Dua Bersaudara, Pergolakan Nasib Dua Anak Manusia

Judul: Brothers, Dua Bersaudara
Penulis: Yu Hua
Penerjemah: Agustinus Wibowo
Terbit: 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xl + 328
ISBN: 978-602-203-7708-7

UNTUK seorang pembaca lamban seperti saya, buku setebal 719 halaman ini telah memecahkan rekor tersendiri: buku paling tebal dengan waktu baca paling cepat, yakni sekitar dua pekan. Dan saya menganggap itu semua berkat ketaklidan saya akan dua karya Yu Hua yang saya baca sebelumnya. Karya-karya Yu Hua selalu menghadirkan banyolan dan kepedihan dalam waktu bersamaan. Saya kira sensasi itulah yang membuat saya kesengsem dengan karya-karyanya, selain juga tuturan yang sederhana namun mengena. Sampai-sampai, setiap kali saya membaca karya-karya Yu Hua saya selalu bergumam, ini gaya tutur bahasa aslinya memang tak biasa atau karena penerjemahnya yang memang lihai memadukan kata?

Buku dari penulis yang tercatut sebagai Nomine Man Asian Literary Prize 2008 ini diterjemahkan oleh Agustinus Wibowo, seorang penulis Indonesia yang telah tinggal di Tiongkok selama lebih dari delapan tahun. Ia juga menerjemahkan karya-karya Yu Hua yang lain. Saya selalu percaya, sebuah buku yang diterjemahkan seorang penulis tak ubahnya sebuah masakan yang diracik oleh seorang koki yang tepat lagi ahli dalam bidangnya, sebab tak semua pembuat kue bisa meracik menu daging. Kiaskan saja begitu.

Dalam Brothers ini, Yu Hua kembali menyinggung masa-masa pergolakan politik Revolusi Kebudayaan di Tiongkok di bawah bayang-bayang Pemerintahan Mao, dengan latar yang disebut penulis sebagai ‘Kota Liu Kami’. Yu Hua banyak melukiskan secara detail bagaimana orang-orang dengan ikat lengan warna merah menyiksa orang-orang yang disebut sebagai ‘Tuan Tanah’ dan semacamnya (hal. 107). Adalah Li Gundul dan Song Gang, dua tokoh senter dalam buku yang disisih menjadi dua bagian ini. Pada bagian pertama tak habis-habis dilukiskan bagaimana masa kecil Li Gundul dan Song Gang yang penuh dengan penderitaan sekaligus kenaifan. Li Gundul dan Song Gang sebenarnya hanya saudara tiri, mereka disatukan sebab jalinan asmara orang tua mereka, Li Lan (Mama Li Gundul) dan Song Fanping (Papa Song Gang), yang kisah cinta keduanya terjalin oleh musabab yang dramatis sebagaimana perjalanan hidup mereka di kemudian hari. Meski Li Gundul dan Song Gang cuma saudara tiri, akan tetapi kepolosan dan kenangan mereka di masa kecil sudah seperti sebuah tali tak tampak yang jalin-menjalin jiwa satu dengan jiwa yang lain, membuat mereka sekarib saudara kandung, sampai kemudian Papa mereka meninggal dengan cara sadis, dikeroyok tanpa ampun oleh orang-orang berikat lengan merah (hal 146).

Pada bab selanjutnya Yu Hua menggambarkan kesedihan dua bocah kecil itu dengan paripurna. Dua bocah lugu yang melihat Papa mereka mati di tengah terminal seperti seekor bangkai tikus, tanpa seorang pun peduli. Pada bagian ini dada saya begitu sesak, membayangkan bagaimana dua bocah kecil itu, dengan air mata berleleran, menggoyang-goyangkan mayat Papa mereka yang terbungkus darah kering dan debu di tengah keramaian. Hal-hal tragis semacam itulah yang menguatkan ikatan batin antara Li Gundul dan Song Gang, sampai Mama mereka yang sebatang kara itu juga meninggal karena kesedihan, Song Gang yang menjadi abang sempat berjanji pada sang Mama, aku akan menjaga Li Gundul seumur hidupku, bahkan kalau hanya tersisa satu mangkuk nasi terakhir, akan kuberikan untuk Li Gundul makan. Bahkan, kalau hanya tersisa satu helai pakaian terakhir, akan aku berikan untuk Li Gundul pakai. (hal 239). Sampai sini, saya semakin mantap mengakui kecakapan Yu Hua dalam melukiskan hal-hal tragis dan menyedihkan secara beruntun tiada ampun.

Pada bagian kedua dari novel ini, Yu Hua mulai mengisahkan bagaimana perjalanan Li Gundul dan Song Gang saat mereka beranjak remaja dan kemudian dewasa, pasca Revolusi Kebudayaan di Tiongkok mereda. Pada bagian kedua ini letupan pertama menyinggung perihal dunia susastra di Kota Liu dengan dua Sastrawan agung Kota Liu, yakni Liu Pengarang dan Zhao Penyair, yang sejatinya sudah disinggung sejak bab-bab awal pada bagian pertama. Saya kira, bagian ini cuma bumbu-bumbu gurih yang ditaburkan Yu Hua agar kisah di ‘Kota Liu Kami’ lebih berwarna. Ledakan selanjutnya bermula dari lika-liku asmara antara Li Gundul, Song Gang, dan Lin Hong—kembangnya Kota Liu. Sebab kisah cinta segi tiga itu hubungan persaudaraan antara Li Gundul dan Song Gang mulai retak, sampai mereka rela memutuskan tali persaudaraan. Saya menyangka, kisah asmara ini terlalu klise dan mudah ditebak, dan saya mulai merasa bahwa inilah kelemahan pertama dalam plot novel ini. Tapi rupanya, setelah halaman demi halaman saya tekuni, kisah asmara para tokoh utama dalam novel ini tidaklah sesinetron itu. Ini bisa jadi karena kelihaian Yu Hua mengocok dan membolak-balikan emosi pembaca. Di sini saya kembali tersadar, memangnya apa yang tidak klise di dunia ini?

Pada akhirnya kisah asmara yang saya anggap klise tersebut sama sekali tidak menganggu jalannnya cerita, alih-alih menjadi jembatan yang membuat kisah tiga anak manusia ini semakin panas dan sentimentil.

Pada bagian menjelang akhir dari buku ini, mendadak muncul kisah-kisah lain yang sebenarnya kalaupun tidak ada juga tidak bakal mengganggu jalan cerita utama, misal kisah kedatangan Zhoe Kelana yang berjualan selaput dara palsu, juga kisah perkawinan Guan Gunting Kecil dan istrinya, pada bagian-bagian itu saya benar-benar mengambil aksi baca cepat—untuk tidak menyebutnya skip, sebab saya tidak sabar dengan kisah akhir Li Gundul yang naga-naganya bakal menjadi orang nomor satu di Kota Liu, serta Song Gang yang semakin ke ending nasibnya semakin bergolak tidak menentu.

Ketika buku ini benar-benar saya tandaskan sampai halaman terakhir, saya menghela napas dan tidak henti-henti menggerutu, menyesalkan kebodohan dan kenaifan para tokoh di dalamnya, terutama Song Gang, yang di akhir cerita malah memilih mengakhiri hidupnya dengan berbaring di atas rel kereta. Keputusan ini saya kira terlalu gegabah—baik keputusan Song Gang untuk mengakhiri hidupnya, maupun keputusan penulis untuk menghilangkan tokoh Song Gang di akhir ceritanya. Tapi bagaimanapun, penulis menghendaki akhir cerita seperti ini. Dan memang seperti itulah kisah dari Brothers ini dipungkas.

Meski sama-sama penuh banyolan sekaligus membuat dada sesak berderak-derak, tapi sensasi membaca Brothers ini belum bisa mengungguli bekas baca yang tertinggal di kepala saya seusai membaca To Live, buku pertama Yu Hua yang memenangi penghargaan Premio Grinzane Cavour dari Italia, tahun 1998, sekaligus menobatkannya sebagai penulis Tiongkok pertama yang meraih penghargaan James Joyce pada 2002.***

Mashdar Zainal

suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.
Mashdar Zainal

Latest posts by Mashdar Zainal (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.