Mimi dan Bayangannya

Fitzwilliam Museum, University of Cambridge

Ibu menelepon dan ngomel-ngomel. “Kamu akan membusuk di sana, Sayang. Ulat-ulat bakal keluar dari mulut dan lubang hidungmu. Juga dari kuping dan matamu. Mau kamu?”

Mimi menggeleng spontan, seolah ibunya bisa melihat apa yang ia lakukan. “Mau kamu?” Ibu mengulang pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.

“Enggak, Bu.”

“Makanya keluar. Ingat, sudah berapa lama kamu mendekam di sana?”

Mimi menerawang. “Satu setengah bulan lebih beberapa hari.”

“Ya Tuhan. Kamu benar-benar akan membusuk, Sayang. Pokoknya kamu harus keluar. Suka atau tidak!”

Namun Mimi tahu ia tidak akan membusuk. Ia bukan bocah kecil yang gampang dibodohi. Ia sudah dua puluh dua tahun. Ia makan tiga kali sehari, mandi dua kali, dan tidur delapan jam. Ia tidak akan mati lantas membusuk hanya karena ia tidak keluar. Dari YouTube, ia juga tahu bahwa banyak orang di Jepang yang bertahan lebih lama ketimbang dirinya, bahkan hingga bertahun-tahun, dan mereka tetap segar bugar.

“Kalau kamu masih tidak mau keluar, Ibu tidak akan mengirim uang lagi ke rekeningmu. Ingat, Mi, Ibu tidak masalah kamu tidak bekerja, tidak punya penghasilan, dan memilih tinggal di kamar kos itu ketimbang bersama Ibu di rumah. Tapi kamu harus keluar, Mi. Demi kebaikanmu sendiri,” suara Ibu serak di seberang. Mimi tahu, Ibu tengah bertarung dengan air matanya.

“Kirimi Ibu fotomu jalan-jalan di luar, makan di restoran, ngopi di kafe. Syukur-syukur sama temanmu. Harus. Hari ini juga,” tambah Ibu sebelum menutup teleponnya.

Maka begitulah Mimi bangkit dari tempat tidurnya dengan enggan. Tubuhnya terasa berat dan ia menyibak kasar selimutnya. Ia melangkah gontai ke kamar mandi, menelanjangi dirinya, lantas mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia menggigil. Keluar dari kamar mandi, ia berdiri telanjang di depan cermin besar.

Ia benci harus keluar kamar. Ia tak tahu kenapa ia harus keluar kamar. Ibunya selalu berkata—tentu saja melalui telepon—bahwa itu demi kebaikannya, demi kesehatannya, demi kebutuhannya bersosialisasi dengan orang lain. Namun Mimi merasa dirinya baik-baik saja dengan tidak keluar dari kamar kosnya, ia tak pernah sesehat ini sebelumnya, dan apa gunanya bersosialiasi dengan orang lain jika kenyataannya ia memang tidak menghendakinya? Dengan uang kiriman ibunya, ia bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ia tinggal menelepon layanan pesan antar makanan bila lapar, menghubungi penatu bila pakaian kotor sudah menumpuk, mengisi listrik dan pulsa secara daring, dan lain sebagainya. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam kamar kosnya. Ia memiliki hidupnya. Hidup seperti yang ia ingini, menghabisi waktu dengan bermain game atau berselancar di berbagai platform media sosial menggunakan akun palsu yang memungkinkannya menjadi siapa pun atau karakter macam apa pun yang ia kehendaki. Dari empat akun palsunya, salah satunya memiliki lebih dari lima ribu pengikut berkat foto-foto cantik yang ia ambil dari google dan kalimat-kalimat lucu yang ia peroleh dengan meniru postingan akun lainnya. Di akun lainnya, ia menampilkan diri sebagai seorang alim yang kerap mengutip hadis dan gencar mempromosikan gerakan poligami berbekal pengetahuan dari artikel-artikel yang berseliweran di linimasa dan video YouTube. Ia sebenarnya masa bodo dengan isi artikel atau video tersebut, ia hanya membutuhkannya untuk kepentingan akunnya itu. Sementara di akun yang lain lagi, ia menjadi seseorang yang mengutuk gerakan-gerakan radikal, memasang foto berpakaian terbuka dari google, dan kerap mengunggah makian-makian kotor khas generasi milenial. Akun terakhirnya penuh kutipan-kutipan puisi dari para penyair terkenal dan Mimi suka sekali dengan jaringan penyair di daftar pertemanannya yang kerap mengiriminya pesan mesum dan mengajaknya berselingkuh meski foto profil yang ia pasang hanyalah gambar tokoh Nami dari karakter anime One Piece.

Mimi mendesah pelan. Ia menatap dalam-dalam pantulan dirinya di cermin. Gadis setinggi seratus lima puluh satu sentimeter dan bobot tak sampai tiga puluh kilogram. Tubuh kering kerontang yang gagal ia gemukkan tak peduli sebanyak dan sebergizi apa pun makanan yang ia asup. Muka bopeng bekas jerawat. Hidung yang agak miring ke kiri, bibir hitam tebal, rahang besar dan rambut kasar sebahu. Itu semua dilengkapi susunan gigi yang tidak rata, runcing, dan renggang. Segala kombinasi di dirinya, pada tahun-tahun buruk yang telah lewat, senantiasa menjadi bahan rundungan bagi teman-teman sekolah dan kuliahnya. Mereka menyebutnya anak monyet, atau dinosaurus yang tersisa, atau Hellgirl—Hellboy versi perempuan, atau pangkal trembesi yang baru terbakar. Masih banyak julukan lainnya dan Mimi tak pernah tahu bagaimana cara melindungi dirinya dari ejekan-ejekan itu. Satu-satunya yang ia bisa hanyalah menyingkir ke sudut-sudut sepi, meratapi nasib buruk yang menimpanya, lantas menimpakan kesalahan kepada kedua orang tuanya. Ia menyesal dilahirkan, ia mengutuk kedua orang tuanya yang menikah sehingga ia mesti ada di dunia yang begitu buruk ini, ia memanjatkan doa-doa celaka bagi bapaknya yang meninggal setelah setengah tahun dihajar stroke ketika Mimi berusia sebelas tahun, ia merutuki ibunya yang jauh lebih cantik darinya dan tak pernah Mimi mengerti bagaimana perempuan seperti ibunya bisa melahirkan putri sebagaimana dirinya. Mimi sering berpikir bahwa ia hanyalah anak yang dipungut dari tempat sampah oleh orang tuanya.

Mimi kembali mendesah. Ia memejamkan mata. Dan ketika kelopak kecil itu terbuka, Mimi melihat bayangan dalam cermin bergerak ke kiri. Mimi memicingkan mata karena kenyataannya ia tidak bergerak dari posisinya semula yang tegak di depan cermin. Namun bayangan dalam cermin malah membelalakkan mata. Mimi mundur dua langkah. Bayangan dalam cermin maju tiga langkah. Lantas bayangan itu tersenyum.

“Tunggu di sini, Mimi. Satu jam saja,” bayangan itu bersuara. Mimi mengira setan-setan tengah mempermainkannya. Tapi benarkah setan itu ada? Bayangan itu berjalan ke bayangan lemari, mengambil kaus dan celana, mengenakannya, lantas mengambil sisir di bayangan meja, mematut diri sebentar.

Bayangan itu tersenyum. Mimi mematung dengan mulut terbuka. “Aku pergi,” ujar bayangan itu seraya melambaikan tangan.

Bayangan itu membalikkan badan, berjalan menjauh, lantas lenyap di satu titik dalam cermin. Mimi terundur, lantas terduduk di tempat tidur. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi. Namun di depannya, cermin besar itu hanya berisi bayangan benda-benda. Ia tak melihat bayangannya.

Mimi menunggu. Detik terasa macet, waktu berhenti. Sementara bayangannya keluar dari kamar kosnya, berjalan tanpa tujuan. Namun kakinya memilih berbelok ke kanan. Bayangan itu melangkah. Terus melangkah. Ia berpapasan dengan seorang penjual bubur ayam yang menatapnya jijik. Bayangan itu menundukkan wajah, mencoba mengusir perasaan tidak nyaman yang dibencinya. Dan ia terus berjalan. Ia bertemu orang lain, berpapasan dengan orang lain, melewati orang lain. Dan semua orang itu menghadiahinya pandangan jijik. Bayangan itu terus menundukkan wajah. Ia tidak lagi melihat ke depan. Paving trotoar menuntunnya. Bayangan itu menabrak seorang lelaki yang tengah sibuk dengan ponselnya.

“Bajingan!” lelaki itu memaki dan mendorong bayangan Mimi. Bayangan Mimi mundur beberapa langkah, lantas berlari menjauh. Setelah beberapa saat, bayangan itu berhenti. Napasnya ngos-ngosan. Ia memindai sekeliling, mencoba menemukan tempat yang sepi. Seorang lelaki berewok berjaket kulit tiba-tiba sudah berdiri di samping bayangan Mimi. “Kamu tersesat?” sapa lelaki itu. Mimi menoleh dan terkejut. Wajahnya memerah dan ia segera menunduk. “Ada yang bisa aku bantu?” lanjut lelaki itu. Bayangan Mimi menggeleng. Ia tak tahu bagaimana mesti bersikap atas kebaikan lelaki itu. Selama ia mengikuti Mimi, selain ibu Mimi, nyaris tak pernah ada orang yang memedulikan Mimi dan dengan begitu ia tidak punya pengalaman menghadapi peristiwa semacam ini. Bayangan Mimi terharu sekaligus malu dan bingung.

“Kalau begitu, mungkin kamu yang bisa membantuku,” suara lelaki itu lembut namun samar-samar bayangan Mimi menangkap nada yang aneh. Lelaki itu merogoh saku celana jeansnya, meloloskan pisau lipat, merepet dan menempelkan pisau berkilat tersebut ke perut bayangan Mimi. “Aku belum makan dan ngerokok. Beri aku sedikit uang,” lelaki itu melanjutkan, masih dengan suara lembut dan sedikit nada ancaman.

Bayangan Mimi menggigil ketakutan. Tergopoh-gopoh merogoh saku celana, mengeluarkan segala isinya. Tidak banyak. Lelaki itu mendengus kesal. “Saku lainnya,” katanya sedikit keras. Bayangan Mimi menggeleng. “Sudah tidak ada. Saya bersumpah,” kata bayangan Mimi terbata.

“Bajingan,” lelaki itu memaki seraya sedikit menekan pisaunya. Bayangan Mimi meringis. Lelaki itu merogoh saku-saku celana Mimi. Dan ia memang tidak menemukan apa-apa. Ia kembali memaki sambil meludahi muka bayangan Mimi. Lantas berbalik dan pergi.

Bayangan Mimi masih gemetar ketika lelaki itu sudah lenyap ditelan kelokan jalan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya dan nyaris tanpa sadar ia melompat ke jalan raya ketika sebuah truk melaju sedikit kencang dan sopirnya tak memiliki cukup waktu untuk menginjak pedal rem. Truk itu menyambar bayangan Mimi, membuat bayangan Mimi terlempar beberapa meter. Kepala dan tangannya berdarah. Bayangan Mimi merintih. Truk berhenti sekitar lima belas meter kemudian dan sopirnya keluar. “Tolol!” sopir truk memaki. “Pergi, ayo pergi sana! Jangan menyalahkanku dasar gadis gila!” tambah si sopir truk. Bayangan Mimi bangkit terhuyung. Belum lima belas menit ia keluar dari cermin di kamar kos Mimi dan ia sudah hampir mampus. Tidak, ia tahu ia tidak bisa meneruskan perjalanan ini. Ia harus segera kembali. Kembali ke dalam cermin di kamar kos Mimi yang nyaman dan aman. Maka ia memaksakan diri berbalik. Susah payah ia berjalan pulang. Ia kembali berpapasan dengan orang-orang, bertemu orang-orang, berusaha melewati orang-orang. Dan kembali orang-orang itu memberinya tatapan jijik. Bayangan Mimi memegangi kepalanya. Pemandangan di sekitarnya seakan berubah menjadi lautan api yang menyeramkan dengan monster-monster yang siap mencabik-cabiknya. Mungkin, pikir bayangan Mimi, inilah neraka itu. Kembali ia bertabrakan, kali ini dengan lebih banyak orang. Dan setiap kali bertabrakan, ia merasa tubuhnya didorong, dan makian menghujani kupingnya. Bayangan Mimi semakin pusing. Ia berjalan lebih terhuyung ketimbang sebelumnya. Darah kian deras mengalir dari lukanya, membasai wajah dan lengan seperti keringat. Aku tak mau mati di sini, erang bayangan Mimi.

Namun pada akhirnya, bayangan itu berhasil mencapai cermin di kamar kos Mimi. Ia mendapati Mimi yang tengah duduk di depan cermin menunggunya.

“Apa yang terjadi? Ini belum dua puluh lima menit. Dan kenapa kau berdarah-darah?” sambut Mimi seraya bangkit dari tempat duduknya.

“Mimi, apa pun yang terjadi, kau tak perlu keluar dari kamar ini. Biar saja ibumu tidak mengirimimu uang. Kau mungkin akan mati kelaparan dalam beberapa hari. Namun bila kau keluar sekarang, kau akan mati sebelum tiga puluh menit. Dunia memang mengerikan. Sangat mengerikan. Lebih mengerikan ketimbang yang terakhir kau tahu,” bayangan Mimi terengah bercerita.

Ya. Mimi tahu, ia memang tak harus keluar. Tak pernah perlu keluar.

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

Comments

  1. Sheila Reply

    Bagus! Saya suka cara bertutur yang penulis gunakan di sini.

  2. Intan Reply

    Sumpah ini dalem banget ceritanya.. 😍

    • Anonymous Reply

      Pikiranku di buat sliweran 😁 suka 😊

  3. rusdizaki Reply

    saya berharap adegan perkosaan ternyata tinggal harapan

  4. Gandhi Nugroho Reply

    WOW!

  5. Anonymous Reply

    Keren

Leave a Reply

Your email address will not be published.