Belajar Meramu Cerita

Judul: Surat-Surat kepada Seorang Novelis Muda
(diterjemahkan dari Letters to a Young Novelist)
Penulis: Mario Vargas Llosa
Penerjemah: An. Ismanto
Penerbit: Circa, Yogyakarta
Tahun Terbit: Desember, 2018
Tebal: 158 halaman
ISBN: 978-602-52645-5-9

Menulis bukanlah pekerjaan ringan dan tidak selalu menjanjikan imbalan (sosial, finansial, bahkan politis) bagi pelakunya. Lalu kenapa masih banyak orang kukuh ingin jadi penulis dan teguh di jalan sastra?

Surat pertama Mario Vargas Llosa berjudul “Perumpamaan Cacing Pita” menjawab pertanyaan itu dengan tangkas dan mendalam. Bahwa orang yang sudah “tersesat” dalam pekerjaan literer memandang bahwa pelaksanaan keterampilan mereka merupakan imbalan terbaik, dan bukan hasil yang (mungkin) mereka peroleh setelahnya. Dengan kata lain: menulis adalah imbalan (berkah) itu sendiri, yang hanya dengan menekuninya hidup baru akan terasa utuh. Orang yang sudah dijangkiti keasyikan permanen terhadap kesusastraan, akan rela menumpahkan waktu berjam-jam untuk menulis dan melakukan apa pun untuk sastra.

Sebagaimana cacing pita yang makan dari tubuh yang diserangnya, pekerjaan literer makan dari kehidupan sang penulis itu sendiri. (hal. 12)

Surat pertama itu sekaligus menjadi dasar filosofis atau semacam fondasi yang mesti dibangun bagi seorang yang ingin mengabdikan diri sebagai pekerja literer. Dalam surat pertama itu, Llosa juga mengajak pembaca untuk mengingat-ingat kembali seputar dasar-dasar dunia fiksi dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan. Fiksi adalah dunia rekaan, yang memiliki pengaruh terhadap dunia nyata, walau tidak serta-merta. Bagi Llosa, “Fiksi adalah dusta yang menyaput kebenaran yang teramat dalam.” (hal. 7).

Untuk menciptakan kehidupan dunia fiksi yang “nyata” penulis memerlukan resep, teknik, dan metode yang baik. Bukan saja untuk memudahkan penulis dalam bekerja merampungkan karyanya, tetapi agar karya fiksi yang dihasilkan dapat “dipercaya” dan memberi kesan dan makna mendalam bagi pembaca. Hal itulah yang mencoba didedahkan Llosa melalui surat-suratnya.

Buku ini memuat 12 surat yang masing-masing diberi judul sebagaimana sebuah esai. Llosa baru memulai memaparkan tentang perangkat-perangkat fiksional itu mulai dari surat ke-dua sampai surat kesebelas, dan menutupnya dengan “Semacam N.B” pada surat terakhirnya.
Dalam surat kedua berjudul Cotablepas, penulis menjawab pertanyaan kebanyakan penulis pemula, tentang dari mana ide cerita berasal dan bagaimana para novelis mendapatkan ide, juga soal pemilihan tema.

Coplatablepas adalah semacam makhluk ajaib yang memangsa dirinya sendiri dimulai dari kakinya, sebagaimana tertuang dalam novel The Templatation of Saint Anthony karya Flaubert. Penulis novel, menurut Llosa tidak jauh beda dengan Coplatablepas; ia memungut pengalamannya sendiri untuk mendapatkan bahan mentah ceritanya, yang kemudian dialihragamkan, diperkaya, diintegrasikan dengan bahan-bahan lain yang diingat atau diciptakan, dan kemudian dimanipulasi dan diberi struktur hingga novel tersebut menjalani kehidupannya sendiri. Tapi, “cerita-cerita yang tidak pernah melepaskan diri dari pengarangnya dan hanya berperan sebagai dokumen biografis, tentu saja adalah fiksi yang gagal.” (hal. 22).

Surat-surat selanjutnya, secara berurutan berjudul “Daya Membujuk”, “Gaya”, “Narator dan Ruang Naratif”, “Waktu”, “Tingkatan-Tingkatan Kenyataan”, “Peralihan dan Lompatan Kalitatif”, “Kotak Kemasan China”, “Fakta Tersembunyi”, dan “Pembuluh Penghubung. Hampir-hampir semua alat, metode, dan teknik menggubah cerita yang pokok telah terpaparkan semuanya melalui surat-surat itu.

Dalam memaparkan konsep-konsepnya Llosa banyak mengambil contoh dari para penulis lain: Kafka, Borges, Gabriel Garcia Marques, Flaubert, Cervantes, Hemingway, dan banyak lagi. Bagi pembaca yang belum pernah membaca karya-karya yang dijadikan contoh tersebut bisa jadi akan gagap dalam memahami penjelasan Llosa. Memang tidak melulu begitu, karena toh Llosa selalu menggambarkan garis besar karya-karya yang ia contohkan.

Duduk dan Menulislah

Buku how to tentang penulisan karya fiksi memang sudah cukup banyak, tetapi apa yang ditulis penulis kelahiran Peru ini cukup unik dan berbeda. Bukan saja cara penyajiannya, yakni dalam bentuk epistolary (karya sastra bentuk surat), tetapi juga cara penyampaiannya. Sebagai peraih Nobel Sastra tahun 2010 Mario Vargas Llosa terlihat betul menguasai topik yang diangkat dalam bukunya ini. Seolah-olah ia sedang membalas surat dari seorang novelis muda yang pernah ditujukan kepadanya.
Novelis muda, tentu saja bukan dilihat dari segi usia, tetapi lebih mengarah pada novelis pemula. Meski sesungguhnya buku Surat-surat kepada Seorang Novelis Muda ini tidak hanya cocok dibaca novelis pemula, melainkan juga novelis dan sastrawan pada umumnya, bahkan pembaca sastra.

Namun penting diingat, buku ini tidak menjanjikan apa pun, sebab inti pekerjaan literer adalah menulis itu sendiri. Semakin kaya kita dengan pengetahuan tentang apa dan bagaimana cerita yang bagus, jika psikologis kita “lemah”, justru dapat membuat kita tidak menghasilkan apa-apa, karena dihantui perasaan takut (jelek, gagal, tak selesai, dll). Llosa menyadari hal itu dan tidak ingin membunuh gairah menulis para pemula. Karenanya, pada surat terakhirnya berjudul, “Semacam N.B” ia berpesan: “Kau harus melupakan apa pun yang telah kaubaca dalam surat-suratku tentang struktur novel ini, lalu duduk saja dan menulis.” (hal. 155). Begitu!

Jusuf AN

Lahir Wonosobo, 2 Mei 1984. Bergiat di Komunitas Sastra Bimalukar, Wonosobo.

Latest posts by Jusuf AN (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.