Menengok Kondisi Sosial Politik Indonesia Melalui Geng Bebas dan Geng Cinta

 

Miles Films pernah memopulerkan “Ada Apa dengan Cinta?” dengan Geng Cinta. Sekali lagi rumah produksi asuhan Mira Lesmana ini memperkenalkan sebuah geng dalam film terbarunya berjudul “Bebas”. “Bebas” adalah adaptasi dari “Sunny”. “Sunny” di sini adalah film drama asal Korea Selatan, bukan lagunya Bunga Citra Lestari.

Dalam film “Bebas”, tokoh utamanya adalah kelompok pertemanan yang berisikan Krisdayanti, Vina Panduwinata, Jessica, Gina, Suci, dan Jojo. Mengingatkan kita kepada Geng Cinta yang terdiri dari Cinta, Maura, Karmen, Alya, Milly, dan Mamet kalau boleh dihitung.

Dari segi latar tempat, kedua film ini sama-sama berlokasi di Jakarta. Berbeda latar waktu. Geng Bebas berjaya di era Orde Baru. Sementara Geng Cinta tumbuh membersamai reformasi. Unsur ekstrinsik ini memengaruhi plot cerita dan nasib para anggota geng.

Geng Bebas terbentuk saat Indonesia belum benar-benar bebas. Saat itu belum ada UU yang menjamin kebebasan berpendapat di muka umum. Judul “Bebas” dipilih seperti sebuah ironi.

Anggota Geng Bebas bernama Vina punya kakak seorang mahasiswa yang sedang semangat-semangatnya berdemo untuk menggulingkan koruptor di era Orde Baru. Namun, ketika dewasa, diketahui kakaknya Vina tersebut justru jadi koruptor. People change, ceunah.

Hal ini relevan dengan Indonesia dewasa ini. Aktivis zaman Orde Baru yang dulu berdemo di gedung DPR, kini jadi pihak yang didemo oleh mahasiswa milenial. Idealisme memang kemewahan terakhir yang dimiliki oleh anak muda.

Sewaktu Vina jalan dengan Jaka, masih satu template dengan adegan Cinta jalan dengan Rangga. Bedanya, Jaka peka dengan isu sosial politik kala itu. Jaka memberi tahu Vina bahwa ada intel yang menyamar menjadi tukang nasi goreng. Perangkat negara tak percaya dengan rakyat sendiri sampai aktivitasnya dimata-matai begitu.

Sementara Rangga adalah putra dari seorang akademisi yang bermasalah dengan pemerintahan gara-gara sebuah tesis. Pasca reformasi, ayahnya Rangga (Yosrizal) masih dituduh komunis dan dianggap terlibat gerakan makar. Sampai-sampai sewaktu makan bareng Cinta, rumah Yosrizal dilempar bom molotov oleh kelompok pembenci.

Indonesia yang tak kondusif bagi orang seperti Yosrizal, membuat Rangga ikut pindah ke Amerika Serikat mengikuti sang ayah sehingga terjadilah perpisahan Rangga dan Cinta sebagai ending yang romantis itu.

Selepas SMA dan terpisahkan, Geng Cinta dan Geng Bebas sama-sama berhadapan dengan kejamnya waktu. Kekuatan persahabatan mereka diuji oleh getirnya kehidupan orang dewasa yang tak seindah masa muda.

Geng Cinta reuni di saat anggotanya sudah ada yang meninggal dunia karena kecelakaan, yaitu Alya. Mereka kembali bertemu untuk menghibur Karmen yang baru keluar dari panti rehabilitasi. Karmen sewaktu SMA dikenal sporty karena jago basket. Ironisnya, ketika dewasa, ia jadi pencandu narkoba.

Dengan kekuatannya, Karmen muda jadi semacam pelindung gengnya yang siap “menimpa” siapa saja yang mengganggu. Ketika reuni, justru Karmen yang rentan dan perlu lindungan teman-temannya. Semua itu bisa terjadi karena Karmen depresi pasca perceraian dengan suaminya. Pernikahan memang mengubah seseorang.

Selain Karmen, anggota Geng Cinta masih terbilang beruntung. Maura menikah dengan pria setampan Christian Sugiono dan punya anak yang lucu. Milly hamil anaknya Mamet yang sudah sah jadi suaminya. Cinta sendiri sudah tunangan dengan pria mapan. Namun, Rangga siap merebut takhtanya kembali sepulang dari Amerika. Pokoknya, Cinta merem aja dapat “berlian”.

Sedangkan Geng Bebas mengalami konflik yang cukup pelik sebagai orang dewasa. Kris sang ketua geng menjadi penyintas kanker dan divonis hidup sekitar dua bulan lagi. Kris sekarat tanpa keluarga yang menemani setelah bercerai dengan suaminya. Untuk urusan duniawi, Kris terbilang sukses: kaya raya. Namun, jatah hidupnya di dunia tak lama. Manusia memang tidak bisa mendapatkan segalanya di dunia ini.

Sakitnya Kris membuat anggota gengnya berkumpul kembali. Nasib para anggota Geng Bebas sudah berubah.

Sebagai seorang ibu, hubungan Vina dengan anaknya renggang. Ternyata anaknya Vina jadi korban perisakan di sekolah dan tak mau terbuka dengan ibunya. Nasib Vina zaman sekolah kurang lebih sama dengan anaknya: jadi korban perisakan. Bedanya, Vina punya geng yang melindunginya, sedangkan anaknya tidak.

Sementara Jessica harus menopang beban rumah tangga sebagai sales asuransi setelah usaha suaminya gagal. Jojo terpaksa meninggalkan jati dirinya demi muka orang tua. Harta kekayaan keluarga Jojo tidak bisa membeli identitas aslinya yang rempong.

Lalu ada Gina. Dulunya anak seorang single mom yang bisa survive dengan menjadi pengusaha jempolan. Namun, setelah sang mama mengalami kebangkrutan, Gina pun ikut terjatuh. Gina menyambung hidup dengan bekerja serabutan demi melunasi setiap utang yang melilit keluarganya.

Terakhir, Suci. Seorang cover girl sewaktu SMA yang ketika dewasa tidak diketahui nasibnya. Jelas sudah bukan artis lagi.

Ketika masa SMA, keenam anggota Geng Bebas punya mimpinya masing-masing. Ketika dewasa, mereka melepaskan impian itu dan mulai menerima realitas bahwa hidup orang dewasa tak seindah masa SMA.

“Bebas” menjadi film adaptasi yang manis dan di saat bersamaan menyajikan kepahitan hidup. Film aslinya sendiri memang sedemikian bagus dan mengharukan.

Dua puluh tahun lagi, film “Bebas” bisa saja dibuat ulang. Iya. Sudah adaptasi, di-remake pula. Nanti, ceritanya mengambil latar masa kini dengan tokoh dari kalangan milenial. Kalau begitu, mungkin soundtrack-nya bukan lagu “Bebas” dari Iwa K, melainkan lagu dari rapper kekinian Young Lex yang berjudul “O Aja Ya Kan”. Gengnya pun dinamakan geng Anjay.

Haris Firmansyah

Pengarang novel sepak bola Wrecking Eleven yang tidak pernah mau diajak main futsal. IG: harisfirmans
Haris Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published.