(Menjadi) Gila dalam Peradaban

(Sumber gambar: cdd20)

 

“Saya heran, hanya karena saya berbeda pandangan dengan teman saya, lantas mereka bilang, ‘Kamu udah gila kali ya?’ dengan nada penuh sinisme. Kesannya kok mereka mudah banget menyebut saya gila? Padahal, saya merasa pendapat saya hanya berbeda dengan mereka. Saya juga ingin bersuara dan didengar. Bukan cuma dengar suara mereka saja. Enggak adil banget. Saya enggak mau dong sekadar membeo dengan omongan mereka-mereka itu, Pak. Itu prinsip saya. Tapi celakanya, teman saya sendiri merasa saya kok seperti ‘orang lain’ ketika berbeda pandangan.”

Sepenggal dialog di atas tiba-tiba keluar dari mulut salah seorang mahasiswa saya di sela-sela diskusi. Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu, tetapi saya menangkap ada sebuah pesan kegelisahan dan pada saat yang sama. Ssaya jadi membayangkan apa sebenarnya “gila” itu? Menurut KBBI, kata gila adalah sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal). “Dalam perspektif ini berarti tidak semua orang bisa dikatakan gila,” kata saya. Seseorang bisa melihat beberapa orang di luar sana yang bisa “berfungsi” dengan baik.

Lihat baik-baik definisinya, ada kata “tidak normal” tertaut di sana. Artinya, orang yang disebut “normal” bukan “gila”. Pertanyaannya: apa pula itu “normal?” Lalu, siapa yang disebut “normal?” Kata “normal” adalah kata subjektif yang didefinisikan secara longgar sebagai cara yang disepakati bersama. Kesepakatan itulah yang kemudian dipatuhi semua orang kemudian menjadi kebiasaan. Orang LGBT, misalnya, menyebut dirinya “normal”. Sama halnya dengan orang yang di luar LGBT menyebut dirinya juga “normal”. Seandainya, keduanya ngototan dan bersilang pendapat soal “normal” dan “tidak normal”, perspektif siapa yang harus dipakai?

Dalam perkembangan masyarakat, kata “gila” berubah dari artian negatif menjadi positif. Bisa saja sebagai ekspresi kekaguman pada sesuatu, atau pujian. Atau, bisa juga dalam artian lain. Jadi, tergantung konteks tertentu pada saat apa, kapan, dan di mana digunakan. Di kalangan orang Batak Toba, misalnya. Ada sebutan “rittik” dalam artian gila. “Na rittik do huroa ho!” (yang sudah gila kurasa kau!). Tidak tepat digunakan sebagai ekspresi kekaguman. Misalnya, saat seseorang dari tim A mencetak gol ke gawang tim B kemudian temannya dari tim A mengatakan: “Wah, rittik, rittik sekali!” Tidak tepat. Dalam artian ini, rittik (gila) dalam kamus orang Batak Toba memiliki makna negatif.  Belum diterima sebagai bentuk ekspresi kekaguman. Atau, di Medan ada sebutan “sedeng”, “miring”, dan “lari ampere” dalam artian gila. Jadi, setiap kata memiliki dua hal, satu adalah maknanya, yang lain adalah implikasinya. Makna gramatikal, linguistik, dangkal, yang tersedia di setiap kamus.

Contoh kasus lain: jika Anda berada di tengah kerumunan orang dan semua orang mengatakan bola di tengah berwarna biru, tetapi satu orang mengatakan itu berwarna oranye, apakah Ia lantas disebut orang gila atau sebenarnya semua orang yang sudah gila? Itulah perspektif. Ketika sekelompok orang (mayoritas) hidup dengan secara meyakinkan, membuat kesepakatan atas sesuatu, tentang warna, bentuk, dan karakteristik suatu benda. Kesepakatan dari suara mayoritas bahwa bola tadi berwarna biru, tetapi tidak mengakomodir suara satu orang. Mengapa mereka tidak bertanya lebih dulu: mengapa dia menyebut bola tadi berwarna orange? Kok bisa? Tetapi, di situlah letak masalahnya. Orang cenderung tidak mau bertanya karena menurut mereka itu memang keliru.

Kita dapat memperluas definisi dengan memasukkan pemikiran “rasional.” Pemikiran yang masuk akal sehubungan dengan situasi. Tetapi, apa yang masuk akal dalam situasi apa pun ditentukan oleh begitu banyak hal lain—seperti: budaya, kekayaan, kesehatan, sistem kepercayaan, dan lain-lain. Sehingga pada dasarnya tidak mungkin untuk mengatakan dengan pasti bahwa cara mendekati atau memahami suatu situasi adalah tidak rasional.

Jadi, jika kegilaan adalah kebalikan dari pemikiran “normal” dan “rasional,” maka jika semua orang gila, mereka tentu juga tidak gila karena kemudian ada label “normal” yang baru. Karena itu, orang lain tidak boleh memaksakan kehendak supaya pikirannya sama dengan yang lain, atau sebaliknya memaksa pikiran orang lain supaya sama dengan pikiran mereka. Setiap orang terlahir berbeda, setiap orang berpikir secara berbeda dan mengalami dunia dengan cara yang berbeda, maka, banyak orang yang sedikit gila. Ini bukan hal yang buruk, sering kali orang-orang seperti itu yang membawa perubahan dan kemajuan bagi kemanusiaan.

Jadi, ada banyak orang berbeda di dunia ini. Tidak semua orang sama dan siapa pun sangat berbeda dengan apa yang dianggap apa itu “gila.” Mungkin, mereka memiliki latar belakang yang berbeda, nilai yang berbeda dan pandangan dunia yang berbeda daripada orang lain. Mungkin, mereka sudah cukup menganggap serius kehidupan sehingga mereka mulai melepaskan hambatan mereka dan menjadi orang yang selalu mereka inginkan. Bagi mereka, hidup menjadi “berbeda” dari orang lain adalah suatu jalan menemukan jati diri.

George Orwell dalam 1984 mendefinisikan “kegilaan” sebagai A Minor of One. Ini adalah pandangan yang agak eksistensialis, tetapi sejarah cenderung memberikan kepercayaannya, Einstein, Galileo, Copernicus, siapa saja yang memegang pandangan yang bersinggungan dengan pandangan yang paling luas tentang masyarakat di mana mereka tinggal sering dipandang sebagai “gila.” Mempertimbangkan bahwa kata “gila” memiliki asal mula dalam kesehatan dan kesejahteraan, ada argumen subliminal bahwa, tentu saja di masa yang lebih primitif, hidup di luar massa sosial jelas tidak sehat dan sering kali berbahaya, sehingga mungkin merupakan refleksi dari suatu taktik bertahan evolusi, milik massa dan usaha melindungi suku.

Dulu, saya berpikir bahwa ketika saya melihat seseorang tertawa sendiri maka mereka saya anggap gila. Ya, mungkin sebagian dari memiliki cacat mental, tetapi kita semua pada titik tertentu telah berbicara kepada diri sendiri: jadi apa yang membuat orang yang dianggap waras itu berbeda? Meskipun, mereka dapat berbicara dengan diri sendiri, tetapi, masih dapat membuat keputusan rasional antara kenyataan atau ilusi. Plus, ada perbedaan antara seseorang yang memiliki cacat mental dan seseorang yang benar-benar gila.

Seseorang yang cacat mental mungkin memiliki perilaku yang sangat aneh atau aneh di luar kebiasaan kita. Juga, memiliki kepercayaan yang berbeda. Namun, jika seseorang tidak pernah bertindak karena pemikiran dalam pikiran mereka yang tidak nyata, maka orang ini dapat berfungsi. Di sisi lain, Anda memiliki seseorang yang telah merasionalisasi cita-cita dalam pikiran mereka menjadi nyata dan mereka bertindak dari pikiran-pikiran ini maka Anda memiliki seseorang yang gila. Perbedaannya adalah jika orang ini memiliki pengetahuan yang cukup untuk menguraikan apa yang nyata dan apa yang tidak melalui tindakan mereka.

Saya teringat sebuah anekdot tentang “semua orang yang menjadi gila”: Seorang raja dan penasihatnya melihat penyakit menyebar di tanah mereka dan mengisolasi diri mereka sendiri di gua tertutup. Setelah beberapa waktu, mereka percaya bahwa hal-hal buruk telah berlalu dan kemudian meninggalkan gua. Ketika mereka bertemu massa (rakyat), mereka mendapati rakyat benar-benar marah. Raja mencoba berbicara masuk akal kepada mereka, tetapi tidak berhasil. Namun, bukannya memahami, massa justru memenjarakan raja dan penasihatnya di rumah gila.

Saya pikir, pada tingkat tertentu, bahwa semua manusia benar-benar mengandung sejumlah kegilaan tertentu, dan yang bertentangan dengan kepercayaan populer, itu tidak selalu merupakan hal yang buruk. Kegilaan adalah konseptual dan semua manusia berbeda. Tetapi pendapat saya adalah, bahwa kegilaan tidak selalu buruk, dan serangkaian kegilaan yang ada dalam diri setiap orang, adalah mengapa kita begitu sukses sebagai jenis manusia (Homo sapiens).

Setiap orang dapat didefinisikan sebagai orang gila. Bagi saya, Homo sapiens adalah makhluk hidup yang membuat peradaban “berhasil”—ohh, tidak, lebih tepatnya membuat perubahan—dari berburu, bercocok tanam, dan industri. Spesies yang bekerja, makan, dan tidur. Berkembang biak terus-menerus. Spesies yang percaya pada mimpi, magi, fantasi, dan cerita-cerita leluhur. Hidup mereka dalam rutinitas. Mereka kadang melakukan kegiatan yang bodoh dan tidak dapat dinalar semua bangsanya. Mereka membunuh apa pun yang tidak suka. Berperang demi pengakuan dan kekuasaan. Spesies yang suka berbohong dan akhirnya memilih untuk memercayai kebohongan-kebohongan itu sembari mengetahui mereka telah bohong.

Jadi, apa sebenarnya kegilaan itu? Tidak semua manusia gila, tetapi kita semua mengandung rasa lapar untuk berhasil, dan mendapatkan kekuatan. Manusia yang alami tergila-gila pada kesuksesan dan rasa hormat dari orang lain, dan inilah sebabnya, sebagai spesies, periode besar sejarah telah dilahap kegilaan. Kita semua mungkin tidak gila, tetapi kegilaan kemungkinan faktor penentu terbesar mengapa kita sangat berhasil melewati peradaban ini.

Sudahkah hidup Anda penuh dengan kegilaan?*

Roy Martin Simamora

Dosen PSP ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan; penyuka teh hijau. IG: mroy1990 (IG)
Roy Martin Simamora

Latest posts by Roy Martin Simamora (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Kegilaan merupakan bagian dari DNA manusia yang diturunkan oleh Sang Pencipta sebagai bagian dari perjalanan waktu dan ruang peradabannya? Hal ini sebagaimana dikatakan oleh MK bahwa Man thinks, God laughs.:)

  2. Pro-Fanny Reply

    Terlalu bertele-tele

  3. Dani Reply

    Gila berarti satu langkah di atas normal untuk meraih mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published.