Kiai Wahid Zuhdi

pustakagrobogan.com

 

Suatu ketika di Tahun 2006, di pelataran rumah, Bapak memanggil saya. Saya disuruh duduk. “Katanya, kamu minta dipondokkan ke Yai Wahid?” tanya Bapak. Suasana sunyi, selain karena pondok sedang liburan akhir tahun, juga itulah pertama kali saya mengajukan permintaan untuk dipondokkan. Pertanyaan Bapak itu saya dengar dengan tubuh yang sedikit tegang. Saya merasakan permintaan saya itu membuat Bapak berada di posisi antara bahagia dan kaget—kaget karena saat itu saya sedang bandel-bandelnya, dan tentu saja bahagia karena siapa sih yang justru merasa sedih mendengar anaknya minta dipondokkan?

Setelah saya menganggukkan kepala, Bapak kemudian bilang lagi dengan ungkapan yang agak dramatis—meneruskan rasa penasarannya.

“Bapak tentu bahagia mendengar kamu minta mondok, terlebih di pondok Yai Wahid, kebahagiaan Bapak bukan karena beliau teman mondok bapak sewaktu di Sarang, tapi yang buat Bapak agak heran, kenapa kamu memilih pondoknya Yai Wahid?”

“Aku ingin alim seperti Yai Wahid,” jawab saya datar.

“Iya sudah, mangkat Ahad besok apa Rabu depan?” tanya Bapak.

Saya teringat, dalam kitab Ta’limul Muta’alim, diterangkan bahwa waktu terbaik untuk berangkat belajar kalau tidak Ahad ya Rabu. Pendek kata, hari Rabu saya diantar ke Bandungsari, Grobogan. Berbatasan dengan Blora. Perjalanan dari rumah sekitar tiga jam. Selama masuk desa sudah terbayang di benak saya betapa hari-hari ke depan saya akan menjalani kehidupan ala pedesaan. Benar-benar desa. Dari jalan raya sekitar tiga kilometer, suasana tandus yang akan menuntut saya berjuang dengan tingkat yang optimum untuk kerasan.

Sebelumnya saya belum pernah tahu letak geografis dari pondok yang kemudian saya tahu bernama Al-Ma’ruf itu, pertimbangan saya satu-satunya mengapa saya berangkat ke situ adalah Yai Wahid. Maka tibalah saya sekeluarga di ndalemnya Yai Wahid. Setelah bapak saya dan Yai Wahid ngobrol lama, barulah saya—kalau istilah pesantren, dimaturke.

Saya teringat, Yai Wahid memanggil lurah pondok bernama Pak Sokhi.

“Anu, Usman ditaruh di kamar yang jauh dari masjid dan dekat dengan tempat wudhu,” dawuh Yai Wahid kepada Pak Sokhi.

“Kenapa begitu, Yi?” Bapak saya menyela.

“Kalau semakin jauh dari masjid kan langkah untuk menuju masjid semakin banyak. Nah, kalau langkah semakin banyak, maka pahalanya juga akan banyak,” timpal Yai Wahid sambil tersenyum. Lalu Pak Sokhi membimbing saya menuju kamar yang dimaksud. Dan sampailah saya di kamar itu.

Setelah menghantarkan saya, bapak saya berpesan menjelang beliau masuk mobil.

“Kalau bisa kamu menawarkan diri untuk membantu keperluan Yai Wahid. Apa saja.”

Kini tiba-tiba saya hampir menitikkan air mata, bahwa Yai Wahid begitu memperhatikan santri barunya dengan pertimbangan fikih. Saya kembali melihat bahwa Kiai Wahid benar-benar menggunakan fikih sebagai dasar hidup. Sekitar satu kilometer dari pondok, ada bangunan bernama al-Ma’atih—isinya ialah orang-orang gila, ada sejumlah santri yang diberi mandat oleh Kiai Wahid untuk mengasuh orang-orang gila, tiap Jum’at para santri tersebut berkeliling kota memakai truk, mencari orang gila, untuk diangkut ke al-Ma’atih.

Semula saya merasa janggal karena ini hal yang sangat baru bagi saya. Tapi belakangan saya menemukan dasar mengapa Kiai Wahid harus perlu repot mendirikan al-Ma’atih. Yaitu beliau mengambil dasar hukum dari literatur fikih—bahwa mengasuh orang gila termasuk fardhu kifayah. Artinya bila di suatu wilayah tak ada satu pun yang konsen memikirkan orang gila dampaknya akan terkena dosa.

Bila nama Kiai Wahid Zuhdi diucapkan, terdengar gemanya di telingaku sebagai kiai yang tak hanya alim fikih, tapi juga alim dalam bidang spiritual. Saya selalu hampir mendengar kalau santri-santri yang beliau asuh sering menjadi singa bahsul masa’il, dan kelak di kemudian hari saya sering curi-dengar tiap malam selasa Kiai Wahid mengampu al-Hikam. Santri baru seperti saya dilarang ikut karena karisma al-Hikam yang terlalu tinggi untuk dijangkau.

Dikisahkan, setelah Kiai Wahid pulang dari Makkah, Sayyid Muhammad, beliau mencari mursyid tarekat. Dan beliau selalu menyiapkan sejumlah pertanyaan fikih untuk diajukan kepada calon mursyid sebagai langkah verifikasi, sebuah langkah ijtihad untuk menemukan mursyid yang hakiki. Tapi dari sekian banyak mursyid tersebut, tak ada yang berjodoh. Ada yang langsung memberi jawaban: kulo mboten mursyid njenengan. Ada yang cuma memberi isyarat, ada pula yang cukup tersenyum.

Setelah mendatangi sekian banyak calon mursyid tersebut, Kiai Wahid akhirnya diam dan pasrah. Setelah usaha, beliau berserah diri. Suatu saat, ketika beliau sudah tidak lagi melakukan penjelajahan spiritual dalam mencari murysid, beliau diberi petunjuk oleh seorang temannya.

“Coba sampeyan ke gurunya Kiai Jamal, di Tulung Agung, Kiai Jalil Mustaqim.”

Semangat beliau dalam mencari mursyid masih membara. Beliau berangkat ke Tulung Agung dengan membawa sejumlah pertanyaan fikih yang hendak dijadikan sebagai langkah ijtihad. Kiai Wahid sampai Tulung Agung selepas Isya’, dan Kiai Jalil tak juga keluar menemui. Jam sudah tengah malam, Kiai Wahid akhirnya bermalam. Dan esoknya, beliau menghadap kembali ke ndalem Kiai Jalil. Tak berselang lama, Kiai Jalil keluar dengan membawa selembar kertas dan dawuh.

Ngapunten, Gus. Tadi malam tidak bisa menemui karena menulis jawaban-jawaban dari pertanyaan Panjenengan.”

Mendengar Kiai Jalil dawuh demikian, dan membaca jawaban-jawabannya yang bahkan pertanyaannya saja belum diajukan, Kiai Wahid seketika bersimpuh dan menyatakan diri sebagai murid dari Kiai Jalil.

Jauh sebelum hari itu, ketika masih di pondok Sarang, Kiai Wahid lebih banyak ngelajo—berangkat ke pondok tiap hari dengan mengayuh sepeda sepanjang 72 km, dari Widang Tuban ke Sarang Rembang. Mbah Moen terkesima kepada Kiai Wahid sejak usia dini sehingga pada usia 15 tahun sudah dijadikan sebagai lurah pondok.

Perhatian Kiai Wahid kepada santrinya begitu primpen, suatu pagi saya ditimbali Kiai Wahid melalui seorang Kang Ndalem. Saya bergegas dengan gugup lantaran baru kali itu saya dipanggil. Sampai di ndalem, Kiai Wahid sedang menerima tamu dan sedang daharan.

Mriki, Gus,” panggil Kiai Wahid sambil melambaikan tangan ke arah saya. Sementara itu, saya melihat agak melirik Kiai Wahid mengambil piring dan menyiduk nasi beserta lauknya. “Ini, Gus, lauk buatanku sendiri, gorengan telur campur mi. Bahasa kerennya omelette noodle.”

Ya Allah. Gemetar badan saya mendengar kejadian barusan, saya nyaris tak kuasa menggerakkan tangan untuk menerimanya. Saya masih ingat, satu-satunya yang dapat menggerakkan tangan saya adalah lantaran saya sadar betul bahwa saat itu saya sedang lapar-laparnya. Di titik itulah kini saya teringat kalau kenakalan saya waktu itu masih begitu jelas tergambar. Saya lahap sekali makan karena “aji mumpung”, mumpung lapar, mumpung lauknya Yai Wahid sendiri yang memasak, dan mumpung-mumpung yang lain.

Maka ketika Yai Wahid melihat piring di depanku ludes, beliau mengambilnya dan menciduk nasi lagi beserta lauknya untuk kemudian diletakkan di depanku. Dan itu terulang sampai tiga kali. Dan tiap kali Yai Wahid menambahi nasinya, saya semakin lahap. Saya tahu bahwa sejak piring pertama habis, sebenarnya saya sudah kenyang, namun ini aji mumpung. Dan anehnya adalah perut saya masih menerima makanan meski sudah merasa kenyang.

Seminggu kemudian saya merasa tak enak badan, saya ingin pulang. Ketika mau pamit, Kiai Wahid sedang tindakan. Saya di rumah lama dan akhirnya telanjur betah di rumah. Sekitar sebulan kemudian, saya matur Bapak kalau saya sudah tidak kerasan. Saya ingin pindah. Saya teringat raut muka Bapak saat itu merah padam.

Dua tahun kemudian, di suatu hari pada malam Selasa. Saya bermimpi Kiai Wahid mengenakan pakaian ihram di seberang jalan. Beliau melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah saya. Dalam mimpi saya berpikir. Ini kan tidak bulan haji, tapi mengapa Kiai Wahid memakai pakaian ihram? Dan dada-dada ke arah saya. Saya melihat beliau seperti hendak bepergian haji.

Tepat seminggu kemudian, hari Selasa siang. Ada Syarifah Nikmah dari Rembang menemui saya di Kaliwungu, dan mengabari kalai Kiai Wahid sudah sedo seminggu lalu. Saya seketika tercenung dan teringat mimpi saya. Apakah mimpi saya seminggu lalu itu pertanda kalau Yai Wahid hendak berpamitan? Saya menitikkan air mata. Bagaimana mungkin, waktu saya bermimpi dan waktu ketika Kiai Wahid sedo, terjadi di hari yang sama? Mata saya kuyup oleh luh, berkunang-kunang.

Kini, bila ada satu hal yang perlu saya syukuri, itu tak lain adalah saya pernah mondok di Kiai Wahid—Kiai yang tak hanya alim dalam bidang syari’at, melainkan juga alim dalam bidang tarekat. Saya menyandang keyakinan kalau Kiai Wahid merupakan sebenar-benarnya ulama’. Dan beliau meninggal di usia yang sangat muda, yaitu 49 tahun.

Tulisan ini saya rampungkan sebagai upaya untuk mengingatkan pada diri sendiri bahwa ada hal yang patut saya kenang di sepanjang hayat.

2019

Kairo

Usman Arrumy
Latest posts by Usman Arrumy (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    kok pandangan saya berkabut ya?

Leave a Reply to Anonymous Cancel Reply

Your email address will not be published.