Penanggung Duka

Kini, Gesang adalah mural. Di tembok keras menopang jalan-tinggi dekat Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, kita bisa melihat mural diongkosi miliaran rupiah. Konon, Gesang dipilih menjadi pengisah Solo. Lelaki legendaris itu ada di tembok. Lihat, ia naik perahu di posisi depan! Wajah keriput dan tubuh ringkih “diharuskan” mengantar kaum muda asal Solo menempuhi sungai.

Di mata pembuat, Gesang mungkin dipahami sebagai penuntun, pengantar, pemula, atau pemimpin. Pemahaman tak harus disalahkan atau dipaksa diralat. Di tembok, Gesang tampak perkasa berbeda pengenalan kita pada kehalusan dan kebersahajaan. Mural itu telanjur ada dimaksudkan mengenalkan Gesang atau sengaja mengultuskan Gesang di jalanan ramai. Kita justru melihat Gesang salah tempat dan salah pengimajinasian rupa. Di situ, Gesang menjauh dari biografi. Anggapan salah bakal “terhapus” saat orang-orang berebutan berfoto di tembok bermural meski situasi jalan ramai, asap berkeliaran, dan debu beterbangan. Berfoto di situ mengesahkan pemerintah menunaikan tugas mengenalkan tokoh ke publik.

Dulu, Gesang itu lagu. Di panggung dan radio, orang mendengar lagu-lagu Gesang berimajinasi alam, asmara, nasionalisme, dan kejawaan. Lagu-lagu melintasi tahun demi tahun. Gesang tak menggubah ratusan lagu tapi memiliki pikat bagi penikmat keroncong dan langgam. Ingat Gesang, ingat kemerduan dan kelembutan lagu. Pada masa berbeda, Gesang itu piringan hitam dan kaset pita. Orang-orang membeli dan mengoleksi. Di rumah, kantor, atau restoran, lagu-lagu Gesang diputar memberi suasana dan undangan berimajinasi ke segala arah.

Gesang itu tenang. Kita simak berita lama di majalah Tempo, 15 Juli 1972: “Apa kabar Gesang? Pentjipta lagu Bengawan Solo, Saputangan, Djembatan Merah dan 15 lagu lainnja tetap tenang, setenang kali Bengawan Solo jang tidak bandjir lagi. Dia djuga tidak produktif benar sekarang. Mungkin karena umurnja sudah 56 tahun. Paling banter, beberapa waktu jang lalu dia mengarang satu lagu setiap tahun.” Ia memang bukan seniman menggebu untuk menggubah lagu berjumlah ratusan bakal menghasilkan duit melimpah. Ketenangan jadi patokan dalam berseni ketimbang melulu berpikiran duit dan popularitas. Pada masa 1970-an, ia sudah tenar tapi terbukti hidup sebatang kara di pinggiran Solo.

Kita mundur ke masa 1960-an, mengingat keputusan besar dalam keseninaman dan nasionalisme. Berita mungkin sudah tertumpuk oleh berita-berita besar mengenai musik dan politik di Indonesia di sekitar malapetaka 1965. Berita memang tersaji dua tahun menjelang 1965. Di majalah Tanah Air edisi Mei 1963, berita pendek tapi mengejutkan. Redaksi menampilkan lagu berjudul Saputangan gubahan Gesang. Di bawah, foto berukuran kecil dan keterangan: “Inilah Saputangan jang achir-achir ini djadi terkenal kembali lantaran lagu jang sentimentil romantis ini hendak didjadikan lagu kebangsaan Malaysia.” Indonesia sedang berkonfrontasi dengan negeri jiran. Gesang memberi sikap: “Diimbali berapa sadja saja tak rela.”

Duit memang bukan pikiran pokok Gesang sejak mengabdi di seni. Tahun demi tahun, publik jarang mendapat kabar bahwa Gesang hidup berkelimpahan dengan rumah bagus, mobil, busana mewah, atau menu makanan mahal. Di tatapan mata publik, ia tampak lugu dan hidup sederhana. Lagu-lagu memang moncer dan disenandungkan para seniman, dari masa ke masa. Produksi kaset juga mungkin memberi rezeki tapi tak besar. Ia malah sering mendapatkan bantuan dari pemerintah dan pelbagai pihak, tanda penghormatan atas pengabdian seni.

Kita maju ke masa 1980-an, album-album keroncong masih memiliki peminat. Tempo 1 Januari 1983 memuat iklan kaset keluaran Pertiwi. Iklan kaset berjudul Indonesia Indah memuat lagu Bengawan Solo gubahan Gesang. Iklan menjadikan Gesang adalah legenda bagi lagu-lagu bercerita Indonesia. Penjelasan di iklan: “gesang. Profil ternama ini tak mudah begitu saja dilupakan orang, apalagi mereka yang akrab dengan musik keroncong yang mengasyikkan itu.” Pemasangan gambar Gesang dan lirik lagu Bengawan Solo diharapkan melariskan penjualan kaset. Iklan itu cuma cuilan dari ingatan Gesan ada di puluhan kaset.

Pengenalan Gesang melalui kaset mungkin sudah berlalu. Ikhtiar mengenalkan Gesang dengan mural di Solo belum tentu manjur. Kita masih mungkin mengenali Gesang melalui buku-buku biografi. Pada 1984, bocah-bocah SD menghormati Gesang dengan membaca buku berjudul Gesang, Pencipta Lagu Bengawan Solo. Buku disusun tim dan mendapat cap pemerintah berkaitan pendanaan dan sebaran: “Milik Negara, Tidak Diperdagangkan, Inpres Nomor 6 Tahun 1984.” Buku biografi ditujukan ke bocah agar tak cuma mengidolakan artis-artis baru di musik pop cengeng, dangdut, atau rock.

Gesang memberi sambutan dengan tulisan tangan elok: “Lagu Bengawan Solo dan lagu-lagu lain yang saja ciptakan, semoga ada manfaatnya bagi para muda. Dan semua itu sebagai persembahan kepada persada Indonesia tercinta.” Ia menempatkan musik keroncong sebagai penggerak ide-imajinasi Indonesia, melampaui hiburan dan pereda patah hati bagi pemuja asmaranisme. Gesang ingin memutus sejarah pernah tercipta di masa 1930-an bahwa lagu-lagu kerocong tebar wabah kecengengan tiada tara. Dulu, lagu-lagu keroncong sering sendu dan pedih dengan lirik ampuh: “djiwa manis indoeng disajang.” Pada saat Gesang memilih bermusik keroncong, ada kemauan menaruh keindonesiaan meski tak gamblang.

Ia membuktikan dengan sikap politik di masa 1960-an. Bukti paling mengena tentu misi melanggengkan musik keroncong di Solo dan seantero Indonesia. Di kota tercinta, Gesang rajin memberi restu bagi orang-orang ingin menekuni keroncong. Berkesenian tak lagi cuma estetika tapi penciptaan etika dalam tata hidup bersama di kota bergelimang ajaran Jawa. Gesang itu pelanggeng keroncong. Keinginan melanggengkan kadang mendapat belokan tak terduga. Bengawan Solo sampai di abad XXI dengan jenis musik berbeda, tak bergantung ke keroncong. Kita bisa mendengar terpukau Bengawan Solo saat disenandungkan Danila dengan musik, bukan keroncong. Pelanggengan khas masa sekarang. Danila menghormati Gesang, tak melupa tokoh dari masa lalu.

Ikhtiar mengenalkan Gesang terus dikerjakan pelbagai pihak tanpa harus tergesa mengusulkan sebagai pahlawan nasional. Pada 2010, terbit buku berjudul Gesang Mengalir Meluap Sampai Jauh susunan IA Moenzir. Buku cukup tebal, belum jua lengkap. Gesang mendapatkan penghormatan dengan buku. Ia terharu: “Sejak lahir hingga usia tua, saya merasakan hidup penuh duka… Masa kecil yang indah, panggung kesenian yang ramai, perkawinan yang singkat, dan kehidupan pahit yang kualami sempat mengguncang jiwa. Untunglah saya masih mampu menyalurkan beban batin tadi ke dalam bait-bait lagu.” Gesang, penanggung duka. Lagu itu kedirian bergelimang duka, sebelum memancar dengan pesan-pesan berbeda bergantung situasi zaman dan situasi batin pendengar.

Duka Gesang memuat perkara lagu Bengawan Solo. Lagu itu pernah heboh pada masa 1980-an. Gesang ditimpa polemik. Ada orang menuduh Bengawan Solo bukan lagu gubahan Gesang. Penggubah adalah Soejoko. Tuduhan dan polemik ramai di koran dan majalah. Gesang menjawab kalem tanpa perlu gugatan balik ke penuduh: “Lagu itu sayalah yang menciptakan, bukan Soejoko. Saya mengerjakannya selama dua bulan.” Penjelasan di Tempo, 17 Desember 1988, memuat pula ingatan masa lalu saat Gesang berproses menggubah Bengawan Solo. Lagu digubah saat Gesang berusia 23 tahun. Lagu bermula dari pengalaman berjalan dan bermenung di Langen Hardjo, pinggiran Bengawan Solo, 1940. Lagu lekas diberikan ke Orkes Kerontjong Kembang Katjang. Bengawan Solo perdana disenandungkan melalui Solosche Radio Vereneging. Lelaki berduka itu tak mau terlalu repot dengan polemik, memilih tenang dan bersenandung sampai tua. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.