Puisi Mustafa Ismail

 

Kilas Balik dari Kaki Seulawah

 

aku hanya membayangkan bila daun-daun sala

di kota kecil itu kembali memerah dan beberapa tubuh

rebah di pasar dengan jantung berlubang

 

nun pada sebuah titik di arlojimu

seorang anak termenung di depan pintu dengan mata

menoleh ke utara, bukan pada sampan yang segera berlabuh

 

tapi pada bekas tapak kaki seorang lelaki yang membentuk

parit kecil menuju kuala, tempat ia biasa melempar sauh

sehabis semalam suntuk menulis nama-nama Tuhan di air laut

 

bukan, bukan pada tubuhnya yang menggigil dipukul asin gelombang

pun bukan pada mata merahnya sehabis bertarung angin buritan

tapi kepergiannya bersama kulik elang yang meliuk di bubungan

 

seperti dihantam gempa, matamu rebah di kegelapan

seperti diterjang tsunami, alismu hanyut dan tenggelam

seperti dibekap jam malam, mulutmu terpenjara dalam igauan

 

setiap yang datang kerap bermakna kepulangan

setiap yang berangkat mereka sebut bersekolah

jalan-jalan kampung menjelma karnaval kematian

 

para inong balee bersenandung lirih di ujung jalan

 

aku hanya membayangkan di depan dan belakang rumah,

beberapa jengkal dari pantai, riuh takbir dari mulut ombak

menjelma tarian gaib dengan langit melengking panjang

 

bagaimana harus menjelaskan makna tangisan kepada

bayi-bayi yang baru lahir agar mereka mengerti tanah indatu

merekah merah, letusan selalu mengalahkan lolongan anjing

 

kiamat datang lebih awal dengan bulu-bulunya

menyerupai kucing rumah namun gigi-gigi runcingnya

menyusup ke dalam aliran darah

 

nyanyi dodaidi telah berhenti

 

anakku, katamu, bersiaplah menjadi rencong terhunus

ketika harimau-harimau itu kembali ke kampung

membakar jaring dan sampan, lalu segeralah mendaki Seulawah

 

menjadi burung ababil yang terbang rendah

 

daun-daun sala di kota kecil itu luruh menjadi layar kaca

tempat ibu-ibu tumbuh sebagai serigala

menelan para lelaki yang gamang di ujung mautnya

 

(Depok, 18 Oktober 2024)

 

 

 

 

Imaji Liar di Kilometer Nol

 

aku mirip orang gila, duduk menghadap matahari yang sedang

ditelan gedung seberang, lalu muncul di kaca rias perempuan pirang

 

matanya menyala, katamu, tapi pasti kau tak punya nyali untuk menggoda

ia tak kenal penyihir, maka buanglah jauh-jauh sapu dan mantra

 

jika punya kebun, tanamlah lebih banyak salak ketimbang berharap

kata-kata bisa berbuah nangka atau menetaskan telur ayam kampung

 

kau bukan kesatria Mataram yang begitu gigih menghadang VOC

juga bukan tukang andong yang setia melukis kaki kuda di Malioboro

 

sesekali datanglah ke warung gudek Yu Jum atau kedai Tengkleng Gajah

bacakan mantramu – jika mereka tergila-gila baru sayapmu bisa menyala

 

tapi jangan pernah pergi sebelum kau bayar lunas rasanya dengan

segenap aroma keringatmu sehabis mendaki puncak Tugu siang itu 

 

jika kau ke pasar kembang, harap ingat: jangan menatap

perempuan muda yang menjual aneka jajanan berwarna merah

 

ia baru saja menghanyutkan seorang lelaki di Parangtritis

setelah gunung merapi kembali mengirim lahar dingin

 

hal terbaik bisa kau lakukan adalah kawinilah seekor kupu-kupu

agar tiap pagi kau bisa memetik biji-biji kopi dan menggilingnya di beranda

 

tapi kau perlu tubuh lebih kekar untuk membuat kraton kecil di kepalanya

bukan dengan syair-syair gombal yang bikin muntah dara-dara muda

 

sebentar, matahari sudah tak tampak lagi, tapi orang-orang makin ramai

memenuhi bangku-bangku yang makin gelap kian tak bisa berkata-kata

 

beberapa pengantin dadakan saling pandang dengan mata yang ganjil

seperti dalam dongeng-dongeng klise di tabung televisi tua  

 

(Yogyakarta-Depok, 2023-2025)

 

 

Sepotong Adegan di Prawirotaman

                                     : cerita untuk a.m.

 

di cangkir-cangkir kopi yang berdenting

ada bekas lidahmu terbakar percik api

dari tungku-tungku yang menyala di tikungan

 

pada suatu malam, seseorang membawa

pisau dan menari di kornea matamu

langit mendadak merah

 

orang-orang berjalan lamban

mengusung keranda dari buku-buku yang

belum sempat mereka (dan kau) baca,

 

dari mendung yang sayup

menyusup di rak-rak makanan kaki lima

kita saling memanggil dari jauh 

 

hujan tak selalu harus reda, katamu,

kita ngemper di depan sebuah toko

berbagi cerita tentang biografimu:

 

seorang perempuan belia pura-pura meracau

seperti tokoh kartun, tenggelam dalam antrian

orang-orang menuju titik jantung masing-masing

 

langit disusun dari gelas-gelas vodka

tapi kita tak harus mabuk

 

di layar ponsel, ada pesan begitu mengancam:

awas, jangan minum di sembarang gelas

ada maut diam-diam menyerang

 

bunyi denting gemelan sayup dan pilu:

dua laki-laki tersungkur di dalamnya

 

di kerumunan mungkin ada mata merah

memandang tajam, pun bisa menjadi belati

bagi pejalan kaki yang terjebak hujan

 

kota ini terbentuk dari pelangi dan kupu-kupu,

kokoh dengan akar-akar merapi dan

kukuh dari amuk gempa

 

tubuh kita teramat kuat sekadar menghalau

kilatan petir dan hawa dingin, apalagi luka kecil

tertusuk pecahan sloki para pemabuk

 

kedai minuman penuh dengan nama-nama asing

kita tersuruk-suruk bagai pelancong kesepian

 

di sisa kopi tegukan terakhir aku melihatmu

tersipu dengan mata berkaca-kaca

hujan telah reda, tapi tubuh makin basah.

 

(Yogyakarta-Depok, 9-13 November 2024)

 

 

Upaya Merawat Masa Lalu

 

kita telah mengubur buku-buku,

huruf-hurufnya menjadi bangkai

 

kepompong kembali belajar

mencintai masa lalu: warnai-warnai

sayapnya memantulkan peta baru

 

kita menelusuri seluruh alamat

mencatat orang-orang mati

menggambarnya di daun pintu

 

aku telah lama sakit, katamu,

kini kembali mencoba mendaki

meliuk-liuk di atas jempol kaki

 

lorong-lorong di depan sana

mungkin lebih gelap biasanya

lebih kecil dari jalan lahir kita

 

kita menyalakan layar ponsel

menonton parade perang dan

tarian-tarian telanjang

 

lalu pulang menyembah foto keluarga

setelah bercinta dengan seorang tua

 

kita sempat tertegun, tapi buru-buru

ada peringatan: persiapkanlah kematianmu

sebagai panggung paling agung

 

sementara rambutmu terus ditumbuhi

pohon-pohon durian dan punggungmu

menjadi ladang ganja

 

anak-anak mengusap-usap kepalamu

sambil memetik buah yang mulai matang

berdendang sayup tentang riuh kenangan

 

panjatlah dadaku, katamu lagi,

dan lupakan tubuhku yang

pernah terpuruk dalam kubangan

 

aku kembali lahir sebagai teuku umar

menghidupkan api di lereng gunung

menjerang kopi bagi pejalan malam.

 

(Depok, 2024-2025)

 

 

Mustafa Ismail
Latest posts by Mustafa Ismail (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!