Panggilan dari Praha

Sumber gambar: ArtTower

 

4 November 2019, Soegeng Soejono, sosok yang menginspirasi lahirnya film layar lebar “Surat dari Praha”, menulis di akun Facebook-nya, “Udah 4 hr baring flu di ruang tamu. Mohon doanya, cepet sembuh. Nggak tahan di rumah, bosen, ingin kluyuran. Makasih!!!!”

Di antara ratusan komentar, saya menemukan nama Anvar Purnama, kakek berumur 90-an yang sudah saya kirimi pesan sekira dua bulan silam. “Mohon maaf menyela, Pak. Saya mengirimi Bapak pesan & permintaan pertemanan, mohon ditanggapi,” tulis saya, menimpali doa Anvar buat kesembuhan Soegeng.

Nama Anvar Purnama—dibaca Anwar Purnama—pertama kali saya dengar dari Zen RS. Saat bicara soal rencana residensi ke Moskow, pendiri situs panditfootball.com itu menyarankan saya agar sekalian ke Praha menemui Anvar. “Dia pernah sekolah di Taman Siswa Bandung, dan menjadi Ketua Pemuda Rakyat Cianjur,” terang Zen.

Selama di Moskow, saya bermaksud menulis soal Utuy Tatang Sontani, penulis Lekra yang menjalani hidup sebagai eksil sekaligus pengajar di Universitas Lomonosov. Utuy berasal dari Cianjur dan Zen meyakini Anvar kenal betul, bahkan pernah bertemu, dengan penulis lakon “Awal dan Mira” itu. “Pasti apaleun da sarua urang Cianjur.”

Zen dan Galuh Pangestri Larashati, istrinya, bertemu Anvar di Praha pada tahun 2015. Kala itu, keduanya berencana menemui Soegeng, namun karena yang bersangkutan berhalangan, pasangan tersebut disarankan menemui Anvar. “Kami bertemu di sebuah kafe, dia mentraktir kami bir.”

Menurut Galuh, selain aktif bermain Facebook, Anvar juga masih rutin mengikuti perkembangan berita dari Indonesia.

Pada tahun 1962, Anvar dan ratusan mahasiswa ikatan dinas dikirim ke Uni Soviet untuk belajar. Peristiwa politik 1965, disusul naiknya Soeharto menggantikan Sukarno, membuat Anvar dan teman-temannya tak bisa pulang ke tanah air. Tragedi inilah yang disebut Arzia Tivany Wargadiredja di laman Vice Indonesia telah menghapus satu generasi intelektual negeri ini.

Seluruh informasi yang saya dapat soal Anvar terbuktikan saat, setelah menimpali komentarnya, mantan pengajar di Institut Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Cekoslowakia itu menghubungi saya via messenger, melakukan video call.

Singgah

Seluruh rambutnya memutih sudah, dan parasnya semringah. Mengenakan kaus oblong hitam, dengan latar sebuah kamar sempit berdinding warna gading dan kasur berseprai biru, Anvar membuka obrolan dengan bahasa Sunda campur bahasa Indonesia.

Halo, Kang Zul. Kumaha kabarna? Sok sering ketemu sareng Kang Zen dan Teh Galuh? Leres, abdi kantos pendak sareng aranjeunna waktos kapungkur ameng ka Praha.”

Artikulasinya lancar, meskipun sudah berumur. Alih-alih canggung, obrolan saya dengan Anvar justru terasa hangat dan akrab, laiknya seorang cucu mendapat telepon tiba-tiba dari kakek yang dirindukannya—sekaligus merindukannya.

Anvar tercatat sebagai angkatan kedua Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa, yang dibangun rezim komunis Uni Soviet. Di kampus itu, kampus yang sama dengan Koesalah Ananta Toer, adik Pramoedya yang menuliskan pengalamannya di negeri beruang berah lewat buku Kampus Kabelnaya dan Anekdot Moscow, Anvar belajar hubungan internasional.

“Pada tahun 1960, Dubes Uni Soviet untuk Indonesia berceramah di Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, Soviet akan mengurangi jumlah pasukannya, dan hal itu dibuktikan dengan, salah satunya, membangun sejumlah kampus, alih-alih tangsi militer. Ada kuota besar yang diberikan kepada para pelajar asal Indonesia,” kata Anvar, mengenang sabab nuzul kepergiannya ke Moskow.

Obrolan ngalor-ngidul itu menyinggung pula pergaulan remaja Anvar. Ia menyebut nama A.S. Dharta, pendiri Lekra asal Cibeber, Cianjur, sebagai salah seorang karibnya. “Dharta alias Klara Akustia sering main ke rumah saya di Bojong Meron.”

Adapun soal Utuy, Anvar justru bertemu dengannya di pengasingan. “Saat Kang Utuy tiba di Moskow, saya sudah tinggal di Kiev. Kira-kira tahun 1972, teman-teman bilang Kang Utuy mau ketemu setelah diberi tahu ada orang Cianjur.”

Meski demikian, saat masih duduk di bangku SMP partikelir sekolah kebangkitan Indonesia (SKI), Anvar muda pernah menghubungi Utuy lewat sepucuk surat. “Waktu itu, Kang Utuy sudah menjadi pengarang besar. Saya menyurati dia minta izin karena salah satu dramanya mau dipentaskan di sekolah.”

Puluhan tahun, keduanya bertemu di Moskow.

“Apa yang hal yang paling Bapak ingat dari pertemuan dengan Utuy?”

“Bi Odah! Kang Utuy bilang, dia suka makan di warung Bi Odah. Itu warung lokasinya dekat rumah saya.”

Selain A.S. Dharta, Anvar juga menyebut nama Aoh Kartamihardja, kakak penyair Priangan Si Jelita Ramadhan K.H., sebagai bagian dari masa remajanya. “Waktu masih di Cianjur, saya sering bertamu ke rumah Kang Aoh.”

Meninggalkan Indonesia sejak tahun 1962, Anvar baru bisa pulang pada tahun 2004. Ketimbang pulang, kedatangannya ke Cianjur sebetulnya lebih tepat dibilang singgah. Kampung halamannya, Bojong Meron, saat ini diberi nama Jalan Haji Agus Saleh. Rumah masa kecilnya telah tiada, seperti halnya kedua orang tuanya.

“Yang tersisa tinggal para kemenakan, mereka sudah pada kerja dan berkeluarga. Saya tidak mungkin merepotkan mereka.”

Mulanya, Anvar mengira bahwa perubahan iklim politik pasca tahun 1965 akan berlangsung beberapa tahun saja—karena itulah ia sabar menunggu. Dari Moskow ke Kiev, nasib Anvar bersambung ke Praha. Di sana, setelah bertahun-tahun hidup menyandang status tanpa warga negara (stateless), Anvar memilih kewarganegaraan Republik Ceko.

“Tahu-tahu saya tak lagi muda, tapi si Soeharto tak turun juga. Saya ingin punya keturunan, pulang tidak mungkin dan semua mahasiswi sesama ikatan dinas sudah pada dinikahi orang. Akhirnya, saya mencari penduduk setempat,” kenang Anvar.

Selama Orde Baru berkuasa, Anvar beberapa kali menghubungi keluarga di tanah air menggunakan nama dan alamat istrinya, perempuan asal Praha, yang telah memberinya 3 anak dan 7 cucu. “Sayang, nasib istri kurang baik. Ia pergi mendahului saya.”

Pembicaraan dengan Anvar menabalkan keyakinan saya untuk singgah di Praha, sebelum atau sesudah mengunjungi Moskow. Pilihan ini berat, sebetulnya, mengingat biaya yang diberikan pihak Komite Buku Nasional terbilang minim untuk ukuran 2 bulan tinggal di Rusia: Rp49.530.00. Dengan skema 80% diberikan sebelum berangkat dan 20% sisanya saya terima setelah laporan akhir dikumpulkan, uang yang saya dapat adalah Rp39.624.000—meliputi biaya perjalanan, visa, riset, asuransi, dan akomodasi.

Tapi apa lacur, ungkapan penyair Jerman, Schiller, bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan tidak layak untuk dimenangkan, kadung menggoda saya tiap kali berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit. Maka, molornya keberangkatan lantaran tersandung masalah visa saya jadikan kesempatan untuk mencari sponsor tambahan—pun, hasilnya, tentu saja diliputi kabut ketidakpastian.

Ditanya soal apa yang ingin saya bawakan sekiranya bertemu di Praha, sambil tertawa, Anvar mengajukan permohonan sederhana. “Kalaulah tidak memberatkan, saya minta dibawakan abon, ya,” pungkasnya.

Permintaan itu ringan, dan karenanya membuat keinginan mengunjungi negeri Jaroslav Hasĕk kian besar. Berhari-hari sebelumnya, seperti halnya Zen RS, Zen Hae juga mengompori saya agar berkunjung ke Praha. Katanya, musim gugur di kota itu indah. Ada sisa dedaun merah-jingga-cokelat di pepohonan.

“Datanglah ke kubur Kafka, dan bacakan Yasin.”

Meski begitu, Zen Hae juga mengingatkan: “Praha itu terlalu indah untuk dinikmati sendirian.”

Saya tak sanggup membayangkan keindahan macam apa yang bakal didapat saat menghabiskan waktu di sana—di sela dedaun merah-jingga-cokelat atau salju awal musim berjatuhan—dengan seorang kakek berumur 90-an.

Zulkifli Songyanan

Latest posts by Zulkifli Songyanan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.