Tetapi bukan marah. Seperti … setengah kecewa, setengah sedih. Lalu ia hilang. Sepi. Untuk pertama kalinya, Oki benar-benar sendiri.
**
Penendang terakhir: Black. Ia berjalan pelan. Bola diletakkan di titik putih terbuat dari goresan cat kapur, namun warnanya mulai samar oleh lumpur. Black mundur beberapa langkah. Semua penonton terdiam. Black menatap Oki. Lama. Ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Sekarang adil,” katanya pelan.
Ia berlari. Menendang. Bola meluncur keras, membelah udara, menuju sudut yang tak mungkin dijangkau. Oki bergerak. Refleks. Naluri. Atau mungkin—sesuatu yang lebih sederhana: keberanian. Ia melompat. Waktu pecah. Bola menghantam sesuatu. Suara dentang keras memantul ke seluruh lapangan. Tiang gawang. Bola terpental keluar. Penonton meledak. Oki jatuh ke tanah. Tubuhnya tenggelam dalam lumpur. Ia menang. Tanpa bantuan siapa pun. Mardali memekik. Pemain lain dan suporter memeluk dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Setelah itu ia dibiarkan sendiri.
Sore berangsur gelap. Azan Magrib bergema dari sudut-sudut kampung. Penonton pulang dengan cerita masing-masing. Uang taruhan berpindah tangan. Tawa dan tangis bercampur di jalan-jalan sempit yang basah oleh hujan. Warung kopi dadakan ditutup pemiliknya. Lapangan kembali sunyi.
Oki masih duduk sendiri di dekat gawang, ditunggui Mardali yang puas dengan kemampuan putranya. Sarung tangannya masih di tanah. Ia mengambilnya. Dan terdiam. Di bagian dalam sarung tangan itu, ada tanah yang masih basah. Dan sesuatu yang lain. Sehelai tulang kecil. Seperti serpihan jari. Oki menoleh pelan ke arah gawang. Kali ini tak ada “siapa-siapa”. Ia memejamkan mata, lantas menggumam, “ternyata … aku bisa.”
***
*)Tangerang Selatan, 2026
- Raja Tarkam - 29 May 2026
- Doa-Doa di Atas Kepala - 18 February 2022
