Menjelang Badai Lain*

pinterest.com

Aku Badok.

Kepadaku kembali diberikan penglihatan lain. Di suatu tempat, di langit, orang-orang yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit, yang telah mati dibangkitkan kembali. Orang-orang itu mulanya dipenjara oleh perbuatan yang telah mereka lakukan semasa hidup.

Tampak roh mereka yang belum bersih itu, berjalan tertatih-tatih. Aku melihat ada tertulis di atas kepala mereka kenajisan yang telah diperbuat. Setelah mereka semua berkumpul dalam barisan, aku mendengar ada yang berseru dengan suara nyaring, “Berbahagialah kalian sebab Ibu Agung telah membangkitkan orang-orang mati dan dipercayakan sebagai tentara untuk memerangi manusia. Pergilah ke dunia dan gembalakanlah umat manusia serta bawalah kebinasaan dalam kehidupan mereka.”

Setelah memberikan berkat, orang-orang yang dibangkitkan itu, yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit menukik ke bumi.

Maka pada bagian langit yang lain, Anak Domba yang telah dimeteraikan itu tersungkur amat dalam dan orang-orang yang berada di belakang-Nya turut tersungkur sambil menangis dan meratap. Mereka berseru, “Janganlah sekiranya Engkau biarkan bumi dipenuhi dengan kebencian dan penistaan.” Ia menoleh sekilas ke arah mereka yang berseru lalu kembali memalingkan wajah.

“Darah-Ku yang telah membebaskan mereka dari belenggu dosa belumlah berarti apa-apa bagi mereka yang keras kepala,” seru Anak Domba. Ia melanjutkan, “Barangkali mereka menginginkan dunia dikuasai Lilith, wanita yang keras kepala itu.”

Setelah mengatakan hal itu, Ia memalingkan wajah ke arahku lalu berkata, “Wahai, Badok, Aku mengutusmu ke tengah-tengah dunia. Kabarkan kepada setiap mereka yang ingin mendengarkan setiap perkataanmu bahwa, kini, ada di antara kalian nabi-nabi palsu—mengenakan jubah dari sutra-sutra terbaik tetapi mereka tidak mengoyakkan diri dari keterikatan duniawi. Mulut mereka menyerukan nama Tuhan, namun hati mereka penuh dengan serapah. Mereka menakar perbuatan orang lain dengan nas-nas yang mereka baca, namun mereka sendiri tidak membiar Aku yang menakar.”

Usai mengatakan hal itu, lenyaplah semua penglihatan di langit. Aku kemudian merasa bagai dituntun oleh sebuah kekuatan yang tak kasatmata, pergi dari bukit itu.

 

Ia Dimeteraikan dengan Darah Anak Domba

Kumpulan iblis yang berada di sekitar Badok mundur beberapa langkah. Mereka bersungut-sungut lantaran tiba-tiba seperti ada garis batas yang memisahkan mereka dari lelaki pesisir itu.

Ada kekuatan memancar dari tubuh Badok, mendorong keras tubuh-tubuh iblis ke belakang. Bahkan beberapa di antara mereka terpental hingga jauh. Dengan berang dan kecewa iblis-iblis itu menerobos lantas menghunuskan pedang mereka ke arah Badok. Tepat ujung pedang menyentuh lelaki itu, hanguslah mereka.

Sontak iblis-iblis lain terkejut. Mereka menjauh.

“Ia kembali dimeteraikan dengan darah Anak Domba,” seru kepala iblis, memberi peringatan agar tidak ada yang mendekat.

“Berarti Ia berdusta pada bangsa kita.”

“Masihkah Ia layak disembah?”

“Hanya manusia dungu yang menyembah-Nya.”

“Seharusnya Ibu Agung turun tangan sebab perjanjian kudus itu telah dinodai.”

“Pantasan banyak manusia yang berpaling dari-Nya.”

“Dan, apakah Ia berpikir akan menguasai kita kembali?”

“Tidak. Tidak mungkin Ia menguasai kita.”“O, Ibu Agung, lihatlah bagaimana Ia mengkhianati kita.”

“Apakah Ibu Agung hanya berdiam begitu saja?”

“Ibu yang kami laknati dengan serapah segala jenis binatang, dengarlah seruan kami. Pertolonganmu kami nantikan sekarang.”

“Mestinya Ia tidak menahirkan lelaki jahanam itu.”

“O, Ibu Pelacur yang kami laknati, di mana keberadaanmu sehingga kau tidak mendengarkan seruan kami?”

Sambil berseru mereka terus mengikuti ke mana Badok pergi. Sesekali mereka melihat mata Badok diliputi pertanyaan. Para iblis tahu mereka bisa memberikan bisikan penyesatan. Inilah yang sedikit membuat mereka terhibur. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat.

Saat Badok duduk di bawah sebatang pohon rindang dan berbuah lebat, dua dari sekian banyak iblis itu mulai melakukan aksinya.

“Lihatlah,” bisik iblis. Badok mengangkat wajah dan menemukan seekor ular terimpit di antara dahan.

Teringatlah Badok dengan cerita yang pernah dituturkan Ajimolo kepada mereka waktu itu. Hawa, sang ibu dari semua ibu, jatuh dalam dosa karena godaan ular. Begitu juga dengan ular teman perjalanannya.

“Wahai, iblis, terkutuklah engkau jika hendak mencelakai aku,” seru Badok.

“Terberkatilah engkau jika engkau mengulurkan tanganmu menolong aku keluar dari sini. Apakah engkau tak punya hati membantu aku keluar dari impitan ini?”

“Apakah aku terlihat seperti iblis yang ingin mencelakaimu? Jika Ia bersertamu tiadalah apa-apa aku ini,” desis ular, lalu meringis kesakitan.

“Apa yang tertulis dalam nas-nas Kitab Suci tentang seekor ular yang meminta pertolongan? Apakah engkau akan membiarkannya hingga meregang nyawa? Adakah tertulis jika engkau mendapati seekor binatang sekarat di depan matamu dan berlalu begitu saja? Di manakah hatimu?”

Badok terdiam, menelan ludah.

“Dan, kau mengira aku ini iblis?”

Badok belum juga menjawab.

“Jika Ia menyuruhmu tidak melepaskan iblis dari jerat yang dipasang-Nya, maka pergilah.”

“Apakah engkau tidak punya hati, Badok?” bisik iblis yang lain.

Setelah menatap kembali ular yang terimpit, sekilas, bangkitlah Badok, kemudian berlalu.

Pada kesempatan lain, sebelum Badok memasuki perkampungan selanjutnya, iblis kembali mencobai lelaki itu.

Iblis itu berubah menjadi seorang perempuan yang tubuhnya penuh kudis. Tidak hanya itu, dari tubuhnya menguar aroma bangkai, bau yang bagai berasal dari mayat tubuh manusia.

“Dalam nas Kitab Suci ada tertulis: barang siapa menerima saudara-Ku yang paling hina ini, ia telah menerima Aku,” ujar iblis yang telah menjelma perempuan itu pada Badok.

“Kenapa engkau menutup hidungmu dari aroma tubuhku?”

“Apa yang kauinginkan dariku, wahai, perempuan?”

“Ia ingin mencobaimu.”

“Siapa yang kau maksud?”

“Ia yang memberimu anugerah-anugerah tak terkira, yang ada sebelum engkau dan aku ada, yang sebelum langit dan bumi dijadikan.”

“Dan, kau memintaku menjamahmu sebagai sewujud kasih-Nya pada umat-Nya?”

“Mengertikah engkau bahwa Ia mencintaimu dan aku?”

“Aku tahu, cinta-Nya tak terbatas.”

“Kepada semua manusia?”

“Iya.”

“Kenapa engkau tidak mengulurkan tanganmu kepada seorang yang paling hina ini? Apakah Ia pernah mengatakan kepadamu enyahlah dari hadapanmu semua yang tidak sepemahaman denganmu? Atau enyalah mereka yang tidak sejalan denganmu? Jangan-jangan kau termasuk dalam golongan iblis yang ingin memengaruhi manusia. Atau jangan-jangan kau termasuk satu dari ribuan orang yang membenci seseorang tanpa tahu kejelasan kenapa kau membenci orang tersebut. Kukira, kau termasuk salah seorang yang bergerak karena tuntutan banyak orang.”

Pikiran Badok terlempar ke wajah Ajimolo. Lalu, mengaitkan dengan perjalanan yang telah ia tempuh.

Badok berkata, “Aku ini hamba kepunyaan-Nya. Kepada-Nya jiwaku diserahkan.”

Mendengar itu sang perempuan berbau bangkai menatap ke lurus ke dalam mata Badok. Ia menemukan ada kekudusan memancar dari sana. Hati lelaki itu masih seperti semula, bagai tembok batu yang tak bisa ditembusi.

Iblis itu tahu betul bahwa untuk menjatuhkan manusia seperti Badok harus meluluhkan hati lelaki tersebut. Karena iman seorang manusia terletak pada keteguhan hatinya.

Perempuan itu kembali mencobai Badok, “Apakah Ia pernah memintamu membunuh seorang pelacur yang paling hina? Katakanlah, seorang pelacur yang pernah kaujamah tubuhnya hanya karena ia berusaha membuka aibmu.”

“Ia tidak pernah mengatakan hal itu dalam nas-nas yang ditulis oleh para nabi.”

“Kau tidak pernah merasa bersalah atas tindakanmu?”

“Jika semua yang kulakukan dalam nama-Nya dan demi kemuliaan dan keluhuran nama-Nya, toh kenapa aku harus merasa bersalah? Bukankah hidup mestinya menyerahkan diri secara total dalam penyelenggaraan-Nya?”

“Semisal meniduri seorang pelacur?”

“Dalam mata mereka kutemukan ada Tuhan.”

“Sedangkal itukah imanmu?”

“Inikah caramu mencobaiku, wahai, iblis? Enyahlah engkau dari hadapanku.”

Selanjutnya, perempuan jelmaan iblis itu lenyap begitu saja. Ia terbirit-birit karena merasakan kekuatan yang diembuskan Badok.

“Badok masih milik kepunyaan-Nya dan belum milik kepunyaan Ibu Agung,” seru para iblis.

Perkampungan Para Begundal yang Kudus

 

 Aku Badok.

Setelah kumasuki perkampungan ini segala yang ada padaku raib begitu saja. Semua jenis perbekalanku hilang dalam satu kedipan mata.

“Mencuri adalah sewujud derma dan bakti kepada Tuhan,” tukas seseorang manakala ia melihat aku kebingungan menatap setumpukan barang hasil curian, yang berada persis di pertengahan kampung.

“Mencuri dengan alasan apa pun tidak dibenarkan. Ada tertulis jelas pada dua Loh Batu: jangan menginginkan barang yang bukan milikmu.”

“Siapa engkau sehingga datang hendak mengajarkan kami pertobatan?”

“Aku datang karena diutus oleh-Nya. Tanganku telah dikuduskan-Nya. Lidahku telah disucikan-Nya dari segala aib, itu sebabnya aku datang kepadamu untuk mewartakan kabar baik ini. Kepadaku diberikan kuasa untuk menahirkan kalian. Dan, kepada mereka yang datang oleh karena keinginannya untuk bertobat, maka keluasan hati akan datang kepadanya.”

“Apa itu kebaikan? Apa itu kebenaran?”

“Apakah aku perlu menjawab pertanyaanmu?”

Sesaat terjadi keheningan yang paling pekat, dan setiap mereka berusaha memikirkan yang terbaik. Setiap kata yang meluncur dari bibir adalah peluru yang siap menembus setiap jantung yang mendengarkan.

“Kami mencuri karena ingin memuliakan nama-Nya. Sebab, hanya dengan cara ini kami merasa begitu intim dan dekat dengan-Nya.”

“Celakalah kalian yang mengambil dari tangan yang bukan kepunyaan kalian dan berbahagialah mereka yang menjaga tangan dan mulutnya sehingga tidak menjadi tamak.”

“Kami mencuri dari mereka yang kaukatakan tamak, karena kami tahu bahwa itu bukan milik mereka. Kami mengambil dari mereka yang suka mengambil bukan dari kepunyaan mereka.”

Aku terdiam beberapa lama. Kukira, pekerjaan seperti ini juga baik di mata Tuhan.

“Jika engkau menyuruh kami berhenti mencuri, maka siapa lagi yang mencuri dari mereka yang tamak itu?”

“Aku akan mengutuk mereka.”

“Kami percaya bahwa, bagi mereka, kata-kata tak lagi memiliki tenaga sebab mereka telah membutakan mata dan menulikan telinga sejak lama. Yang ada pada mereka adalah kesombongan-kesombongan.”

Aku berpikir keras bagaimana mengubah cara berpikir orang yang menganggap tindakan pencurian sebagai sebuah kebenaran. Apakah hal ini tertulis dalam kitab yang mereka miliki?

“Apa kata kitabmu tentang pencurian?” aku mendesak dengan pertanyaan.

“Pencurian adalah tindakan kriminal yang tidak disukai oleh Tuhan. Ia mengutuk orang yang mengambil bukan milik kepunyaannya. Dan, apa yang kausaksikan saat ini adalah sebuah pencurian yang bersifat derma. Kami mengambil bukan milik kami tapi bukan berarti kami menggunakan barang-barang itu untuk keperluan kami. Semua ini demi peringatan kepada kami, bahwa tangan dan kaki diciptakan untuk bekerja memuliakan nama-Nya.”

Usai mengatakan itu, aku melihat langit kembali tersibak dan dari langit yang terbuka itu aku mendengar suara yang penuh wibawa berkata, “Berkat-Ku berkenan turun atas mereka.”

Lalu, dari langit yang sama itu, aku melihat Roh Tuhan turun atas mereka dalam rupa tiupan angin kencang yang membawa lidah-lidah api menjulur panjang. Lidah-lidah api itu melalap barang-barang yang ada dan setelah semuanya terbakar, ada angin susulan yang lebih keras, entah dari mana datangnya, menerbangkan semua curian itu ke langit. Begitu barang-barang itu lenyap dari hadapan kami, orang-orang kampung datang mengelilingi lapangan itu.

Berserulah mereka dengan suara nyaring, “Terpujilah Engkau yang telah menjadikan langit dan bumi. Terimalah derma lambang hati kami. Engkaulah Tuhan yang patut diberi sembah, bukan kepada raja-raja, bukan kepada kekayaan, bukan kepada kekuasaan, bukan kepada hal-hal duniawi. Engkau adalah Tuhan yang berkuasa atas segalanya, yang memerintah dengan kebijaksanaan, lagi adil, seadil-adilnya.

“Hutan rimba dan segalanya, yang ada di dalamnya adalah milik-Mu. Yang di laut dan segala yang berkeriap di dalamnya, Engkau menjaga mereka dengan baik dan mencatat nama mereka pada telapak tangan-Mu. Yang menggiring mereka dengan ketamakan patutlah Engkau mencatat nama mereka. Apabila mereka telah berpulang dari kefanaan, tegaklah yang ada di hutan dan laut, berdiri di depan-Mu, lalu meteraikan mereka sebagai Pengadil.”

Mereka kemudian merebah ke tanah dengan wajah ke bawah seperti mencium tanah. Setelah itu, mereka kembali berseru, “Jangan biarkan seorang pun bersukaria apabila mereka tidak bekerja sesuai Hukum Taurat-Mu. Hukumlah mereka apabila mereka menjauhi segala perintah. Dan, yang meninggalkan-Mu sepatutnya mendapat kematian dan kutuk.”

Mendengar itu semua aku merasa menjadi begitu kerdil. Ada sesuatu menganga dalam rongga dadaku.

“Perbuatlah apa yang ingin kalian perbuat. Apa yang menurut kalian benar belum tentu benar menurut ketetapan dan ketentuan-Nya. Tetapi, yang pastinya, jagalah hatimu selalu agar tidak jatuh dalam percobaan sebab barang siapa yang telah jatuh dalam jurang sulit untuk merangkak naik,” aku berseru dengan suara lantang.

Mereka semua kemudian menatap aku dengan tatapan tajam.

“Kami telah berlaku sesuai dengan ketetapan-Nya,” balas mereka hampir bersamaan.

Tidak lama setelah itu aku melihat bagai ada berkat yang dikirim langsung kepada setiap mereka yang berada di sekitarku. Aku melihat seberkas cahaya yang lembut memasuki setiap mereka.

“Kami adalah pendosa,” tukas seseorang yang berada di sampingku. Lanjutnya, “Kami hanya ingin merasakan kemurahan-Nya lebih intim.”

Aku belum menjawab, seorang yang lain menukas datar, “Kuatkanlah hatimu, sebab semua ini terjadi supaya genaplah firman-Nya.”

Sungguh, aku tidak mengerti.

Setelah pergi dari perkampungan para begundal itu, aku jadi memikirkan banyak hal. Sesuatu yang salah di mata banyak orang belum tentu bagi sebagian orang yang telah lama memegang hukumnya, bisa berterima. Aku jadi memikirkan apa yang pernah disampaikan Ajimolo: Apa yang tampak benar di matamu belum tentu benar bagi Ia yang ada di atas sana, sebab Ia memiliki takaran-Nya sendiri. Alat ukur yang sering dipakai manusia kebanyakan keliru.

Karena merasa bagai sendirian, aku pun memejamkan mata, berdoa. Pada saat seperti ini doa tidak menyelamatkan aku sama sekali. Aku merasa Ia bagai begitu berjarak denganku. Ia terlalu jauh. Ia seperti memalingkan wajah-Nya dari seruanku meminta pertolongan.

Jalan Kemungkinan

Setelah melewati hutan belantara, Badok merasa seperti mendapat kekuatan lain. Ia mengira Tuhan telah mengulurkan tangan-Nya menjamah dirinya. Badok juga yakin bahwa dalam perjalanan melewati hutan yang tak ditembusi sinar matahari itu Tuhan telah melindunginya. Itu sebabnya, tak satu pun binatang melata yang mematuk tumitnya. Atau kalajengking yang paling mematikan menyengatnya.

Badok terus menjatuhkan langkahnya. Tibalah ia pada sebuah padang yang penuh dengan aneka bunga. Begitu melihat keindahan dari bunga-bunga itu, Badok kemudian berkeyakinan bahwa Sang Pemilik bunga ini adalah Tuhan sendiri. Dalam bayangan lelaki itu, Tuhan itu adalah seorang perempuan, yang tentu sangat gemulai jari-jemari-Nya. Ia membayangkan jari yang lentik, lalu coba membandingkan dengan bunga yang tampak begitu menawan ini.

“Wahai, bunga-bunga, katakanlah kepadaku, seperti apa Tuhan yang kalian tahu?” Badok bersuara. Bunga-bunga bergoyang anggun.

“Apa Ia seperti seorang perempuan yang gemulai?”

Tidak ada jawaban.

“Aku tidak percaya Ia seperti sesosok lelaki perkasa.”

Belum juga ada jawaban. Terdengar angin berdesir. Karena tidak ada jawaban, aku terus mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akhirnya setangkai bunga menjawab, “Apakah engkau akan tabah menanggung kemurkaan-Nya?”

“Aku datang dari jauh dan ingin menemukan wajah-Nya.”

“Pulanglah, sebab engkau tidak akan menemukan-Nya.”

“Ke mana aku harus pulang? Sementara itu, dalam nas Kitab Suci ada tertulis: Barang siapa yang mau mengikuti-Nya harus meninggalkan sanak kerabatnya atau orang-orang yang dicintai. Aku ingin mengikuti jalan-Nya.”

“Atau kauingin menjadi seorang nabi?”

“Aku terlalu bercela untuk menjadi seorang nabi.”

“Kau sudah menemukan-Nya!”

“….”

“Apa kau tidak yakin?”

“Aku tidak yakin.”

“Ia selalu ada pada setiap pertanda yang kaujumpai dalam perjalananmu.”

“Bagaimana aku memahami Ia yang transenden?”

“Imanmu.”

“Aku tidak cukup iman untuk memahami segala hal tentang-Nya.”

“Menyedihkan sekali hidupmu.”

Badok menebar pandangan dan menemukan setiap kuncup dan kembang bunga bagai turut memandangnya.

“Jika kau tidak percaya atas menyelenggaraan-Nya terhadap hidupmu, terus berjalanlah. Ada Jalan Kemungkinan di depan sana. Kau boleh memilih: entah berhenti atau melanjutkan, terserah.”

“Seperti apa jalan yang kaumaksudkan itu?”

“Kau akan tahu sendiri.”

“Kukira untuk menemukan-Nya cukup mudah tetapi tidak. Aku sudah melewati beberapa desa dan tidak juga kutemukan Ia.”

“Karena disembunyikan-Nya bagi mereka yang tak memiliki iman.”

“….”

“Setiap mereka yang mencari-Nya dengan hasrat, Ia selamanya tetap tersembunyi. Hanya kepada mereka yang kecil Ia menampakkan wibawa-Nya.”

“Aku merasa Ia sedang mempermainkan hidupku.”

“Ha-ha-ha. Ia menyembunyikan hal-hal kecil darimu. Atau, jangan-jangan, kau sedang memelihara hasrat untuk menaklukkan-Nya.”

Badok tercenung. Ia ingin kembali menjatuhkan langkah tapi kakinya bagai tertahan.

“Kadang aku ragu apakah Tuhan masih menyertai manusia atau tidak,” ujar Badok.

“Mengapa?”

“Karena dalam doa manusia sering mengacam Tuhan.”

“Seperti tidak menyembah-Nya apabila tidak mengabulkan permohonan mereka?”

“Iya. Mereka seperti iblis yang selalu ingin diperhatikan.”

“Jangan bicara kuat-kuat sebab banyak iblis di sekitarmu. Mereka mendengarkan pembicaraanmu.”

“Aku tidak takut sebab Ia bersama aku.”

“Ia telah memalingkan wajah-Nya dari hadapanmu.”

Badok tersedak. Bagaimana bunga-bunga tahu tentang penglihatannya selama ini. Badok berpikir, barangkali Tuhan menetap dalam sebatang bunga pada taman ini. Ah, itu tidak mungkin, protes Badok kemudian.

“Sebetulnya apa yang kaucari,” ujar kelopak bunga yang hampir gugur dari tangkai.

“Aku ingin mencari kebahagiaan.”

“Engkau tidak akan menemukannya di dunia ini, Badok.”

“Mengapa?”

“Karena Ia hanya menyediakan bagimu penderitaan demi penderitaan.”

“Aku tidak percaya.”

“Mereka yang mengikuti-Nya menerima kebahagiaan pada kehidupan kedua. Hidup setelah kematian.”

“Pantasan banyak yang memilih mundur.”

“Apakah kau pun akan mundur seperti mereka?”

“Hmmm….”

“Apakah kau tak ingin menuntaskan perjalananmu?”

“Entah.”

Para iblis yang mendengar percakapan itu mulai mengatur siasat licik. Mereka harus lebih pandai mengelabui Badok. Maka masuklah iblis ke dalam setangkai bunga yang paling anggun.

“Ia akan membuatmu sangat menderita,” kata setangkai bunga yang telah dimasuki iblis.

“Seperti disiksa?”

“Iya. Ia akan menghasut orang-orang agar menyalibkanmu.”

“Kukira, Ia tidak sekeji dan sekejam itu padaku.”

“Adakah dalam cerita tentang martir yang berakhir bahagia?”

“….”

“Semua orang yang mengikuti-Nya akan mati dengan cara yang paling keji, Badok.”

Badok terdiam, lemas. Ia membayangkan orang-orang yang menanggung penderitaan dalam cerita-cerita yang pernah ia dengar. Tubuh Badok bergetar. Lalu, sekoyong-koyong taman itu bagai dilanda gempa. Maka tampaklah di hadapan Badok sebuah adegan penyiksaan.

Seorang lelaki tanpa sehelai pakaian sedang dilecuti lima orang. Dari tubuhnya darah segar mengalir. Setiap lecutan cemeti meninggalkan bekas luka.

Badok dapat mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh lecutan cemeti. Setiap cemeti itu diayun, Badok bergidik, bagai merasa tubuhnya pun sedang mengalami penderaan itu. Ia merasa ngeri begitu nyata.

“Kukira, kau tak sanggup, Badok,” kata setangkai bunga yang anggun itu.

Keringat mengucur dari wajah Badok.

“Apa kausanggup menerima penderitaan itu, Badok?”

Lelaki itu menggeleng, lemah.

“Pulanglah, sebab jalan yang disediakan bagimu terlalu berat.”

“Tapi.…”

“Bukankah kau mencari kebahagiaan? Ada jalan yang bisa kautempuh dengan lebih mudah.”

“Seperti apa?”

“Ada jalan yang telah disediakan bagimu, Badok. Kau tidak usah bersusah-susah mencari kebahagiaan karena ia akan datang kepadamu.”

“Jika engkau menunjukkan hal itu kepadaku, aku akan mengikutimu. Barangkali aku bisa menjadi setangkai bunga.”

Langit kembali terkoyak. Tampaklah oleh Badok seorang sedang menuntun kawanan domba dalam jumlah besar. Seseorang itu kemudian terjun ke dalam jurang dan diikuti oleh kawanan domba. Mereka semua mati mengenaskan.

“Aku seorang gembala yang baik,” ujar Badok.

“Tapi, kukira, kau tidak bisa menanggung penderitaan yang disediakan bagimu, Badok.”

“Akan kucoba.”

Kelopak bunga yang telah didiami iblis, terkejut—bergetar. Sesaat kemudian kelopak itu terlepas dari tangkai, gugur. Sebelum mendebam ke tanah iblis langsung meloncak keluar.

Aku harus pergi,” ujar Badok kemudian.

Bunga-bunga di taman itu tampak seperti memberi hormat kepada lelaki pesisir itu. Setiap bunga seperti dengan caranya sendiri memberikan yang terbaik dari diri mereka. Ada yang menebarkan aroma yang paling lembut tapi ada pula bau anyir. Sebab, bunga-bunga di taman itu pun tahu bahwa seorang manusia, seperti Badok, mestinya belajar banyak hal dari sana. Bahwa setiap keindahan tidak selamanya ada Tuhan di sana.

Tiga langkah sebelum keluar dari taman itu, setangkai bunga yang paling indah di taman itu berujar lembut, “Dalam diri kami ada Tuhan dan Ibu Lilith. Mereka saling mencintai.”

Badok menoleh, menatap bunga itu agak lama.

“Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan,” tukas Badok, kemudian pergi.

*Cerita ini merupakan salah satu Bab novel yang sedang digarap.

Jemmy Piran

Lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Beberapa tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa koran seperti Media Indonesia, Suara Karya, Tabloid Nova, Sinar Harapan, Solopos, Radar Surabaya, Banjarmasin Pos, Riau Pos, Rakyat Sultra, Pos Kupang. Kini, tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Jemmy Piran

Latest posts by Jemmy Piran (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.