Lari-Lari Kambing

Roger Fry & the Omega Workshops

Tapi kamu mesti tahu dulu mengenai kambing. Setidaknya kamu pernah angon kambing sekali dalam hidupmu. Kamu tidak akan pernah bisa membayangkan dengan apa yang akan aku ceritakan. Itu akan membuatmu tambah dungu dan kamu akan menertawakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerti.

Cerita ini tentang kegoblokan akut yang mungkin Tuhan pun ingin menampar mulutnya. Kamu jangan cengar-cengir dulu, juga temanmu itu. Ini cerita baru dimulai. Cerita ini tentang seorang teman yang mempunyai istri. Boleh aku pinjam namamu untuk tokoh kita ini, Nar? Ok, aku ulangi. Cerita ini tentang seorang teman yang bernama Narka. Ia mempunyai istri yang bawelnya melebihi tukang obat di pasar malam. Istrinya sering kali salah menyebut namanya menjadi Neraka. Ini kesialan pertama yang mesti ditanggung oleh tokoh kita satu ini. Tapi sebetulnya ini bukan murni kesalahan istrinya, kalau bukan karena tabiat suaminya yang menjengkelkan.

            Pernah suatu kali teman kita ini, maksudku tokoh kita ini bekerja sebagai buruh bangunan. Kerja semacam ini sifatnya tak tentu. Bisa dibilang musiman. Misalnya musim panen, musim TKW pulang dari luar negeri, atau musim perantau yang pulang kampung. Kamu sendiri pernah menjadi kuli bangunan kan, Nar? Ah…. Kalau pernah pasti kamu mengalami bagaimana trik untuk mengulur waktu supaya kerjaan jadi molor dan uang harian makin bertambah. Dari senyummu yang menyebalkan itu sudah pasti kamu pernah melakukannya.

            Hasil upah menjadi buruh bangunan selama sebulan di rumah Rustini—janda muda yang baru pulang dari Taiwan, tokoh kita ini menghabiskan hampir seluruhnya dalam sehari saja. Alih-alih ingin mendapat tujuh kali lipat dari yang diharapkan, ia malah kena semprot istrinya. Ia tidak tahu di mana letak salahnya. Bahkan ia berpikir, sungguh-sungguh berpikir, kenapa niat baiknya ini tidak didukung (lebih tepatnya direstui) oleh istrinya. Selama menikah dengannya, ia tak pernah merasakan apa yang dikerjakannya mempuyai nilai di depan istrinya. Ia merasa yang diupayakannya selama ini hanya sia-sia belaka. Seolah-olah bicara pun sudah salah, bahkan mungkin bersin pun bisa menjadi kesalahan di depan istrinya.

A, sudah gajian dari Rustini?’ Suatu kali istrinya bertanya.

            ‘Sudah, dong.’

            ‘Mana?’

            ‘Tenang, sabar.’

            ‘Kok sabar? Sudah belum?’

            ‘Sudah, sudah.’

            ‘Mana? Aku mau belanja ke pasar. Beli beras, sudah mau habis.’

            ‘Nih!’

Tokoh kita memberikan beberapa lembar uang ke istrinya.

            ‘Cuma segini? Sedikit amat. Memangnya berapa dikasihnya?’

            ‘Dua juta…,’ ia menghentikan bicaranya, lalu menatap istrinya dengan pandangan memohon. ‘Dua juta empat ratus ribu,’ lanjutnya kemudian.

            ‘Kok aku cuma dikasih empat ratus ribu? Jangan bilang buat pasang gundu lagi!’

            ‘Tenang, bukan untuk main gundu. Haram! Ini buat kejutan. Tunggu tanggal mainnya.’

            ‘Kejutan? Kamu nggak usah lari-lari kambing begitu. Ngomong saja!’

            ‘Kalau diomongin sekarang nanti tidak surpes lagi, dong.

            ‘Tidak ada surpes-surpesan, langsung saja buat apa?’

            ‘Dua ratus ribu aku pegang, sisanya aku sedekahkan di masjid,’ jawabnya dengan raut muka yang berbinar-binar.

            ‘Kamu sudah gila?’

            ‘Istigfar kamu!’

            ‘Kamu itu yang benar saja, kamu bukan orang kaya.’

            ‘Nah, karena aku ingin kaya, aku sedekahkan uangnya. Nanti kata pak ustad akan dilipatgandakan jadi tujuh. Coba kamu hitung, satu juta delapan ratus ribu dikali tujuh berapa?’

            ‘Kamu kebangetan, Nar.’

            ‘Kamu yang kebangetan! Masa orang sedekah kamu bilang kebangetan. Istigfar!’

            ‘Kamu yang mesti istigfar dengan kelakuan sintingmu itu!’

            ‘Astagfirloh haladim, kamu kok begitu.’

            ‘Nah, begitu. Istigfar kamu!’

            ‘Kamu yang istigfar!’

            ‘Heh, Nar, ngaca! Kita ini miskin. Sadar diri. Sedekah nggak apa-apa asal ingat istrimu ini. Kamu mesti mendahulukan kewajibanmu sebagai suami daripada kamu sedekah tapi kewajibanmu batal sebagai suami. Ingat ceramah Kiai Sadali!’

            ‘Kamu itu mestinya bersyukur punya suami yang gemar sedekah, daripada judi gundu. Mau pilih mana? Sedekah apa main gundu?’

            ‘Sudah edan kamu!’

            ‘Jangan membantah sama suami. Dosa!’

            ‘Membantah kalau suami kayak kamu ini nggak masalah.’

            ‘Ini malah melawan terus. Istigfar, istigfar….’

            ‘Kamu yang istigfar!’

            ‘Kamu!’

            ‘Kamu!’

            ‘Kamu!’

            ‘Nerakaaaa….’

            ‘Nar-ka, itu namaku. Bukan Ne-ra-ka.’

            ‘Neraka. Kamu neraka!’

Dan istri teman kita ini, maaf, maksudku istri tokoh kita ini masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Persis yang sering kalian lihat ketika pacar kalian marah. Jangan cengar-cengir dulu. Terutama kamu, Nar. Paham apa yang aku ceritakan? Oh, iya, kamu sudah beristri ya, Nar, hehehe…. Anggap saja waktu pacaran dulu. Kenapa? Sama saja waktu jadi istrimu? Hehehe…. Persis. Baik, baik, aku teruskan ceritanya.

            Siapa penyanyi dangdut yang kamu sukai, Nar? Jelas, Diva Fiesta. Tokoh kita ini juga menyukainya. Ia termasuk penggila Diva Fiesta. Impiannya bertemu Diva secara langsung baru akan terwujud apabila ia dapat memenuhi syarat dari Kriting dan Beki—dua preman kampung yang ditakuti sejagat raya, bahwa ia harus bersedia membayar karcis sebanyak dua ratus ribu. Segala soal perihal panggung, mesti melewati administrasi kedua bajingan kampung ini. Maka, tanpa pikir panjang tokoh kita ini menyanggupinya.

Karena tokoh kita tidak memiliki uang sebanyak itu, maka ia membujuk Kriting supaya dipekerjakan sebagai tukang parkir di acara hiburan dangdut jika ada hajatan di kampung. Dengan senang hati Kriting menyanggupinya. Tentu saja Kriting menyanggupinya, sebab dua puluh persen uang dari hasil menjadi tukang parkir mesti disetor pada Kriting dan Beki.

Sejak pukul sembilan pagi, Nar sudah berada di area parkir hajatan. Kriting dan Beki masih tidur. Mereka baru pulang melekan[1] dari tempat hajatan subuh dini hari. Beki mengatakan pada tuan rumah, bahwa besok pagi Narka akan menggantikan posisi mereka berdua sebagai tukang parkir. Maka sejak pagi hingga malam Narka mesti bekerja keras demi mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, demi berjumpa Sang Idola Diva Fiesta. Syukur-syukur ia bisa mendapat uang lebih untuk istrinya. Sebab kalau tidak, kiamat kecil akan kembali terjadi di rumahnya.

Tapi ngomong-ngomong, sampai sekarang kamu masih ngefans sama Diva Fiesta, Nar? Sory, aku potong dulu ceritanya. Bagaimana? Oh, masih suka. Luar biasa memang teman kita satu ini. Jaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Tapi baiklah, memang cinta kadang dapat membuat seseorang bersikap tidak wajar. Meskipun stok lama dan orangnya sudah tidak ada, tetap saja menyukainya. Tapi di cerita ini aku hanya meminjam namamu loh, Nar. Memang cerita hidup itu kadang ada mirip-miripnya. Contohnya ketika kita sedang mendengarkan cerita, kemudian senyum-senyum sendiri, artinya itu ada gejala kemiripan dengan kisah masa lalunya. Emosi-emosi kesedihan, kegembiraan, kemarahan, itu semua masih sama sejak Nabi Adam diusir dari surga. Cerita-ceritanya sama. Hanya orang-orangnya, tempat kejadian, dan waktunya yang berbeda. Nah, kita-kita ini orang usiran dari surga, Nar. Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Nar? Apa? Diterusin ceritanya? Iya, tenang, cerita ini pasti aku selesaikan sesuai dengan apa yang kamu harapkan.

Pukul tujuh malam, Kriting dan Beki baru tiba di lokasi. Tempat pertama yang dituju sudah tentu parkiran. Lahan lengket untuk modal saweran. Bukan begitu hobi pemuda-pemudi di kampung kita, Nar? Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu aku juga. Bagaimana mungkin dangdut kelas kampung dilepaskan dari saweran, tentu kita akan dicap murtad bagi penikmat dangdut kelas proletar.

‘Dapat berapa, Nar?’ tanya Beki, memakai celana cut bray kedodoran yang menutupi ceker dan sandal jepitnya.

‘Satu juta,’ Nar berbohong. Totalnya ia mendapat satu juta tujuh ratus dua puluh tujuh ribu. Tentu aku tahu, karena aku ikut menemani tokoh kita ini dari pukul tiga sore sampai waktu magrib. Jadi aku meminta uang tutup mulut padanya. Tidak banyak memang, hanya dua ratus ribu.

‘Satu juta? Lumayan juga. Begini saja, Nar, dari pada repot-repot menghitung, mending buat kamu tiga ratus ribu, kami tujuh ratus ribu. Setuju?’

Eee….

Sip. Terima kasih, Nar,’ belum sampai menjawab, Kriting sudah memotongnya. ‘Jangan lupa dipakai baik-baik uangnya, Diva Fiesta sudah menunggu di panggung. Beruntung kamu aku kasih kesempatan,’ lanjut Kriting sambil melenggang ke arah keramaian yang kemudian diikuti Beki.

Tokoh kita tersenyum lebar. Ia menerobos lalu-lalang orang-orang, bukan ke arah panggung, melainkan pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, ia mandi, berganti pakaian, dan tentu pakai minyak wangi yang, baunya mirip sabun mandi. Ini semua demi Diva Fiesta. Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat, maaf, maksudnya aura kecantikannya.

   Lanjutannya? Sabar, Nar. Poin pentingnya bukan pada tokoh kita yang bergoyang dengan Diva Fiesta. Tentu kamu sudah tahu dan bisa membayangkan bagaimana adegan teman kita ini, maksudku tokoh kita ini bergoyang dengan Diva Fiesta. Persis seperti kamu ini, Nar. Cengar-cengir mirip kambing di sawah.

Sekarang kita lewati adegan panggung Diva Fiesta. Kita fokus pada tokoh fenomenal yang bahkan belum disebut dalam cerita-cerita masyhur di kampung ini.

Selesai menuntaskan hasratnya bergoyang bersama Diva Fiesta, tokoh kita ini gentayangan di seputar keramaian. Sudah tujuh kali lalu-lalang menerobos orang-orang sambil senyum-senyum sendiri. Alasannya sudah kamu tebak kan, Nar? Betul sekali, karena orang-orang memuji saweranmu di atas panggung. Meskipun sebenarnya mereka tidak bersungguh-sungguh untuk memujimu, maaf, maksudnya memujinya. Sebetulnya yang dialami tokoh kita ini merupakan hal lumrah yang biasa terjadi pada penyawer lainnya. Tapi yang menjadi istimewa di sini—mungkin bukan istimewa, tapi agak polos campur sedikit dungu—adalah orangnya, yakni tokoh kita ini.

Selesai membanggakan dirinya, tokoh kita pulang dengan membawa keringat kemenangan. Sebetulnya tidak pulang, tapi ia mampir terlebih dulu di warung Yu Kasmiah. Di warung, ia kembali membanggakan dirinya dengan menceritakan bagaimana bokong Diva Fiesta tepat berada di mukanya. Ia menyukai bokong Diva yang wangi dan lembut. Menurutnya, itu bokong sempurna yang pernah ditemuinya. Namun yang paling berkesan untuknya yaitu ketika Diva memujinya dengan sebutan lelaki tertampan se-Cikedung dengan ciuman pamungkas yang mendarat di pipi tokoh kita ini. Kemudian dengan mata berbinar-binar ia meyakini bahwa Diva Fiesta menyukainya. Orang-orang di warung membenar-benarkan apa yang dikatakan tokoh kita, meskipun semua tahu bahwa orang-orang di warung hanya membesarkan hatinya—lebih tepatnya membohonginya.

‘Untuk melengkapi keberuntunganmu, kamu mesti pasang nomor, Nar?’ bujuk Kartam sambil kemudian menyeruput kopinya.

Tokoh kita tersenyum. Ia sudah membayangkan kemenangan berada dalam genggaman tangannya. Ia merogoh saku dan melihat sisa uang miliknya. Kemudian tanpa basa-basi, dengan keimanan yang teguh, akhirnya tokoh kita mengamini apa yang dikatakan Kartam.

Semalaman ia menunggu keajaiban kembali datang padanya, seperti keajaiban ketika bergoyang bersama Diva Fiesta. Sambil menunggu keluarnya nomor togel, ia berjalan menuju masjid terdekat. Ia satu-satunya orang yang berjalan ke masjid malam itu. Semua orang di warung tahu, bahkan mungkin semut pun tahu bahwa di malam itu hanya ia satu-satunya orang yang berjalan menuju masjid.

Setelah sampai, dia mengambil wudu dan salat Tahajud. Kemudian berdoa memohon supaya nomornya keluar dengan suara yang gemanya hampir memenuhi ruangan. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, namun lebih mirip Debt Collector yang menagih utang. Ia terus menerus berdoa  sampai batas—yang menurut tokoh kita—nomor togel sudah diumumkan.  Nah, sampai di situ kamu sudah tahu jawabannya kan, Nar? Kalau sudah cengar-cengir begitu kamu pasti ikut senang dengan akhir cerita ini.

Ia pulang ke rumah setelah azan subuh berkumandang. Di rumah, istrinya sudah menunggu tepat di depan pintu masuk. Ia duduk di kursi dengan raut muka suwung, menunggu suaminya—yang tak pernah dibayangkannya—muncul dengan ketololan permanen. Dari ujung gelap, wajah suaminya mulai terlihat ketika cahaya lampu rumah tetangganya menimpa tubuhnya yang kurus ceking. Bersamaan dengan itu istrinya naik pitam.

‘Ke mana saja kamu semalaman? Uang parkir mana? Awas kalau habis buat nyawer! Nggak usah lari-lari kambing lagi! Jawab yang jelas!’

Tanpa banyak bicara, tokoh kita memberikan segepok uang ratusan ribu campur puluhan ribu kepada istrinya.

‘Banyak sekali.’ Ia tertegun, mendadak lupa dengan dialog sebelumnya.

‘Sudah kubilang, ini namanya surpes, kejutan. Kalau kita sedekah banyak, pasti Alloh akan melipat gandakannya jadi tujuh,’ tegas tokoh kita ini dengan wajah congkak.

‘Dapat dari mana uang ini?’

‘Dari….’

‘Tidak penting dapat dari mana, yang penting halal. Sering-sering saja begini sama istri,’ potong istrinya sambil ngeloyor ke kamarnya.

Sampai di sini cerita tentang tokoh fenomenal kita. Bagaimana menurutmu, Nar?

KEMUDIAN PERISTIWA INI BERLANJUT PADA PERDEBATAN NARKA DAN TEMANNYA.

“Ceritanya bagus. Tapi kadang-kadang kasihan sama istrinya.”

“Itu cerita tentangmu, Nar,” ujar temannya.

“Bukan, Govar ini cuma meminjam namaku untuk nama temannya itu.”

“Kamu apanya Govar?”

“Temannya.”

“Ya, sudah. Masa itu saja nggak paham.”

“Kamu yang nggak paham!”

“Kamu pikir baik-baik, itu cerita sama nggak dengan pengalamanmu?!”

“Ceritanya sama, orangnya yang berbeda.”

“Sekarang kamu paham kan betapa dungunya tokoh kita ini,” ujar Govar sambil menepuk pundak temannya Narka. Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Narka dan temannya yang masih melanjutkan debat tololnya. ***

Yogya, 2019

[1] Begadang

Kedung Darma Romansha

kelahiran Indramayu, 1984. Bergiat di Rumah Lebah, Sanggar Suto, dan Saturday Acting Club (SAC). Kumpulan puisi pertamanya “Uterus” (2015). Selain menulis novel dan puisi, dia juga terlibat di beberapa produksi teater dan film. Kerap kali mendapat penghargaan di bidang sastra dan pertunjukan. Dan sekarang sedang melanjutkan studynya di pascasarjana UGM. Kini menetap di Krapyak wetan Yogyakarta.
Kedung Darma Romansha

Latest posts by Kedung Darma Romansha (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Keren

  2. Anonymous Reply

    Kata si narator, “Tapi kamu harus tahu dulu mengenai kambing …” biar kamu enggak tambah dungu karena kamu mungkin menertawakan dirimu sendiri. Kalimat pembuka cerpen ini agak mencantol mata, eh kuping. Minimal sebagai pengenalan sudut pandang, ia dapat meraih perhatian. Seperti sedang diajak ngobrol tetapi cuma diberi kesempatan untuk mengangguk atau menggeleng, narasi demikian itu agak membikin saya membayangkan sedang duduk bersama Narka sembari mendengar ocehan si narator. Demikian saya pun bergumam dalam hati, “Tapi memang benar juga. Begitulah bagaimana saya bisa merasa terkait dengan cerpen Lari-lari Kambing ini.”

    Belum lama ini tetangga menggelar hajatan khitan anak mereka; siang nanggap Singa Depok dan malam nanggap pengajian dengan mendatangkan seorang kiai dari kota. Dengan perkataan lain, manakala siang orang-orang bolehlah berjingkrak-jingkak ria dan sambil menenggak minuman cap orangtua pun dipersilakan. Tapi, manakala malam, orang-orang perlulah ingat kalau neraka tidak pernah menutup pintu. Di sudut-sudut kampung saya, Indramayu, masihlah ditemui tradisi demikian. Meleburkan pandangan sakral dan profan. Orang boleh mencibir tapi itu cuma terjadi di balik bilik-bilik rumah mereka, di luar mereka tetap ikut berjingkrak-jingkrak kegirangan.

    Strategi naratif cerpen ini menarik sekali, karena selain menggunakan sapaan untuk mengacu tokoh sentral dan demikian mendudukan si tokoh agar lebih dekat dengan pembaca, penokohan Narka dan istri juga menarik untuk diuraikan. Mereka membuka pembicaraan perihal nilai religiositas dan realitas tentang kemelaratan bukan sebagai pertentangan dua kutub, melainkan sebagai peleburan dan tarik-ulur nilai. Kedua nilai itu ibarat larutan gula dan garam dalam segelas air. Maka akan terasa apakah jika larutan itu diaduk rata? Namun, tentu saja, penokohan Narka dan istri tidak berhenti di situ—siapa benar siapa salah, siapa bodoh siapa pintar, siapa malang siapa mujur.

    • nn Reply

      sumpah ceitanya membosankannnn

    • Anonymous Reply

      beda-beda kali ya. justru karena itu saya langsung berhenti baca di awal.

  3. Mas Penan Reply

    Cerita asyiiiik … sungguh dulit cerita dengan gaya seprrti ini …
    Bravo

Leave a Reply

Your email address will not be published.