Puisi-Puisi Toni Lesmana; Lipstik Bibi

pixabay.com

POTRET KAKEK

 

 

mulanya potret kakek dibingkai oleh pematang sawah

lengkap dengan capung, lubang belut, dan jejak kaki

para petani. setiap malam kami memandang wajah

kenangan menembang, menerbangkan kupu-kupu,

burung pipit, dan wangi padi. mengirim dongeng

pengantar tidur dari dinding ke setiap ruang dalam

rumah. hingga suatu hari ayah membeli televisi

disimpan tepat di seberang potret kakek. mirip gadis,

 

yang duduk manis di atas lemari antik itu segera

menggelar gelegar perang dari belahan-belahan

bumi yang berkobar, gemuruh ludah lidah para politisi

mengucur, semarak karnaval para koruptor tersenyum

dan melambaikan tangan, mirip aksi artis sinetron yang

memadati nadi kami. dari pagi hingga pagi. kami duduk

menatap pesona paras masa kini, memunggungi potret

kakek yang dari malam ke malam makin kelabu seperti

 

gunung sunyi. diam-diam berpijaran melelehkan lava

seperti kemarahan yang melabrak bingkai-bingkai

pematang sawah. ayah sigap mengganti bingkai dengan

tanggul yang dibangunnya dari tanah dan batu

kuburan, membendung lelehan potret kakek

di dinding. bau hangus dan dengus menyembur-nyembur

namun tak membuat kami bangkit dari kecantikan

televisi. aih, makin seksi mengirim gelombang pinggul

 

penyanyi dangdut, ombak air mata lautan sinetron,

arak-arakan pabrik-pabrik narkoba, kibaran bendera

partai-partai  politik di medan perang kebencian,

iringan wakil-wakil rakyat berjalan gagah dari senayan

ke penjara. semuanya seperti pesona iklan yang sengaja

ditebar menggoda dan menggiring kami ke jaring-jaring

mimpi ke taring-taring mimpi. kami telungkup menjelma

patung. dari waktu ke waktu. melupakan potret

 

kakek yang terus meletus dan runtuh

dalam kepung tanggul kuburan

 

2018

LIPSTIK BIBI

 

 

tak ada yang lebih indah dan bergairah

dari lipstik bibi. merahnya melampaui mawar

ibu di pekarangan. melampaui darah ayah

di pentungan polisi. melampaui pekat anggur

di gelas paman. lipstik bibi merah. merah

yang begitu dioleskan lekas mekar jadi

pelangi. tujuh warna, seperti tujuh jalan yang lesat

mencoreti pintu langit. meluncur lagi turun

 

membawa hujan. hujan kosmetik. hujan tas.

hujan sepatu. hujan parfum. hujan perhiasan.

hujan rok mini. hujan bikini. ajaib memang, langit

begitu baik pada lipstik bibi. tapi lipstik bibi selalu

pergi. selalu mengajak bibi berhari-hari. entah

ke negeri mana. di kamarnya yang kesepian

kami merindukan bibi merindukan lipstik

bibi yang membara siang ataupun malam. lipstik

 

yang mirip tongkat sihir di tangan bibi itu bisa

menghadirkan pabrik apa pun untuk bibi. dari pabrik odol

hingga pabrik kondom. di kamarnya yang kesepian itu,

kami asyik bersembunyi, menyelundup dari satu pabrik

ke pabrik yang lainnya. bergulingan di gudang-gudang

surat cinta yang membara. bibi yang selalu pergi

menunggang lipstik itu tidak tahu, bahwa setiap hari

selalu saja ada yang datang ke rumah. mengirim banjir

 

aksi dan demontrasi, kadang sampai melempar

terasi. mereka mencari bibi. mereka itu para istri

yang suaminya menjadi pacar bibi. mereka itu

para suami yang istrinya menjadi kekasih bibi

 

2018

 

 

NAMA UNTUK TEMAN

 

 

kami pernah mengoleksi nama-nama

mencari nama untuk teman kami yang datang

dan lenyap menunggang angin. pulang pergi

dari langit ke bumi dari hati ke kening

tentu tak ada yang lebih menarik selain nama

gagah teman-teman ayah yang datang

dan hinggap menunggang kata

pernah kami sodorkan nama-nama

 

yang menawan: zulfa nasrulloh, wishu muhammad,

rini rahmawati, beby halki,  mia indria, deri hudaya,

ridwan hasyimi, alek subairi, addakil muttaqin

ia cuma tersenyum. kami tawarkan pula nama-nama

yang indah: pradewi tri chatami, evi sri rezeki,

endah dinda jenura, rifki syarani fachry,

fahmy farid purnama, umar fauzi ballah

selalu cuma tersenyum. pernah ia tergelak

 

saat kami pilihkan sebuah nama antik : gusjur.  pendek,

lucu di mulut.  tapi cuma tergelak. susah sekali mencari

nama bagi yang tak punya nama tak punya ayah ibu

mungkin ia tak memerlukan nama. ia selalu bergurau

ialah muasal semua nama. di setiap nama itulah aku

menyatu, bisiknya seperti teka-teki yang tak pernah

kami temukan jawabannya. tapi ia selalu hadir dan

mengajak bermain. bermain sampai kami akhirnya

 

tak peduli nama-nama

tak butuh nama-nama

sampai kami lupa

nama sendiri

 

2018

 

 

PASAR SATWA

 

 

berjumpa jerapah di sebuah pasar panjang

dan sepi. jerapah itu mengayuh becak. lehernya

terjulur jauh, tersangkut di matahari, asyik mengunyah

daun-daun api. ada asap tumbuh di punggungnya

sepasang  sayap asap yang mengembang seperti kabut,

mengepak dan menghamburkan abu hutan kenangan.

“bagaimana kabar ayah dan ibu?” jerit jerapah, matanya

mendelik sebab leher yang terus memanjang itu mulai

 

melilit langit. jerapah yang rakus itu terus saja menjerit

seperti sirene polisi, sedang kakinya tak henti

mengayuh becak yang mulai melayang-layang

seperti layangan putus. aih, sepasang monyet

berbulu pelangi duduk dalam becak itu. tersenyum

“bagaimana kabar kakek dan nenek?” sapa mereka

sambil menampung abu dengan mulut yang mirip

mangkuk labu. mirip sepasang sumur kerinduan

 

penuh bulu. mirip kami, sepasang lapar yang terus

memanggil sebab segala sembab di pasar panjang

dan sepi. pasar yang bergerak seperti rasa lapar

“naiklah, jangan malu-malu! kemon!  ada ayah dan ibu

di mana-mana.” mulut jerapah masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. abu hutan

abu gunung. abu sungai. abu laut. berhamburan

ditampung mulut sepasang monyet yang terus membesar

 

“melompatlah, kakek dan nenek menunggu di mana-mana.”

sepasang monyet menyemburkan pelangi  ke mana-mana

pelangi yang meledak menjadi beragam satwa warna-warni

jutaan satwa berdesakan di udara. becak melayang, kami

bergelantungan memegang ekor jerapah. melayang-layang

mengelilingi pasar yang mulai mirip blankar panjang

mirip keranda panjang yang terus bergerak. jongko-jongko

kosong mengingatkan kami pada jajaran kuburan

 

kuburan untuk ayah. kuburan untuk ibu. kuburan untuk

kakek. kuburan untuk nenek. kuburan untuk kami sendiri

 

2017

Toni Lesmana

lahir di Sumedang. Menulis puisi dan prosa. Karyanya pernah dimuat di Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, serta media lainnya. Buku sudah terbit Kumpulan cerpen “Kepala-kepala di Pekarangan” (Gambang, 2015), kumpulan puisi “Tamasya Cikaracak” (Basabasi, 2016). Menetap di Ciamis, Jawa Barat.
Toni Lesmana

Latest posts by Toni Lesmana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.