LOGIKA DAN KREDO DALAM RUANG PROSA

in Rehal by

rehal lelaki yang mengandung bidadari

Judul: Lelaki yang Mengandung Bidadari
Penulis: Abdul Mukhid
Penyunting: M. Rosyid H.W
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penerbit: Pelangi Sastra Malang
ISBN: 987-602-54100-8-6

Dalam khazanah prosa, cerpen tak ubahnya menjadi mimesis atas berbagai fragmen kehidupan. Kemampuan bahasa, sastra, dan konstruksi imajinasi menjadi komponen yang mampu menstimulus emosi pembaca. Dari sinilah, katarsis muncul dengan berbagai interpretasi hasil baca. Katarsis yang bisa berarti sebuah pencerahan menjadi ruang yang menghadirkan jendela berpikir baru dalam diri seseorang. Maka, selain menulis karya prosa, butuh jiwa yang besar pula untuk membaca karya-karya prosa.

Buku kumpulan cerpen Lelaki yang Mengandung Bidadari ini diawali dengan cerpen berjudul “Hanya Sebuah Dongeng” yang bercerita tentang keberadaan karakter fiktif dengan pengarangnya. Bukan tidak mungkin bahwa pengawalan dengan cerpen ini merupakan siasat penulis untuk menyampaikan pesannya kepada pembaca secara filosofis. Lebih elaboratif lagi, penulis menjadikannya sebagai cerita pertama sebagai gerbang menuju pesan inti dalam semua cerita.

Kumpulan cerpen ini banyak mengangkat peristiwa meragukan. Jika ditarik pada klasifikasi realisme magis, beberapa cerpen dalam buku ini termasuk pada fenomena irreducible element (elemen yang tidak tereduksi) dan unsettling doubt (keraguan yang tak terselesaikan). Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa peristiwa, di antaranya dialog pengarang dengan karakter yang diciptakannya dalam cerpen “Hanya Sebuah Dongeng”, manusia yang tertukar jiwanya dalam cerpen “Asap Rokok”, lelaki hamil dalam cerpen “Lelaki yang Mengandung Bidadari”, dan lain-lain.

Logika di Tubuh Prosa

Cerita pendek sebagai seuah prosa memberikan berbagai kemungkinan pembacaan dan interpretasi terhadap para pembaca. Pengarang yang cerdas selalu memberikan peluang kepada pembaca dengan menyusun peristiwa secara runtun dan logis. Oleh karenanya, kualitas cerpen juga ditentukan oleh cara pengarang memosisikan pembaca, sehingga logika sebuah prosa tidak dirasakan sebagai pembohongan, sekalipun terdapat karakter, peristiwa, atau setting tempat yang fiktif.

Narasi-narasi yang memiliki tendensi pada genre dongeng dalam kumpulan cerpen ini memberikan sebuah aksioma bahwa kehidupan hanyalah sebuah dongeng yang dikarang oleh pengarang sejatinya. Pandangan ini secara tidak langsung menegaskan bahwa manusia terbatas pada sebuah penciptaan. Segigih apa pun mereka mencari kebebasan, ia tidak akan pernah betul-betul bebas selama hidup sebagai sebuah karya cipta dan berada di dimensi penciptaan.

Selayaknya tokoh-tokoh dalam karya fiksi, walaupun di akhir cerita mereka menemukan kebahagiaan, tetap saja tidak mutlak mendapatkan kebebasan.
Beberapa cerpen dalam buku Lelaki yang Mengandung Bidadari ditulis dengan narasi dongeng dengan diksi kesusastraan yang cukup ringan. Adanya peristiwa meragukan dan di luar nalar seperti seorang lelaki yang mengandung bidadari memanglah tidak wajar.

Namun begitulah adanya. Kumpulan cerpen dalam buku ini menawarkan hal lain. Kurnia Effendi, seorang penulis prosa dan puisi, menyebut buku ini sebagai sebuah tragedi dan esensi. Dalam narasi fiksi, pesan baik kadang justru tidak diutarakan, tetapi diibaratkan. Inilah yang kerap kali membuat daya kesusastraan menguat dengan muatan-muatan filosofis yang menjadi ruh di setiap cerita. Buku ini jelas bukan hanya bermaksud menghibur semata. Lebih jauh lagi, buku ini menyediakan ruang yang cukup luas bagi pembaca untuk berinterpretasi. Memaknai sebuah tragedi dan mencari esensi.

Walaupun terdapat unsettling doubt di beberapa narasi cerpen, Abdul Mukhid tetap menyisipkan banyak kaidah normatif dan sederhana dalam sebuah kehidupan. Hal ini yang menjadikan kumpulan cerpen Abdul Mukhid masih memberikan cukup ruang untuk memproduksi nilai-nilai moral secara eksplisit. Misalnya, cerpen “Sedekah Kurma” yang bercerita tentang bakti seorang anak walau orang tuanya telah tiada, “Negeri Dusta” yang menerangkan, bahwa sedusta apa pun manusia, ia tetap tidak bisa membohongi hati nuraninya, impuls Spiritual Quotion dalam cerpen “Lelaki yang Mengandung Bidadari”, dan lain-lain. Sisi kebaikan normatif dan eksplisit memiliki peran yang cukup banyak dalam buku ini.

Mempertimbangkan Kredo Prosa
Jika Sutardji pernah memunculkan sebuah revolusi kata lewat kredo puisinya, bagaimana dengan prosa. Apakah prosa sebagai karya sastra juga dapat membangun eksistensinya sendiri dalam sebuah kredo? Bagaimana nantinya sebuah kredo ini mampu menembus batas-batas konvensional lebih jauh dalam sebuah karya sastra?
Jika kita tarik prinsip dasar dari apa yang dikatakan Albert Camus, bahwa sastra tidak boleh memihak apa pun kecuali dirinya sendiri, maka bukan tidak mungkin sebuah kredo dapat muncul dan memperkuat eksistensi prosa sebagai karya sastra. Djenar Maesa Ayu dalam novelnya yang berjudul Nayla memberi sebuah pernyataan naratif, bahwa fiksi adalah fiksi. Ia memiliki kehidupannya sendiri. Pernyataan ini tentu dapat mengangkat kredibilitas prosa sebagai wujud karya yang merdeka. Ia memiliki tubuh sendiri, dunia sendiri, ruang gerak sendiri, dan ekspresi yang tidak dapat digugat, bahkan dijajah oleh unsur apa pun.

Ruang imajinasi tentu menjadi salah satu komponen kuat dalam mengonstruksi prosa. Dalam beberapa cerpennya, Abdul Mukhid membangun tubuh prosa sedemikian rupa dengan komposisi fragmen yang meragukan dan extraordinary (menentang realita), seperti seorang anak kecil yang lahir dari mulut, keajaiban-keajaiban kecil tidak terduga, dan negeri pendusta yang secara dhahir tidak pernah ada. Biarpun begitu, susunan plot dan kronologisnya tetap dapat dilogika. Ia tetap menjadi peristiwa yang runtut dan bertahap.
Kumpulan cerpen Lelaki yang Mengandung Bidadari juga menggambarkan beberapa objektivitas yang dikonstruk berdasarkan wilayah mitos. Mitos dan alur imajinatif dalam cerpen-cerpen inilah yang menghegemoni fragmen normatif pada umumnya. Mitos menyatukan elemen-elemen yang tercerabut atau terlepas untuk menciptakan suatu objektivitas yang baru (Laclau: 61). Bahkan, suatu mitos dapat diubah ke dalam cita-cita sosial atau social imaginary, yakni satu titik pandang atau suatu batasan absolut yang membentuk struktur dari suatu ranah yang dapat dimengerti dan karena itu merupakan kondisi yang mungkin bagi kemunculan setiap objek. Dalam hal ini, prosa menjadi salah satu wadah autentik untuk merumuskan sebuah kebaruan dalam objektivitas tersebut.
Terlepas dari misi seorang penulis dalam menuliskan karyanya, Abdul Mukhid dapat membuktikan, bahwasanya fiksi yang berdaulat adalah yang fiksi yang tidak berhenti pada sebuah imajinasi. Lebih dari itu, ia menjadi sebuah entitas melalui sebuah konstruksi. Ia menjadi sebuah logika atas fragmen yang menampung banyak sisi. Namun, sebuah karya fiksi juga perlu untuk dimengerti. Dalam hal ini, pembaca diberi ruang untuk dapat menemukan logika alur, konstruksi tokoh, dunia, serta konflik yang dibangun.

Ajun Nimbara

Ajun Nimbara

Lahir di Sumenep, 16 Juli 1995. Bergiat di Komunitas Pelangi Sastra Malang. Cerpen-cerpennya tergabung dalam antologi Secangkir Kontradiksi (2015), Orang-orang dalam Menggelar Upacara (2015).
Ajun Nimbara

Latest posts by Ajun Nimbara (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.