
Kilas Balik dari Kaki Seulawah
aku hanya membayangkan bila daun-daun sala
di kota kecil itu kembali memerah dan beberapa tubuh
rebah di pasar dengan jantung berlubang
nun pada sebuah titik di arlojimu
seorang anak termenung di depan pintu dengan mata
menoleh ke utara, bukan pada sampan yang segera berlabuh
tapi pada bekas tapak kaki seorang lelaki yang membentuk
parit kecil menuju kuala, tempat ia biasa melempar sauh
sehabis semalam suntuk menulis nama-nama Tuhan di air laut
bukan, bukan pada tubuhnya yang menggigil dipukul asin gelombang
pun bukan pada mata merahnya sehabis bertarung angin buritan
tapi kepergiannya bersama kulik elang yang meliuk di bubungan
seperti dihantam gempa, matamu rebah di kegelapan
seperti diterjang tsunami, alismu hanyut dan tenggelam
seperti dibekap jam malam, mulutmu terpenjara dalam igauan
setiap yang datang kerap bermakna kepulangan
setiap yang berangkat mereka sebut bersekolah
jalan-jalan kampung menjelma karnaval kematian
para inong balee bersenandung lirih di ujung jalan
aku hanya membayangkan di depan dan belakang rumah,
beberapa jengkal dari pantai, riuh takbir dari mulut ombak
menjelma tarian gaib dengan langit melengking panjang
bagaimana harus menjelaskan makna tangisan kepada
bayi-bayi yang baru lahir agar mereka mengerti tanah indatu
merekah merah, letusan selalu mengalahkan lolongan anjing
kiamat datang lebih awal dengan bulu-bulunya
menyerupai kucing rumah namun gigi-gigi runcingnya
menyusup ke dalam aliran darah
nyanyi dodaidi telah berhenti
anakku, katamu, bersiaplah menjadi rencong terhunus
ketika harimau-harimau itu kembali ke kampung
membakar jaring dan sampan, lalu segeralah mendaki Seulawah
menjadi burung ababil yang terbang rendah
daun-daun sala di kota kecil itu luruh menjadi layar kaca
tempat ibu-ibu tumbuh sebagai serigala
menelan para lelaki yang gamang di ujung mautnya
(Depok, 18 Oktober 2024)
Imaji Liar di Kilometer Nol
aku mirip orang gila, duduk menghadap matahari yang sedang
ditelan gedung seberang, lalu muncul di kaca rias perempuan pirang
matanya menyala, katamu, tapi pasti kau tak punya nyali untuk menggoda
ia tak kenal penyihir, maka buanglah jauh-jauh sapu dan mantra
jika punya kebun, tanamlah lebih banyak salak ketimbang berharap
kata-kata bisa berbuah nangka atau menetaskan telur ayam kampung
kau bukan kesatria Mataram yang begitu gigih menghadang VOC
juga bukan tukang andong yang setia melukis kaki kuda di Malioboro
sesekali datanglah ke warung gudek Yu Jum atau kedai Tengkleng Gajah
bacakan mantramu – jika mereka tergila-gila baru sayapmu bisa menyala
tapi jangan pernah pergi sebelum kau bayar lunas rasanya dengan
segenap aroma keringatmu sehabis mendaki puncak Tugu siang itu
jika kau ke pasar kembang, harap ingat: jangan menatap
perempuan muda yang menjual aneka jajanan berwarna merah
ia baru saja menghanyutkan seorang lelaki di Parangtritis
setelah gunung merapi kembali mengirim lahar dingin
hal terbaik bisa kau lakukan adalah kawinilah seekor kupu-kupu
agar tiap pagi kau bisa memetik biji-biji kopi dan menggilingnya di beranda
tapi kau perlu tubuh lebih kekar untuk membuat kraton kecil di kepalanya
bukan dengan syair-syair gombal yang bikin muntah dara-dara muda
sebentar, matahari sudah tak tampak lagi, tapi orang-orang makin ramai
memenuhi bangku-bangku yang makin gelap kian tak bisa berkata-kata
beberapa pengantin dadakan saling pandang dengan mata yang ganjil
seperti dalam dongeng-dongeng klise di tabung televisi tua
(Yogyakarta-Depok, 2023-2025)
Sepotong Adegan di Prawirotaman
: cerita untuk a.m.
di cangkir-cangkir kopi yang berdenting
ada bekas lidahmu terbakar percik api
dari tungku-tungku yang menyala di tikungan
pada suatu malam, seseorang membawa
pisau dan menari di kornea matamu
langit mendadak merah
orang-orang berjalan lamban
mengusung keranda dari buku-buku yang
belum sempat mereka (dan kau) baca,
dari mendung yang sayup
menyusup di rak-rak makanan kaki lima
kita saling memanggil dari jauh
hujan tak selalu harus reda, katamu,
kita ngemper di depan sebuah toko
berbagi cerita tentang biografimu:
seorang perempuan belia pura-pura meracau
seperti tokoh kartun, tenggelam dalam antrian
orang-orang menuju titik jantung masing-masing
langit disusun dari gelas-gelas vodka
tapi kita tak harus mabuk
di layar ponsel, ada pesan begitu mengancam:
awas, jangan minum di sembarang gelas
ada maut diam-diam menyerang
bunyi denting gemelan sayup dan pilu:
dua laki-laki tersungkur di dalamnya
di kerumunan mungkin ada mata merah
memandang tajam, pun bisa menjadi belati
bagi pejalan kaki yang terjebak hujan
kota ini terbentuk dari pelangi dan kupu-kupu,
kokoh dengan akar-akar merapi dan
kukuh dari amuk gempa
tubuh kita teramat kuat sekadar menghalau
kilatan petir dan hawa dingin, apalagi luka kecil
tertusuk pecahan sloki para pemabuk
kedai minuman penuh dengan nama-nama asing
kita tersuruk-suruk bagai pelancong kesepian
di sisa kopi tegukan terakhir aku melihatmu
tersipu dengan mata berkaca-kaca
hujan telah reda, tapi tubuh makin basah.
(Yogyakarta-Depok, 9-13 November 2024)
Upaya Merawat Masa Lalu
kita telah mengubur buku-buku,
huruf-hurufnya menjadi bangkai
kepompong kembali belajar
mencintai masa lalu: warnai-warnai
sayapnya memantulkan peta baru
kita menelusuri seluruh alamat
mencatat orang-orang mati
menggambarnya di daun pintu
aku telah lama sakit, katamu,
kini kembali mencoba mendaki
meliuk-liuk di atas jempol kaki
lorong-lorong di depan sana
mungkin lebih gelap biasanya
lebih kecil dari jalan lahir kita
kita menyalakan layar ponsel
menonton parade perang dan
tarian-tarian telanjang
lalu pulang menyembah foto keluarga
setelah bercinta dengan seorang tua
kita sempat tertegun, tapi buru-buru
ada peringatan: persiapkanlah kematianmu
sebagai panggung paling agung
sementara rambutmu terus ditumbuhi
pohon-pohon durian dan punggungmu
menjadi ladang ganja
anak-anak mengusap-usap kepalamu
sambil memetik buah yang mulai matang
berdendang sayup tentang riuh kenangan
panjatlah dadaku, katamu lagi,
dan lupakan tubuhku yang
pernah terpuruk dalam kubangan
aku kembali lahir sebagai teuku umar
menghidupkan api di lereng gunung
menjerang kopi bagi pejalan malam.
(Depok, 2024-2025)
- Puisi Mustafa Ismail - 18 February 2025
- PUISI-PUISI MUSTAFA ISMAIL;DARI SEBIJI PADI - 10 April 2018

