Catatan Kecil Freud tentang Catatan Kecil Nietzsche tentang Perempuan, Cinta, dan Perkawinan

Olessya

SELESAI membaca aforisme-aforisme Nietzsche dalam buku Mengapa Aku Begitu Pandai yang diterbitkan Circa tahun 2018 (yang pada dasarnya memuat tiga bagian awal Ecce Homo dan aforisme-aforisme dari Human, All Too Human), kita akan menemukan kesan awal bahwa Nietzsche tampak tak memandang tinggi perempuan dan cinta. Dengan menggunakan istilah “kesan awal” maka dimaksudkan bahwa berurusan dengan filsuf sebesar Nietzsche kita idealnya berhati-hati untuk tak tergesa-gesa memberinya label apa pun.

Karena bisa jadi, seperti puisi, apa yang terjadi adalah sebaliknya: bilang begini maksudnya begitu. Ada terlalu banyak “bisa jadi” yang muncul, dari mulai bisa jadi cinta, perempuan, dan perkawinan di dalam aforisme-aforisme Nietzsche hanyalah metafora, sampai bisa jadi aforisme-aforisme Nietzsche hanya sekelumit pemikirannya yang sama sekali tak memadai untuk menjadi dasar pelabelan apa pun. Lagipula Nietzsche adalah filsuf yang membawa “filsafat lebih dekat ke novel”, setidaknya kata Milan Kundera dalam Testaments Betrayed (terjemahannya sudah diterbitkan penerbit Basabasi, 2017), dan membawa filsafat untuk fokus ke hal yang lebih penting: “segala hal manusiawi”.

Novel dan Manusiawi: dua kata ini memiliki kerumitannya sendiri-sendiri. Dalam risalahnya yang terkenal sebagai salah satu cikal bakal gerakan feminisme, A Vindication of the Rights of Woman (1792), Mary Wollstonecraft (1759-1797) menuntut kaum pria memandang perempuan menggunakan rasio, karena hanya berdasarkan rasio-lah maka perempuan bisa dipandang sebagai manusia dan bukan sebagai makhluk ketiga yang bertempat di antara manusia (yakni: laki-laki) dan hewan liar.

Pada bagian pembuka Mengapa Aku Menulis Buku-buku yang Begitu Bagus (hal. 49), Nietzsche menulis bahwa “aku adalah satu hal, tulisanku adalah hal lain lagi”. Ungkapan itu terdengar melegakan, karena di satu sisi ia menyiratkan bahwa Nietzsche menulis dengan rasio, bukan dengan rasa, tetapi setelahnya kita kemudian menemukan dia mengeluh perihal buku-buku dia tidak dipahami pembaca. Bagian selanjutnya dari Ecce Homo, misalnya, memuat pembahasannya sendiri seputar karya-karyanya sampai satu bab sebelum akhir.

Dengan demikian, di satu sisi Nietzsche memutus relasi antara pengarang dengan karangannya tapi di sisi lain dia menyambungkan kembali relasi antara keduanya. Mudah dimengerti bahwa tampaknya relasi yang diputus Nietzsche adalah “relasi teks dengan biografi pengarang”, dan bukan “relasi teks dengan pemikiran pengarang”, akan tetapi membutuhkan penjelasan yang panjang untuk bisa menerima hal itu, terutama karena harus ada penjelas sampai sejauh mana “biografi pengarang” bisa dipisahkan dari “pemikiran pengarang”.

Tulisan ini memilih salah satu “bisa jadi” yang sudah disinggung tadi, bahwa bisa jadi memang “cinta, perempuan, dan perkawinan” yang disebutkan Nietzsche dalam aforisme-aforismenya adalah sesuatu yang literal. Sebagaimana penerjemah mesti menjatuhkan pilihan padanan kata yang bahkan berdasarkan konteks pun kerap kali tidak selalu pas, demikian juga seorang penulis atau pembaca sebuah teks, dengan disertai kesadaran bahwa sebuah pilihan mungkin tak selalu benar, mungkin bukan satu-satunya yang benar.

Untuk tidak mengabaikan pendapat Nietzsche sendiri, mari ikuti pertama-tama sisi psikologi personal yang mempengaruhi berbagai pendapat Nietzsche soal perempuan, cinta, dan perkawinan. Satu kisah terkenal tentang Nietzsche adalah kisah relasinya dengan Lou Andreas-Salome. Secara singkat kisahnya begini: Lou adalah wanita cerdas, Nietzsche jatuh cinta padanya, Lou menolaknya. Setelah itu Nietzsche menulis aforisme-aforismenya tentang cinta dan benci.

Maka mudah sekali menjawab penyebab sinisme bagi perempuan, cinta, dan perkawinan yang hadir dalam aforisme-aforisme Nietzsche sebagai hasil dari kekecewaan Nietzsche akibat kisah cintanya yang gagal itu. Pandangan Nietzsche soal bahwa perempuan selalu jatuh cinta terhadap fisik bisa disangkutkan pada misalnya bahwa Nietzsche memandang penolakan Lou disebabkan karena secara fisik Nietzsche tidak menarik di matanya. Ingat juga bahwa sebagaimana disinggung oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy-nya, Nietzsche menulis aforisme-aforismenya tentang wanita setelah peristiwa itu.

Pertanyaannya: apa menariknya tafsir “gosip” semacam itu bagi kita kini? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “apa menariknya”, karena sosok besar memang selalu memancing ketertarikan kita untuk mengintip kisah-kisah hidupnya, melainkan “apa gunanya?” Penafsiran sebuah teks yang ditarik ke biografi penulis teks tersebut memang memiliki kelemahan semacam itu: hasilnya mungkin menarik, tetapi ia membuat teks menjadi statis, dan kemudian mati. Karena kebenaran diyakini sudah digenggam, maka teks itu menjadi teks yang berbunyi dengan sumbang karena sudah tak ada pintu reinterpretasi. Kapan pun ia dibaca, tafsir maknanya adalah seperti itu.

Maka mari kita mencoba melewati tafsir gosip semacam itu, dan membaca beberapa aforisme Nietzsche tentang cinta, perempuan, dan perkawinan dengan lebih saksama.

*

SETIAP pemikiran memiliki sanadnya sendiri-sendiri, tak ada pemikiran yang jatuh dari langit lantas mengada langsung dari ketiadaan. Dalam kasus Nietzsche, ada banyak sosok yang dikatakan mempengaruhi pemikirannya, termasuk terutama Darwin. Tapi mari kita fokus ke salah satu pemikir besar yang dalam relasinya dengan sang pemikir itu Nietzsche selalu memandang bahwa dirinya adalah penerusnya: Arthur Schopenhauer (1788-1860).

Mereka yang membaca Schopenhauer—yang selain karya utamanya juga menulis esai dan aforisme-aforisme—akan menyadari satu hal yang khas yakni bahwa dia tak memandang tinggi wanita. Bagi Schopenhauer, wanita ditakdirkan untuk tunduk pada pria dan menjadi pendampingnya yang sabar dan menghibur. Lebih jauh, bagi dia perempuan memang merupakan “jenis kelamin kelas dua yang inferior”, “jenis kelamin yang tidak estetik”, dan “sama sekali tidak memiliki objektivitas pikiran”. Sementara itu, pria, bagi Schopenhauer, memang “berjuang untuk memiliki dominasi langsung terhadap segala hal, baik melalui memahami mereka ataupun menundukkan mereka”.

Salah satu pemikir besar yang mengalami zaman yang sama dengan Nietzsche (1844-1900) dan juga—sebagaimana Nietzsche—selalu memandang Schopenhauer dengan hormat adalah Sigmund Freud (1856-1939). Bukan kebetulan jika tokoh yang satu ini selalu dibandingkan juga dengan Nietzsche dan dikatakan memiliki banyak kesamaan dalam pemikiran mereka (lihat misalnya Freud and Nietzsche karangan Paul-Laurent Assoun), meski tentu saja dalam berbagai aspek lain mereka bisa sangat bertentangan. Kita akan mencoba membaca Nietzsche bersama “kawan seperguruan”-nya ini.

Berikut beberapa kutipan Nietzsche tentang cinta, perempuan, dan perkawinan dalam aforisme-aforisme yang dalam buku ini ditemukan dari halaman 65-121:

  1. Cinta itu tolol, dan berlimpah dengan duri-duri. (hal. 85)
  2. Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar. (hal. 118)
  3. Cinta tidak mengakui kekuasaan, tidak ada yang memisahkan, membedakan, kedudukan yang lebih tinggi atau bawahan. (hal. 120)

Nietzsche memandang cinta dari sudut pandang yang berbeda dengan Freud. Nietzsche cenderung melihat cinta dari dasar bahwa relasi antara satu manusia dengan manusia lain selalu tidak seimbang, karena pada setiap orang selalu ada “kehendak untuk kuasa” dan hal itu mendasari relasinya dengan orang lain. Karena cinta tidak mengakui “kekuasaan”, maka pada titik itulah cinta menjadi sesuatu yang tolol.

Sementara bagi Freud, cinta lahir pertama-tama dari hasrat seksual. Cinta antara satu orang dengan satu orang yang lain adalah sesuatu yang natural didorong oleh hasrat seksual, dan itulah cinta “murni”. Bagi Freud, cinta menjadi tolol dan jinak justru ketika dia sudah dicampuri oleh kehendak peradaban: ketika peradaban sebagai “pihak ketiga” muncul dan cinta tak lagi menjadi antara satu orang dengan satu orang lain, antara seorang pecinta dengan objek-cintanya.

  1. Setiap orang membawa dalam dirinya sebuah citra perempuan yang dia peroleh dari ibunya; itu menentukan apakah dia akan menghormati perempuan pada umumnya, atau menghinakan mereka, atau secara umum tidak peduli terhadap mereka. (hal. 107)

Aforisme ini menampakkan pengaruh seorang ibu pada perlakuan si anak terhadap perempuan lain. Freudian memiliki pandangan senada, akan tetapi dengan penjelasan lebih lengkap yang—sebagaimana biasa—ditarik ke ranah seksual. Ibu adalah perempuan pertama yang dikenal oleh seorang anak laki-laki, ia adalah objek seksual pertama si anak. Hal itu kemudian memang mempengaruhi bagaimana si anak memilih wanita sebagai pasangan hidupnya.

  1. Seorang ibu mencintai dirinya sendiri dalam anak laki-lakinya lebih dari dia mencintai anak laki-lakinya itu sendiri. (hal. 108)

Bagi Freud, asal-usul “cinta ibu” terhadap anaknya terletak pada perasaan bahwa sang anak adalah bagian dari dirinya yang terlepas, ia adalah pertama-tama bagian dari dirinya tapi kemudian tidak lagi. Karena itulah sering kali muncul fenomena perselisihan antara seorang ibu dengan menantu perempuannya karena sang ibu selalu membanding-bandingkan dirinya “dalam melayani” anak laki-lakinya dengan “pelayanan” sang menantu perempuan terhadap anak laki-lakinya itu.

  1. Perempuan bisa dengan mudah menjalin persahabatan dengan seorang laki-laki, tetapi untuk mempertahankannya—sedikit antipati fisik bisa sangat membantu. (hal. 108)

Di sini penjelasannya sangat sederhana: perempuan cenderung jatuh cinta pertama-tama karena memandang fisik. Persahabatan antara perempuan dengan pria yang berfisik “bagus” hanya berpotensi membawa relasi persahabatan tersebut berubah menjadi relasi cinta. Kalau yang diinginkan berupa persahabatan, maka semacam “antipati fisik” akan sangat berguna, dan hal itu akan sangat bagus juga ketika kemudian berujung perkawinan:

  1. Teman terbaik barangkali akan menjadi istri terbaik, karena sebuah perkawinan yang baik didasarkan pada bakat akan persahabatan. (hal. 107).

Sedikit mengherankan memang bahwa tampaknya menurut Nietzsche dasar perkawinan yang bagus bukanlah cinta melainkan persahabatan. Kalau dirunut maka logika yang dikedepankan Nietzsche itu begini: seorang teman terbaik itu hanya akan terjadi ketika tak ada “cinta lokasi”, melainkan semata persahabatan, dan dasar itulah yang kemudian akan baik menjadi dasar perkawinan.

Sementara bagi Freud, cinta bermula dari hasrat seksual dan perkawinan bermula sebagai efek dari kehendak manusia untuk mendapatkan pemuasan yang tetap (pada pria) dan kehendak manusia untuk menjaga anak kecil sebagai bagian tubuh yang terlepas (pada perempuan). Pada awalnya tak ada masalah apakah perkawinan itu benar-benar berlangsung secara formal, atau hanya berupa “tinggal bersama”. Peradaban-lah kemudian yang memonopoli perkawinan sebagai satu-satunya sarana yang sah bagi pasangan untuk mendapatkan kehendak mereka dan berbagai sarana lain hanya pantas dijadikan sebab penggerebekan: dengan menikah si pria bisa mendapatkan pemuasan seksual, dengan menikah si wanita bisa tetap “memiliki” anaknya.

  1. Ketika memasuki usia sebuah perkawinan, orang harus mengajukan pertanyaan apakah menurutmu kamu akan mampu melakukan percakapan baik dengan perempuan ini sampai usia tua? Segala yang lain dalam perkawinan bersifat sementara, tetapi sebagian besar waktu dalam interaksi dilewatkan dalam percakapan. (hal. 110)

Dengan ini jelas bahwa bagi Nietzsche apa yang mengekalkan sebuah perkawinan bukanlah seks, melainkan komunikasi yang menyenangkan antara pasangan. Menariknya, dalam pandangan Freud justru hal semacam itulah yang merupakan tanda sudah takluknya manusia pada peradaban: peradaban selalu berupaya menjinakkan hasrat seksual manusia sehingga perkawinan yang semula ditujukan demi pemenuhan hasrat seksual pun dibelokkan ke eufemisme “cinta kasih” dan tujuan “yang lebih tinggi” yakni reproduksi. Tanpa anak sebuah perkawinan adalah kesia-siaan dan poligami menjadi pemecahan masalah yang disodorkan.    

  1. Beberapa laki-laki mengeluh karena perempuan mereka direbut; kebanyakan mereka mengeluh karena tak seorang pun mau merebut perempuan mereka. (hal. 108)

Aforisme ini tampak sangat jelas. Yang mungkin belum jelas adalah: kenapa demikian? Sedemikian pembosankah kaum pria sampai lebih banyak mereka yang ingin perempuannya direbut daripada yang merasa sedih karena perempuan mereka direbut? Jawabannya mungkin bisa kita dapatkan dari aforisme berikut ini:

  1. Demi cinta, perempuan sepenuhnya menjadi apa adanya mereka dalam imajinasi laki-laki yang mencintai mereka. (hal. 109)

Aforisme ini tampaknya merujuk pada kemampuan perempuan untuk beradaptasi, yakni kemampuan untuk berubah sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi laki-laki yang mencintai mereka. Atau sebaliknya: bahwa kaum pria selalu memandang perempuan yang mereka cintai sesuai dengan imajinasi mereka, ini lebih sesuai dengan aforisme yang lain (hal. 111) bahwa “kadang-kadang cukup sepasang kacamata yang lebih kuat akan menyembuhkan laki-laki dimabuk cinta”.

Dengan demikian, jawaban untuk pertanyaan awal tadi sangat sederhana, yakni tinggal menunggu waktu kaum pria mendapatkan “kacamata yang lebih kuat” sampai kemudian mereka “mengeluh karena tak seorang pun mau merebut perempuan mereka”.

  1. Bagi orang berusia dua puluhan, perkawinan adalah sebuah lembaga yang mutlak diperlukan; bagi yang berusia tiga puluhan, perkawinan berguna, tetapi tidak mutlak perlu; dalam fase terkemudian hidupnya, sering kali perkawinan berbahaya dan mendorong kemunduran spiritual seorang suami. (hal. 113)

Karena apa yang kekal dalam perkawinan adalah “percakapan” sedangkan yang lainnya hanyalah “sementara”, maka aforisme di atas ini menampakkan fase relasi manusia dengan perkawinan: saat masih muda, orang membutuhkan “percakapan” yang banyak, selanjutnya, semakin matang orang dia akan semakin membutuhkan “perenungan”, bukan “percakapan”. Percakapan pada orang yang sudah matang tidak “menaikkan” spiritual melainkan “memundurkan”.

Lalu, seperti apakah konklusi yang mungkin kita dapatkan dari catatan kecil Freud yang singkat dan terbatas di atas tentang sedikit pandangan Nietzsche seputar perempuan, cinta, dan perkawinan? Saya pikir sederhana: Nietzsche mencoba untuk memandang perempuan dan cinta sejalur dengan apa yang dituntut oleh Mary Wollstonecraft, yakni menggunakan rasio. Apa yang mungkin luput dari pertimbangan Mary adalah ini: tindakan kaum pria (termasuk Nietzsche) untuk memandang perempuan (dan cinta, dan perkawinan) menggunakan rasio kaum pria ternyata tidaklah sama dengan tindakan perempuan (termasuk Mary) menggunakan rasio kaum perempuan.

Akan terlalu jauh dan menjadi tulisan tersendiri membahas sejauh mana terminologi rasio itu sendiri dipengaruhi oleh jenis kelamin: salah satu tema menarik yang sudah dibahas juga sejak zaman generasi Horney, Woolf, dan Cixous. Pembacaan yang sudah dilakukan di atas, apa boleh buat, harus diakui sebagai pembacaan laki-laki terhadap teks tentang perempuan yang dibuat oleh laki-laki dan diobrolkan dengan sesama laki-laki pula.

Maka kita pada dasarnya sudah mendapatkan gambaran tanggapan dari catatan sejarah bahwa Nietzsche dan Freud sama-sama merupakan sasaran tanggapan tak setuju dari para intelektual perempuan. Apa yang sedikit beda dari keduanya adalah bahwa Freud, karena relasinya yang jauh lebih intens dengan banyak perempuan dibandingkan Nietzsche, kemudian dengan lebih jujur mengakui bahwa “pertanyaan besar yang tak pernah terjawab dan yang belum bisa saya jawab, terlepas dari 30 tahun penelitian saya tentang jiwa feminin adalah ‘apakah yang diinginkan perempuan?”

Freud adalah penulis handal yang jago retorika, dan mereka yang jago retorika, baik mereka adalah penulis handal atau sekadar pokrol bambu, sering kali terjatuh pada kondisi melebih-lebihkan: Freud banyak menulis juga tentang seksualitas perempuan, tentang cinta antara laki-laki dan perempuan, tentang perkawinan. Akan tetapi dia mungkin tak sepenuhnya melebih-lebihkan, terutama kalau kita mengingat bahwa Freud muda adalah si genius yang jago berbicara tetapi sekaligus si canggung Hamlet yang berkeringat dingin hanya sekadar mempertimbangkan apakah dia harus menggenggam tangan pacarnya atau tidak saat mereka berduaan dan Freud tua adalah pendukung sepenuhnya monogami yang jauh lebih peduli kehidupan anaknya daripada kehidupannya sendiri.

Jogja, Februari

Cep Subhan KM.

lahir 6 Juni 1989 di Ciamis dan menetap di Yogya sejak tahun 2009. Menulis cerpen, puisi, novel, dan esai sekaligus menjadi penerjemah. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan adalah Ludah Surga (Antologi cerpen bersama), Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (Antologi cerpen bersama), Serat Marionet (Novel), dan Musyawarah Burung (Terjemahan puisi). Esai-esai kritik sastranya dimuat dalam Jurnal Sajak dan Jurnal Khittah.
Cep Subhan KM.

Comments

  1. Aghnia.ilma Reply

    Mantaffff

Leave a Reply

Your email address will not be published.