Puisi Yohan Fikri

 

Aswatama

 

Sebuah malam melata ketika kapak

dendam mengetuk pasak,

mengutuk tiang-tiang tenda

 

Di saku jubahmu,

ingatan seorang

ayah

pecah.

 

“Panggil aku dendam,”

——setelah sebuah tikam.

 

Langit warna jintan

membalsam di keningmu.

Darah menoreh bekas pada terpal

sementara kau hikmati dengus

akhir napas tersengal.

 

“Selamat tinggal!”

 

Tapi barangkali watak dari nafsu

: menagih lebih, meski satu perih tuntas

tertoreh pada halaman tawarikh.

 

Maka setelahnya adalah jerit,

dan selebihnya adalah kutukan:

sebuah lakon, yang harus terus berjalan.

 

***

 

Beberapa saat

sebelum ia melangkah seperti dares tua

ke pangkal langit utara, ke arah tiga ribu masa, ia

telah tahu bahwa ia akan kalah, sebetulnya. Ia

telah tahu bahwa pada sebuah malam ketika ia

melata, dan menggasak pasak seperti landak pada

tiap tiang penjaga, “kemenangan” barangkali

hanyalah usaha mengisi

tubuh dengan udara—atau

dengan cara

apa saja.

 

(2026)

 

 

Kelahiran Kedua

 

telunjuk kananmu yang getas

menuding ke arah dada kiriku yang ranggas.

kosong                         tukasmu

 

dan mega pun berderak; mega tembaga

di ufuk tangisku yang melata.

 

sebab di kepalamu masih berenang

jutaan ikan yang mengembara, hanya

demi mencari, di manakah asin bahari

 

angkat lagu dan bunyikan rampak rebana,

anakku. petiklah kecapi sunyi beriringkan

gambus itu. tiuplah sangkakala pada bulan baru,

bulan yang purnama, di langit hari raya kita

—sebelum nanti hati kian mungkir

dihanyutkan sebak banjir.”

 

tapi tuhan berputing jantan, ayah

—telah membuat seligi tajam bertimbalku

mengacung begitu kekal.

 

telah juga ia titiskan kehausan musa

di dadaku yang basah, supaya aku jadi burung

di gigir sampan, mereguk secebis asin lautan.

 

di hari depan, di hari kamulyan, biarlah kurawi

takdirku sendiri sebagai padang yang tak sempat

dicatat hijau baris kitab-kitab turatsmu.

 

(2026)

 

Nocturno de la Columna

 

kaurengkuh mataku untuk memasuki kesakitan

mahapanjang:

 

leher darah

berkalung cecabang duri,

dan sebandul

burung

mati.

 

di sanggulmu,

seekor capung dan kupu-kupu membeku ke dalam abu

setiap kali ia

mengambil rupa putih sprei

kamar tidurmu yang jelita

 

lalu selembar kaca

menggambar sisa hening

yang tak kuasa dikecup mata kamera.

 

mengambang ia, mengambang

serupa ranjang

di atas gurun gersang.

 

sungguh

jahitan merahmu

hanya menghalau raut sejarah

: dinding rahim hancur

 

dan janin tak sempat tertidur.

 

waktu tak lagi

berjentera

pada cermin patio

yang membelahmu jadi dua

 

siapakah di antara bayang

lembar sepi yang terkembang?

 

rasa takut sekadar raga hampa,

yang bisa dihuni siapa saja

—kau sendiri, kau yang lain,

juga kau yang manapun

— persis tiap kali

kupandang paras bekumu.

 

Inilah waktu abu, bagimu.

dan abu adalah tempat

burung mati tak lagi bernyanyi.

 

dua anjing gundul

berbaring di luar pintu yang terkunci barangkali anjing-anjing lazarus

menanti sisa meja,

menjilati borok tualang patah.

 

jam-jam

keramik itu

tatal

di antara

daun-daun sukulen

 

yang terpenggal memakan

dirinya sendiri,

 

mencatat detik

ketika ia memintamu pergi,

ketika ia memintamu kembali

 

selagi waktu

kehilangan daging,

menyisakan tiang kalsium

di balik korset baja.

 

katakan pada kami,

Santa Maria

doakan kami

para pesakitan kini

dan pada kematian kami,

saat lalat pertama mendarat

di atas putih gaun yalalag .

 

di sanggar kosong itu

kursi roda berhenti

dekat kanvas yang tak selesai,

pintu kayu terbuka terkatup,

penari mati.

 

sayap-sayap jerami

milik kecilmu tak pernah

menerbangkan pesawat mainan,

tetapi kau tetap terikat

tanah kerikil,

 

memegang rokmu

untuk memperlihatkan

luka nganga

sebagaimana Tomas meraba

rusuk Kristus untuk percaya:

 

kesakitan

adalah

keniscayaan

satu-

satunya.

 

maka, di antara

perban dan sanggul bungamu,

jerit tak sempat jadi nada.

hanya kain huipil, barangkali,

memerah marun mimpi:

pesta yang tak kunjung usai,

meski sepasang kakimu telah terkulai.

 

maut itu,

maut itu tak pernah datang

membawa segagang parang

bagi seekor kijang

yang menatap nanar

ke arah belukar.

 

(2026)

 

 

Mikraj

 

Kau pun berkata:

 

Mandilah

 

——sebelum kepak tiba,

dan kudengar riak-riak

membasuh sayap kita

 

Di pangkal akar,

telah mengalir

empat baris nahar

furat dan khamar

 

Tapi di manakah

lanskap ini berakhir?

Di manakah wangi sitrun?

Keteduhan tak bertepi,

di mana tujuh puluh tahun

berkuda hanyalah sekerjap

bayang pada daun

sebutir debu

di pelana

 

Mintalah!

 

Suaramu guruh jatuh, titah

membelah padang-padang tengadah

Nyala api di semak Jabal Sinai

 

Suaramu pun sepi melagu:

air pasang perlahan menggenang

mengecup bukit karang; baris

gerimis lambat melebat sebagai hujan

 

*

 

Beri aku

 

Ya Dzalmalakut, iman sehijau

mata zabarjud milik lelaki di kaki Uttruj

 

Beri aku dian abadi, bekal kekal

menghadap Engkau Yang Maha Luthfi

 

Beri jari-jariku sekerat berkat,

gunung dan besi lunak-berkarat

 

Beri kedua kakiku sepasang takhta,

hingga jin dan angin pun sujud menghamba

 

Beri telapak tanganku bokor cahaya:

menyuluh gelap pada retina

 

Beri nafasku ruh penyembuh, keramat

dan khasiat: Taurat bagi jiwa yang terluka

Injil bagi nasib yang menggigil

 

*

 

Telah Kusembelih malam hanya

untukmu, dan Kutaruh tujuh melati

baka, delapan panah cahaya, yang kan

melingkar di gelang tanganmu

Ayat-ayat pemungkas dari lumbung

bawah Aras, sebagai jimat bagi umatmu

Sebab jauh sebelum dunia dirakit dari debu

dan bahasa, kaulah “kata pertama”

yang menggelang-melingkar di sepasang kerajaanKu.

 

(2026)

Yohan Fikri
Latest posts by Yohan Fikri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!