Puisi-Puisi Gody Usnaat

(Photo from album “Rafal Olbinski” on Yandex.Disk)

 

Mendengar Radio Edukasi

-untuk iman budhi santosa

 

 

kamis malam di radio Edukasi

suara penyiar dan penyair terdengar macam lengking kakatua

mengudara di langit seperti pesawat cessna

 

malam di kampung Umuaf kodok bernyanyi

aku ingat pengamen-pengamen jalanan jogja

kampung gelap tapi ketika saya melirik, cahaya kunang-kunang

serupa lampu-lampu jalan kota

tuturan penyair dan pertanyaan penyiar terdengar semakin menyihir

kabut turun

hawa dingin masuk rumah, dari ujung jari kaki

ia menjalar ke tulang belakang dan berhenti di ujung jari tangan

di atas meja, tumpukan buku jadi api

 

sebelum acara usai, penyair tua membaca puisi:

belajar takut pada ujung duri*

suara puisi terbawa angin

bagai biji gaharu jatuh di telinga dan hati macam tanah

segera akar muncul, merambat turun menancap di sana

 

Ubrub-2020

*Puisi Iman Budhi Santosa

 

 

 

Pohon Matoa di Ujung Timur Sekolah

 

pada ujung timur sekolah tumbuh subur pohon matoa

dedaunannya rindang macam atap rumah

di bawah kakinya anak-anak riang duduk bercerita

tentang guru yang macam serangga terbang pengisap darah

 

bila cuaca panas dan penantian bikin gerah

aku duduk sendiri di bawah kaki pohon matoa

sambil membaca puisi: belajar percaya pada musim dan cuaca*

pada guru dan kurikulum, masih perlukah saya menaruh percaya?

 

ke hutan, dua temanku berlarian meninggalkan sekolah

berjatuhan jejak di jalan tanah

 

Ubrub-2020

 

*Judul Puisi-Iman Budhi Santosa

 

 

 

Mama Ke Dusun

 

pagi setelah anaknya menyeberang ke sekolah

mama ke dusun melintas di jalan kecil

langkahnya sabar seumpama akar gaharu di gunung batu

 

tiba di kebun ia cari sayur pakis dan gedi

ia jenguk pisang Tongkat Matahari

yang telah beranak dan berbuah

setelah lelah berjuang di tanah

 

usai mencari, ia duduk sendiri

di pondok, kunyah sirih pinang sambil jaga api

yang sibuk matangkan pisang

ia meludah, puihh…puihh

ludah sirih pinang merah macam darah tempias di dinding

 

sudah hampir malam, jangkrik su babunyi

pelan ia susun bawaan ke dalam noken macam perut

disangkutkannya lingkaran tangan noken di kepala bagai ekor kuskus di dahan pohon

kantong noken menjuntai di punggung, beban menumpuk di sana

tapi mama yang sabar menjadikan yang berat jadi berkat

 

ia berdiri, hela-embus napas, sedikit bungkuk lalu atur langkah pulang

melintas di jalan kecil yang merentang panjang

menuju kampung dan rumah seperti burung cari sarang

 

 

Ubrub-2018/2020

 

 

 

Mencari Pohon Tobei

 

 

berkali-kali aku datang bagai babi hutan mencari

buah nonggei di hutan dusun macam kau yang kini tersisih

 

kususuri jalan bak kasuari

pada jalanan lumpur kakiku mengisahkan tapak dan sajak

hujan kecil singgah, dedaunan basah

burung kwi menari macam tarian man talaiblu

berjalan di atas ranting, berputar ke sana kemari

ekor dan kepala selalu bergoyang

 

ketika malam mata bulan yang jauh

melempar pandang ke mata jalan

aku macam tikus tanah sibuk cari jalan

hingga tiba di bawah pohon tobei

menikmati dan memahami buahnya macam senyummu, manis dan merah

 

2019

 

 

 

Setiap Pagi

 

setiap pagi aku teringat alis matamu yang melengkung

macam daun sagu di halaman

seperti angin menggigil di ranting matoa

kulihat engkau datang

di ruang ingatan

 

kau adalah kesedihan yang pecah macam balon-balon embun

 

kedipan matamu: daun sagu yang bergoyang

terasa menghantam di jantung sepi

aku bagai orang sakit di dusun terpencil

 

ingatan tentangmu ialah tangan yang merindukan sentuhan

 

kekasihku bila setiap pagi kesepian nyeri di pembaringan

aku menjaga ini ingatan

 

2019

Latest posts by Gody Usnaat (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Mantap kaka puisinya. Ditunggu terbitan buku puisinya. Salam.

  2. .. Reply

    Indah sekali, good luck kaka

Leave a Reply

Your email address will not be published.