Mengapa Saya Malu Mengaku Sebagai Penulis?

graphicart-news.com

Eka Kurniawan menyebalkan. Ia menolak sebuah nomenklatur indah: “Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019”. Bayangkan sekali lagi: “anugerah”. Karena itulah penolakan ini membuat saya cemburu. Andai saya mendapatkannya, saya tak akan menolak. Saya justru akan pamer-pameran di media sosial seakan berkata: ini saya, penulis hebat, kebanggaan Sumut, bahkan Indonesia. Jangan anggap remeh lagi dengan saya! Tetapi, lain Eka Kurniawan, lain pula saya. Saya masih memikirkan diri saya, sementara Eka Kurniawan sudah memikirkan banyak hal, di luar dirinya.

Saya tak bilang bahwa Eka Kurniawan tak butuh uang lagi. Uang tak pernah cukup, kok, apalagi jika didekatkan dengan kata kebahagiaan. Saking tak pernah cukupnya uang, Bob Marley pernah bertitah demikian: money is numbers and number never end. If it takes money to be happy, your search for happiness will never end. Jadi sudah jelas, Eka Kurniawan bukan berarti tak butuh uang lagi. Ia masih butuh, bahkan sangat butuh. Lalu, mengapa ia menolak uang yang tiba-tiba itu yang andai diberikan kepada saya, maka saya tak akan berpikir panjang menemerimanya agar bisa segera menikah secepatnya?

Pasalnya, jujur saja, menulis belum cukup membuat saya benar-benar mapan. Karena itu, ketika kadang dalam berbagai forum, sebagai peserta atau pemateri lalu diperkenalkan sebagai penulis, saya selalu tidak percaya diri. Ketika ada juga lawatan pentas keliling ke Eropa dan panitia membuat status saya sebagai penulis, sejujurnya saya juga sangat tidak percaya diri (meski bangga). Status “penulis” serasa membuat saya terbunuh. Alasan utamanya, saya masih belum menuliskan apa-apa, kecuali ratusan artikel atau dua buku puisi, satu buku cerita rakyat, dan menuyusul: satu buku mata pelajaran.

 

Mengharukan

Soal lainnya, karena saya merasa bahwa tulisan saya masih minim kualitas. Belum layak, karena itu, mungkin tak akan laku di pasaran. Sengaja saya sebut minim kualitas dan bukannya tidak produktif karena memang, saya pikir, saya termasuk penulis produktif. Sudah banyak tulisan yang saya hasilkan: artikel populer, puisi, rilis berita, bahkan sudah merampungkan dua novel yang meski saat ini saya belum berani menawarkannya ke penerbit. Saya masih ragu karena banyak hal. Pertama, nama saya belum matang.

Melihat nama saya pada sampul buku pasti akan membuat calon pembaca heran: siapa Riduan Situmorang? Kedua, hasil karya saya barangkali masih mentah. Benar, tak ada langkah kedua jika tak ada langkah pertama. Kalau mau namamu mulai dikenal, terbitkanlah segera. Begitu orang berujar. Namun, harus saya katakan: hanya berujar yang gampang. Ya, ada penulis dengan namanya yang kini besar setelah berkali-kali tak dilirik dan bahkan ditolak oleh penerbit, seperti J.K Rowling, misalnya.

Tetapi, fakta lain yang harus kita sadari juga adalah, di tengah puluhan nama yang kemudian besar setelah mengalami penolakan, ada ratusan, bahkan ribuan orang calon penulis lainnya yang malah tenggelam. Malah, sekadar menyebut contoh betapa nasib penulis itu mengharukan, kita bisa menoleh pada Bokor Hutasuhut. Sewaktu Bokor Hutasuhut, sastrawan seangkatan Goenawan Moehamad ini, wafat, tak satu pun media yang meliriknya. Padahal, dalam benak saya, Bokor Hutasuhut, sudah bisa dikategorikan sebagai sastrawan besar.

Saya lalu berpikiran kotor: Bokor Hutasuhut saja sudah sepi dari berita, bagaimana pula dengan saya? Hal lain yang membuat saya canggung disebut sebagai penulis karena memang, hidup saya tidak berasal dari tulisan. Sama sekali tidak. Bisa saja teman-teman sekomunitas saat ini menyebut bahwa saya paling produktif (saya tahu, mereka berbohong), tetapi tetap saja harus saya akui: saya tidak hidup dari menulis. Suatu waktu, saya dengan tim memang acapkali memberikan pelatihan menulis dari kampung ke kampung atau dari sekolah ke lapangan. Di sekolah saya, SMAN 1 Doloksanggul, saya juga sedang melakukan hal yang sama.

Namun, melatih menulis bagi kami bukan menjadi simbol bahwa kami sudah menjadi penulis andal. Kami hanya bertujuan agar semakin banyak pembaca. Sebab, banyak penulis berarti banyak pula pembaca. Bukankah pembaca dan penulis pada dasarnya sama saja? Thompson HS merumuskannya dengan sangat sederhana: jika pembaca adalah pembaca, maka penulis adalah pembaca yang berizin. Sama saja bukan?

Namun, di atas itu, hal yang membuat saya grogi disebut sebagai penulis, bahkan sangat ragu untuk menerbitkan tulisan ke penerbit karena di negeri ini, penulis telanjur diyakini sebagai orang kaya, tentu dalam pengertian yang berbeda. Bayangkan, penerbit menghargai tulisan kita bukan dari seberapa lama kita merenung, berimajinasi, melakukan riset; bukan dari berapa banyak buku yang kita kupas; bukan dari seberapa suntuknya kita menghadap laptop lalu mencorat-coret kertas; bukan dari berapa lama kita mengasingkan diri dari keramaian demi menyepi di rumah, atau bahkan di kamar.

Penerbit mengartikan tulisan kita dengan sangat sederhana: berapa harga kertas, gaji editor, biaya distribusi buku. Ide kita yang terangkum dalam kata-kata disederhanakan menjadi ukuran angka-angka yang membuat kita ngeri. Sederhana saja, misalnya: jika harga buku setelah cetak Rp100.000,00, maka hak milik penulis hanya sekitar 10 persen (penulis dengan nama melambung punya harga lain, tetapi tak sampai 20 persen). Hak milik kita setelah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun untuk mengawinkan kata dan fakta kalah telak oleh peristiwa percetakan yang tak sampai seminggu.

Lebih ngeri lagi karena pada kenyataan, royalti itu kemudian dikenai pajak supernetto, seperti sudah dijabarkan oleh beberapa penulis besar dalam ulasan mereka (Dee Lestari dan Tere Liye). Saya tak mengerti soal pajak. Itu bukan basis keilmuan saya. Namun, melimpahnya pajak itu membuat penulis seolah-olah kaya sehingga pajaknya dipatok tinggi tanpa memikirkan modal awal. Di mata pajak, modal awal menulis hanya dihargai dari wujud buku. Buku dimaknai sekadar kumpulan kertas. Pajak melupakan modal berapa lama kita berimajinasi, bersuntuk ria, lalu menyepi dari kegirangan dunia. Bukankah itu menggetirkan?

Ayo Bersenang-senang

Saya tak bisa membayangkan: bagaimana kemudian saya akan hidup dari dan dengan menulis? Konon lagi di negeri ini, minat baca sangat rendah. The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016, misalnya, menempatkan kita pada peringkat 60 dari 61 negara. Kita hanya berada satu tingkat di atas Botswana, negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk 2,1 juta jiwa. Indeks membaca kita pun, menurut UNESCO, sangat memprihatinkan: hanya 0,001. Lalu, siapa kelak yang akan membaca buku yang akan saya terbitkan?

Memang, jika mengekor pada angka dari penerbitan, peluang menjadi penulis di negeri ini sangat besar. Sebab, menurut Ikatan Penerbitan Indonesia (2015), penerbit Indonesia rata-rata hanya menerbitkan 30 ribu judul. Sementara itu, menurut BPS (2015), penduduk kita ada 255.461.700. Itu berarti bahwa masih hanya ada 8 judul buku kita per sejuta penduduk (Billy Arianto). Angka ini kalah jauh dari Thailand (168), bahkan dari Kenya sekalipun (11). Ini adalah peluang bagi penulis. Kita masih bisa menggarap banyak pembaca.

Namun, lagi-lagi, masalahnya adalah indeks membaca kita terjerembap. Taruhannya: buku kita kelak bisa jadi tak akan laku. Tentu saja, adalah sangat menggetirkan jika buku itu kelak menjadi tumpukan “sampah” di toko buku. Penulis mana yang tega melihat bukunya menjadi “sampah”: ada, tetapi seakan tak ada? Tidak dianggap. Ini semakin menggetirkan, karena di tengah miskinnya angka membaca, justru terdapat banyak pembajakan buku. Di sini, modal awal penulis yang sudah menghabiskan berbulan-bulan waktu cukup diobral di pasar loak dengan harga yang sangat menggetirkan.

Jadi, adalah wajar tuntutan dari penulis untuk menurunkan pajak. Tetapi, bagaimana itu mungkin jika buku hanya dimaknai sebagai tumpukan sampah? Karena itu, daripada menjadi sampah, marilah agar buku itu didaur ulang lalu dicetak dengan harga murah untuk kelak dijual di pasar loak. Sudahlah, abaikan penulis. Mereka adalah orang-orang kaya. Mereka tidak hidup dari menulis. Menulis bagi mereka hanya hobi. Laku tak laku, ya, silakan. Dibajak atau tidak, biarkan. Daripada tak laku?

Yang penting, pada akhir tahun nantinya, penulis harus mencatatkan penghasilan supernetto-nya. Di sana, biarkanlah para penulis menjadi tukang kliping kertas! Oh, entah mengapa, justru di akhir-akhir tulisan ini saya semakin grogi untuk menyebut diri sebagai penulis. Karena itu, untuk mengakhiri tulisan ini, saya harus berbohong dengan sikhlas-ikhlasnya. Benar-benar ikhlas: saya benar-benar bukan penulis. Saya tak mau hidup saya diterpa kegetiran. Ayo, mari bersenang-senang saja. Bila perlu, demi senang, musnahkanlah semua buku itu!

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Comments

  1. Thomas Didimus Hugu Reply

    Hidup adalah sebuah perjuangan memurnikan motivasi. Tulisan ini memaparkan secara brilian alasan seseorang menulis. Sebuah dorongan besar bagi siapapun untuk tak berhenti menulis tapi disampaikan dengan cara yang tidak murahan.

    • DL Junaidi Reply

      Jangan putus asa Bang, paling tidak menulis untuk mengalirkan pemikiran-pemikiran yang ada di dalam kepala agar tidak membeku. Tangames! (bahasa Malangan yang kebalikannya adalah semangat).

  2. Cecep Hasannudin Reply

    Tenang, Bang. Kalo novel Abang diterbitkan, aku ikut beli. Semangat!

  3. Ahmad kholidin Reply

    Penulis yang dulu identik dengan kemiskinan karena tidak ada waktu selain menulis. Kinipun tidak jauh berbeda..🙂

  4. Riil Fiksi Reply

    Curhatan yang lumayan menghibur. Oke, lanjut lagi menulis. Karena itu yang dimiliki orang miskin. Menjadi kaya dipikiran orang lain bukankah lebih membahagiakan? Tapi kalau tak ada pembaca? Anggap saja itu tulisan untuk penulis sendiri, yang bisa dibaca di lain waktu. Fiks, saya tambah mantap untuk tetap menulis walau tak ada pembaca.

  5. Ida bagus temaja Reply

    Maaf mau nanya..kalo nulisnya dilembaran kertas atau diperangkat gadget?kurang paham sy

  6. WahyuningsihS Reply

    Godaan menulis memang sebesar itu Bang.Niat menulis bisa sangat mempengauhi eksistensi seseorang dalam menulis.Menulis utk mendapatkan respon manusia pasti akan berujung kekecewaan. Karena memang manusia tempatnya php, entah dilakukan sadar atau tidak.Kita butuh meniatkan menulis utk menebar manfaat. Jika org lain tidak bisa mengambil manfaat dari apa yg kita tulis, ya mungkin emang segitu rezekinya dia. Tapi bukankah awal dan utamanya, manfaat menulis sejatinya memang utk penulis itu sendiri? Oranglain dianggep bonus aja kali ya haha

  7. Herly Reply

    Penulis jantan untuk uang. Tapi pencerahan.. Uang kita cari lain saja..

  8. Yuni Bint Saniro Reply

    Yuni mau baca lho kalau novelnya yang dua itu diterbitkan. Coba saja. Barangkali ada lebih banyak pembaca yang ingin membaca novelnya.

    Ah, lagipula, si abang kan bukan penulis ya. Menulis hanya hoby. Sama deh kalau begitu. Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.