Basirah: Saksi Kemuraman Tiga Perempuan Beda Generasi

Judul Buku: Basirah

Penulis: Yetti A.KA

Penerbit:  DIVA Press

Tahun Terbit: Oktober 2018

Tebal: 184 halaman

ISBN: 978-602-391-625-2

Sejak membuka halaman awal bercoretan tanda tangan penulis dalam spidol biru, saya menyadari saya akan menemukan jejak-jejak kekhasan cerpen seorang Yetti A.KA dalam novel teranyarnya ini. Betul saja, saya menemukannya: tokoh-tokoh perempuan yang agak misterius, alur dinamis, karakter nan kuat, dialog-dialog tanpa tanda petik, dan sekelumit kemuraman.

            Basirah, yang menjadi latar novel ini, adalah nama sebuah kota kecil dan sama sekali tidak gemerlap, dengan masa lalu sebagai pasar rempah-rempah. Basirah bukan sekadar kota, ia juga punya arti lain.

            Basirah itu apa? tanya Imi.

            Inti perasaan terdalam, timpal Mama.

            (hlm. 84)

            Sebagaimana dalam cerpen-cerpennya, Yetti A.KA kembali mengangkat tema perempuan beserta pernak-pernik kehidupannya dalam novel ini. Tiga tokoh sentral novel ini—Imi, Mama, dan Nenek Wu—adalah tiga perempuan beda generasi dengan nasib dan kesunyian masing-masing.

            Menyoal alasan senantiasa menyoroti dan mengangkat nasib para perempuan dalam tulisannya, Yetti A.KA pernah mengungkapkan dalam suatu wawancara, “Tak ada yang sebaik perempuan dalam menyuarakan apa yang sesungguhnya terjadi atas dirinya, dunianya. Dunia perempuan dibangun atas pelabelan-pelabelan, misal, perempuan itu biasa menyembunyikan perasaan dan pikiran, itu yang aku ‘lawan’.”

            Tak banyak penulis perempuan Indonesia yang mencolok dalam ‘menyuarakan apa yang sesungguhnya terjadi atas dirinya, dunianya’ dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Feby Indirani dengan Bukan Perawan Maria, Intan Paramaditha dengan Sihir Perempuan dan Gentayangan, Nh. Dini almarhumahdengan novel-novelnya, dan Yetti A.KA dalam novel ini—sekadar menyebut beberapa contoh—menjadi di antara yang sedikit itu.

            Sebagai lelaki mungkin saya tak terlalu merasa terhentak dengan keseluruhan isi cerita. Saya yakin perasaan berbeda akan dialami bagi pembaca perempuan buku ini. Perasaan terhubung dan terhentak. Merasa terkait dengan tokoh-tokohnya dan cerita mereka dan barangkali akan mengenangkan mereka pada hidup mereka sendiri pada suatu masa.

            Perempuan pertama adalah Imi. Seorang anak kecil tanpa ayah, tanpa nenek, tanpa keluarga selain Mama, sekaligus tokoh paling sentral dalam novel. Imi tumbuh sebagai anak-anak yang terlalu cepat dewasa, sebab situasi hidup memaksanya demikian. Ia hidup tanpa teman selain Tilar yang lebih sering tak ada, Mama, teman-teman Mama, dan seekor anjing raksasa bernama Bolok yang mengingatkan saya pada anjing bernama Barrabas dalam Rumah Arwah-nya Isabel Allende, yang juga menjadi teman bagi perempuan kecil bernama Clara.

Anjing dalam cerita ini begitu metaforis, tampil sebagai makhluk setia dan penuh pengorbanan, seolah menjadi antitesis bagi lelaki-lelaki pengkhianat dan bejat. Bolok, anjing itu, selain teman Imi juga teman Mama. Hidup sepasang anak dan ibu yang mulanya muram itu menjadi lebih cerah semenjak kehadiran Bolok yang mereka temukan di suatu jalan, sebelum kemudian hidup mereka kembali muram saat Bolok ditemukan mati suatu hari dengan leher penuh darah dan telinga terpotong.

Perempuan kedua adalah Mama. Perempuan peramal kartu tarot yang hidupnya bertabur rasa sakit dan patah hati. Dan kautahulah siapa biang kerok dari rasa sakit dan patah hati itu, siapa lagi memang kalau bukan kita—lelaki?  Dua kali Mama ditinggalkan oleh lelaki. Dua kali di hati Mama benih sakit itu tumbuh menjelma kemuraman-kemuraman. Benih sakit pertama ditaburkan oleh seorang lelaki beristri beranak tiga, yang disebut Imi sebagai “lelaki yang tak pernah ada dalam hidup kami”. Benih sakit kedua ditaburkan oleh Om Pohon, lelaki yang oleh Imi diperumpamakan “seperti sebatang pohon abadi”—pohon yang menumbuhkan luka?

Bagian cerita Mama adalah bagian paling subtilsepanjang novel. Mama, seolah menggambarkan definisi penerimaan yang sesungguhnya, kepasrahan yang seutuhnya. Bagaimana ia ditinggalkan oleh lelaki yang menghamilinya dan tetap memperjuangkan hidup bersama putrinya—Imi—yang disebutnya “hadiah”. Bagaimana ia mendapati anjing kesayangan mati tiba-tiba dan “memakamkannya” dengan legawa. Bagaimana ia menyikapi Om Pohon yang menikah dengan perempuan lain, dengan kecemburuan, namun tidak meledak-ledak, lebih seperti petasan yang gagal meletus. Bagaimana ia menyambut kedatangan kembali putrinya yang telah pergi tanpa kabar selama dua puluh tahun dengan ledakan tangis. Tangisan rindu dan lagi-lagi begitu muram.

Perempuan ketiga adalah Nenek Wu. Seorang perempuan bisu setengah hantuberumur ratusan tahun yang cuma bersuara “wu wu wu” dan hidup bersama hantu-hantu anak-anak dan suaminya. Ia teman Imi, tapi bukan teman Mama. Tetapi sesungguhnya mereka bertiga adalah berteman. Berteman dalam kemuraman. Tak beda jauh dengan Mama, nasib Nenek Wu demikian pulalah. Nenek Wu adalah perempuan korban pemerkosaan dan itulah alasan mengapa ia membisu. Bagian membisu ini, lagi-lagi, mengingatkan saya pada novel Rumah Arwah, di mana tokoh Clara pernah tiba-tiba menjadi bisu—memilih bisu, tepatnya.

            Akhir hidup Nenek Wu mengerikan. Karena Nenek Wu hanya bisa ber-wu-wu-wu belaka dan tidak bisa melawan. Maka, ketika Imi menghilang lama dan orang-orang menuduhnya sebagai penculik anak, lalu membakar pondokannya, Nenek Wu cuma pasrah. Mati dalam kobaran api yang menyala-nyala. Persis dengan kematian suami dan anak-anaknya dulu.

***

            Imi, Mama, danNenek Wu barangkali adalah potret perempuan, dari zaman ke zaman. Kesepian, ditinggalkan, terzalimi. Pada saat yang sama, Imi, Mama, dan Nenek Wu juga merupakan potret perlawanan seorang perempuan terhadap nasib yang mengungkungnya. Menjadi dewasa, menerima dengan ketabahan, atau melawan dengan kebisuan. Atau barangkali Imi, Mama, dan Nenek Wu, hanyalah warga biasa dari sebuah kota bernama Basirah. Hanya warga biasa dari inti perasaan terdalam. (*)

Erwin Setia

Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos,Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa dihubungi melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Latest posts by Erwin Setia (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Sebagai resensi, menurutku tulisan ini terlalu spoiler tanpa diimbangi kritiknya mengenai bukunya. Padahal banyak aspek yang bisa dikomentari dari sebuah buku selain jalan ceritanya atau pengaitannya dengan realitas sosial yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.