Kereta Itu Berhenti di Muka Rumah

Memegang buku warna merah bata dengan tata sampul yang dibuat seolah-olah tua itu membuat saya mengalami momen sureal.

Ah, hal yang begitu lama hanya diangan-angankan, yang oleh para pembelajar Kuntowijoyo hanya jadi semata lima kata yang ditulis ulang, dan hanya ditulis ulang, tanpa pernah ada barangnya, tak pernah tampak bendanya, kini ada di tangan saya. Novel pertama Pak Kunto: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari—atau, Kereta-Api jg Berangkat Pagi Hari, jika kita mengikuti apa yang tertera di sampul. Dan ada nama saya di dalamnya.

Tapi ini bukan saja tentang buku itu, buku yang sebelumnya hanya berupa dongeng dan kini tiba-tiba menjadi nyata. Ini juga tentang apa yang saya pribadi alami bersama munculnya buku itu.

***

Akhir 2022, saya pulang kampung ke Lamongan untuk menetapkan diri menjadi perawat lansia penderita demensia. Setelah lewat setengah tahun tak bisa meninggalkan rumah, saya mulai menerima kemungkinan tak akan lagi kembali ke Jogja—mungkin untuk seterusnya. (Ya, saya tentu saja masih akan ke Jogja, sesekali, sebagai orang yang mengunjungi tempat yang pernah ditinggali selama lebih dari 25 tahun; atau—seperti yang saat itu masih bisa saya lakukan—datang sebagai orang daerah yang diundang anak-anak Jogja untuk bicara satu-dua kata tentang buku atau tentang menulis.) Mengawasi Bapak nyaris selama 24 jam, saya juga hampir yakin tak akan menulis novel lagi. Saya sudah mulai menerima dan akan cukup gembira bila sesekali bisa menulis di koran, sekadar untuk melemaskan bahu dan tambah-tambah beli obat.

Lalu, suatu sore di pengujung Juli 2023, telepon saya berbunyi. Dan suara Mas Dodo—Dodo Hartoko yang legendaris itu—ada di seberang, dengan nada dan pilihan kata dan tawanya yang khas. Ia bilang ia sedang ada proyek dengan Seno Gumira Ajidarma—Seno yang agung itu, tentunya. Ia bicara tentang rencana menggali, menyusun ulang, dan memugar naskah Kuntowijoyo yang lama dinyatakan hilang. Dan ia minta saya terlibat.

Saya tidak kaget, karena saya sebenarnya pernah mendengar dari Mas Dodo tentang hal ini lewat satu-dua obrolan yang masih sangat awal dan dalam bentuknya yang masih ringan. Saya juga tidak kaget karena saya kadang terlalu banyak omong soal Kuntowijoyo, dan Mas Dodo tahunya hanya saya yang tahu Kuntowijoyo. (Betapa sialnya—atau beruntung?—saya!) Meski demikian, mengingat apa yang sedang saya jalani saat itu, ini seperti sebuah keajaiban kecil. 

“Ya, aku akan bantu, Mas, sebisaku,” begitu saya bilang ke Mas Dodo. Jawaban itu mengapung di antara antusiasme dan keraguan apakah saya bisa melakukannya atau tidak.

Bagaimana pun, nyaris semua buku saya masih ada di Jogja. Saya mesti membuat penjadwalan yang rumit dan ketat dengan adik saya yang bekerja kantoran di Solo untuk sekadar bisa ambil buku di sana. Memang ada sekitar 500-700an buku di Lamongan, dan di antaranya ada dua atau tiga buku Kuntowijoyo di situ, tapi jelas itu tak cukup untuk melakukan sesuatu berkait karya Kuntowijoyo.

Di luar itu, keraguan berkait Kuntowijoyo sepertinya berakar juga pada pengalaman yang pernah saya lewati. Dulu, saya pernah diajak “terlibat” sebuah seminar nasional tentang karya-karya Kuntowijoyo untuk merayakan ulang tahunnya ke-60, sekaligus peluncuran novel terbarunya saat itu, Wasripin dan Satinah—yang kemudian menjadi novel terakhirnya. Belum lama menyelesaikan 200an halaman skripsi tentang karya-karya Kunto, dosen pembimbing saya yang kebetulan menjadi ketua panitia membayangkan saya bisa menjadi pengisi seminar dengan makalah lima sampai 10 halaman. Ternyata saya tak becus menyelesaikan makalah bahkan tiga halaman sekalipun, dan karena itu saya kemudian datang ke seminar hanya sebagai peserta yang merasa bersalah. Meskipun itu nanti menebalkan keyakinan bahwa saya memang lebih dekat kepada dunia kepengarangan daripada kesarjanaan, kegagalan itu tetap saja saya sesali sebagai hal yang tak sepatutnya. Dan meskipun sekitar 2019 saya juga membuat tulisan pengiring untuk buku Kunto yang lain, kegagalan di masa lalu itu masih saja menghantui.   

“Gak usah banyak-banyak. Cukup 500an kata saja. Ditunggu ya,” begitu pesan Mas Dodo, menyusul teleponnya dua pekan sebelumnya. Ia jelas tak tahu ketakutan saya soal menulis pendek. 

***

Saya menyelesaikan tulisan yang diminta Mas Dodo tiga pekan setelah ia menelpon. Saya rasa saya terbantu dengan kenyataan bahwa ini bukan tulisan pengiring pertama yang saya tulis untuk buku Kontowijoyo. Saya pernah melakukannya. Bedanya, tulisan pertama saya kerjakan dengan dikelilingi buku-buku Kunto. Tulisan kali ini, yang nyaris dikerjakan tanpa buku (sehingga saya bahkan meminta bantuan Mas Dodo untuk memfotokan beberapa halaman Dilarang Mencintai Bunga-bunga edisi baru), lebih banyak mengandalkan ingatan dan data-data kecil yang bisa digali di internet, termasuk beberapa data dari file skripsi saya yang masih tersimpan di komputer. (Alhamdulillah, setelah berguna meluluskan saya, skripsi itu akhirnya juga berguna untuk menulis satu tulisan kecil tentang Kunto.) Namun, karena ingatan saya dengan buku-buku dan sosok Kunto juga tidak banyak, saya rasa tanpa sengaja saya mendaur ulang beberapa hal yang saya tulis di tulisan yang pernah saya buat.

Tidak mengejutkan jika kemudian saya mengirim tulisan tiga kali lebih panjang dari yang diminta Mas Dodo. Yang mungkin jauh lebih menakjubkan adalah apa yang saya alami sejak Mas Dodo menelepon hingga tulisan itu selesai. Saat menulis ini, saya masih terpana mengenang apa yang saya lewati dalam tiga minggu itu.

Hanya beberapa jam usai menyanggupi membantu Mas Dodo memugar naskah “Kereta-Api”-nya Pak Kunto, ada keajaiban kecil lain yang terjadi pada saya. Seorang perempuan yang hanya pernah melihat saya dari kejauhan tiba-tiba mengajak saya untuk menikah. Dan karena saya tak mungkin menolak ajakan itu (bagaimana bisa?), hanya dalam hitungan hari, dari seorang pengarang parobaya yang sudah membayangkan akan menggantung pena, saya tiba-tiba merasa jadi remaja akhir belasan yang belingsatan karena mendadak hendak dikawinkan.

Di antara pikiran tentang apa yang akan saya tuliskan (lagi) tentang Pak Kunto, dan terutama apa yang saya pikirkan tentang naskah yang lama hilang itu, saya masih tak habis-habis memikirkan (calon) istri yang tiba-tiba nongol ini, dan pertanyaan-pertanyaan sepele tapi mendasar tentang bagaimana, di mana, dan dengan apa kami menikah. Di antara pencarian data-data kecil tentang Pak Kunto dan buku-bukunya, saya juga mesti mengklik tulisan-tulisan dari blog-blog tak jelas penuh iklan pop-up yang memberi informasi soal tetek-bengek administrasi perkawinan: surat-surat apa saja yang harus diurus, foto ukuran berapa dan warna latar apa yang harus disetor, pihak-pihak mana dan kantor apa saja yang mesti dihubungi, dst. Ketika saya mesti mengorek apa-apa yang saya ingat dari perjumpaan saya dengan teks-teks Pak Kunto di masa kuliah, yang kemudian nyantol justru adalah siapa saja teman-teman yang harus saya undang atau yang tidak harus saya undang, atau yang setidaknya mesti diberitahu kalau saya akan menikah. Segera menjadi jelas, membuat tulisan pengiring untuk Pak Kunto meski tanpa buku jauh lebih mudah dibanding menyiapkan pernikahan. Saya pernah melakukan yang pertama, sementara untuk yang kedua saya sepenuhnya pemula.

Pada saat yang sama, entah bagaimana ceritanya, beberapa undangan acara sastra datang beruntun dalam waktu berdekatan. Beberapa undangan datang dari tempat yang jauh. Sebagai orang yang hampir setahun tak ke mana-mana, dan sebelumnya juga hampir dua tahun tidak ke mana-mana akibat wabah, ini seperti banjir bandang setelah kemarau panjang. Saya merasa kewalahan. Setelah berembuk dengan adik berkait cara kami bergiliran menjaga Bapak, juga calon istri berkait bagaimana saya mesti mengatur waktu antara acara-acara itu dan persiapan sebelum, saat, dan setelah pernikahan, saya akhirnya memutuskan menerima beberapa undangan dan menolak beberapa lainnya. Pada saat inilah juga dua keputusan besar diambil: 1) saya dan (calon) istri bersepakat akan tinggal di Jogja setelah menikah, dan 2) agar kami lebih mudah mengunjungi Bapak, maka ia akan tinggal bersama adik saya di Solo.

Keajaiban kecil lainnya saya jumpai ketika saya menyelesaikan tulisan pengiring itu. Tak benar-benar terpikirkan dari semula, tak juga direncanakan dari awal, lewat buku Pak Kunto yang sedang kami pugar ini, saya merasa tengah menyaksikan perjumpaan literer dua pengarang besar Indonesia yang di mata saya, di satu sisi sama-sama sangat disayangi Kompas (cek saja betapa dominannya kedua pengarang itu di seri Cerpen Pilihan Kompas, setidaknya hingga satu dekade lalu), tapi di sisi lain terlihat begitu kontras, terutama jika dilihat dari prototipe karakter tokoh-tokohnya: 1) Seno Gumira Ajidarma dengan tipikal “Manusia Kamar” (mengacu kepada judul kumpulan cerpen pertamanya) yang individualistis, dan 2) Kuntowijoyo dengan tipikal “Manusia dalam Keramaian” (istilah yang dulu saya pakai untuk menandai karakter-karakter Kunto di karya-karya seperti Pasar, sebagian di cerpen-cerpen di Dilarang Mencintai Bunga-bunga, dan terutama karya-karyanya yang lebih mutakhir hingga menjelang kematiannya) yang sangat sosial. Saya bisa menemukan, dan temuan ini sangat menyenangkan, bahwa orang yang pernah menulis cerita tentang kereta api sureal dalam cerpen ikonik berjudul “Tujuan: Negeri Senja” sedang menyusun ulang Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, novel realis yang telah lama hilang. Atas kontras yang sangat menarik ini, saya bahkan sempat ingin menjuduli tulisan yang saat itu saya kerjakan dengan judul panjang, semacam “Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari Ditemukan di Negeri Senja”.

Dan tebak di manakah saya ketika menyelesaikan tulisan tersebut? Ya, saat itu saya sedang berada di Stasiun Gubeng, menunggu kereta menuju Jakarta. Itu, saya rasa, keajaiban kecil berikutnya. Rupanya, kebetulan memang ada dalam sastra.

Tak seperti kereta Pak Kunto yang berangkat pagi hari, kereta saya saat itu berangkat selepas petang. Dan jelas berbeda dengan kereta Jurusan Negeri Senja-nya Seno yang penumpangnya tak pernah kembali, saya justru diharuskan cepat-cepat balik. Foto untuk surat nikah saya belum jadi, mesti diambil ke studio foto di Brondong, dan harus segera dikirim ke Bandung.

***

Pada satu sore yang agak mendung, sebuah Scoopy putih memasuki halaman rumah kami di Bantul. Pengendaranya, Dodo Hartoko, seperti biasa, muncul dengan pakaian serba cerah dan senyum yang lebih cerah lagi. Itu kira-kira hampir satu setengah tahun sejak ia menelpon.

Begitu duduk di kursi panjang di beranda rumah kami yang sempit, tangannya segera merogoh tas selempangnya yang besar dan mencolok itu. Ia mengulurkan kepada saya dua eksemplar Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari yang telah beredar, hasil kerjanya lebih dari setahunan ini—sebuah kerja yang sangat dibanggakannya. Dan, seperti biasa, ia langsung nyerocos tentang hal-hal hebat apa yang sedang dan akan dilakukannya: tentang buku dari penyair besar yang kali ini menerbitkan novel, tentang karya babon seorang intelektual hebat Jogja yang telah menjadi klasik bahkan sebelum terbit (karena telah dipersiapkan hampir 15 tahun dan belum juga terbit). Saya mesti menyelanya untuk bertanya, ia mau minum apa, meski saya cukup tahu ia biasanya minum apa. Ketika saya masuk rumah untuk mengambil teh tawar hangat yang sudah dipersiapkan sejak awal untuk Mas Dodo, istri saya datang dengan motor dari arah lain dengan membawa gorengan.

Setahun di Jogja, istri saya beradaptasi dengan kota ini dengan begitu mulusnya. Ia nyaman dengan Jogja, nyaman juga dengan orang-orangnya. Ia dengan mudahnya akrab dengan teman-teman saya; beberapa bahkan telah menjadi temannya sendiri. Ia selalu bersemangat ikut menyimak orang-orang buku yang saya temui atau yang menemui saya. Meski demikian, tak ada yang lebih membuatnya antusias dan bergembira melebihi menyimak celetukan-celetukan Dodo Hartoko. Hingga lewat azan Magrib, ketika ia kemudian pamit, kami berdua terkekeh-kekeh mendengar cerita-cerita Mas Dodo.

Sebagai anak orang Muhammadiyah, saya tidak diajarkan untuk percaya bahwa orang alim bisa mendatangkan barokah. Tapi, saya pikir-pikir, Kuntowijoyo, salah satu orang Muhammadiyah paling alim yang saya tahu, justru menunjukkan sebaliknya. Kereta Pak Kunto yang berangkat pagi hari, sore itu berhenti di muka rumah kami. Ia membawa turun beberapa kebahagian kecil untuk kami. Seingat saya, itu bukan kedatangannya yang pertama. Dan saya harap itu bukan yang terakhir kalinya.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!