Puisi Puput Amiranti

 

Senja Monotony, 5

 

Musik kafe itu

seperti aku mengenalmu

kasar, profan

juga selubung nyata yang sia sia kaugulung

dari balik batu badanku

aku tetap mampu membacanya

 

Ruang yang jauh tapi tak memberiku kebebasan

ruang yang dekat namun mengancam

 

Musik itu seperti kontrak

tak berkesudahan— labirin tolol yang terbangun

saat aku tak pernah siuman

diseret udara yang menghantarkannya

 

2022

 

 

Mencebur, 1

 

Malaikat Ghalilea

turun dari langit

membawa kabar retakan-retakan kabut

tapi tidak—

ia telah berbohong

 

Membawalah ia pada

gulungan-gulungan itu

baju putih transparan yang

berkibar-kibar

luka-luka dalam kepala

 

Pusat pecah sudut

senyumnya pasi

bersegera mengangkat

satu tangannya

dalam getir tak kentara

 

Terbang kembali ke atas

 

2022

 

 

Perbatasan

 

Menjauh dariku

karena kau tak memahami bahasa cuaca

 

Burung-burung yang buruk

terbang dalam kemungkinan-kemungkinan angin

harapan yang engkau terka kasar dan berputar

 

Menjauh dariku

 

Daun-daun itu terjatuh tanpa sebab

lumpuh dalam perkiraan

 

Sebelum engkau memahami betul bahasa burung-burung

dan kaki langit memendarkan jiwa yang engkau mampu tahu

jantung yang berharap telinganya mendengar riuh dalam bumi

selain tukik burung

 

2023

 

 

Moon in the Phase, 1

 

Kadang engkau tak perlu sembunyi

dari jiwa yang mati

 

Tapi tahukah engkau apakah itu jiwa yang mati?

 

Dia yang saban malam mengintip di celah-celah gelas air tawar

menyodorimu muka datar

 

Dia yang terus melongok, mencuil wajah ke layar digital untuk                              

berbahasa harapan

yang dia sendiri tak tahu itu ada

 

Dia yang selalu hadir mengingat judul-judul buku

dalam benam memori masa silam

sedang tubuhnya kaku dikelilingi wacana

 

Dia yang tak berasa menikmati kopi di malam remang

sedang emosinya tak mengabarkan apapun

 

Dia yang saban detik ingin menangis

namun air matanya tak mengeluarkan apapun

 

Dia yang memaksamu bergelut dengan cahaya tipis terbatas

sementara otakmu telah tua terbata

waktumu telah habis teriris-iris

 

Dia yang berkaca lain dalam pagi dan siang

mengejar dalam ratap-ratap yang bukan miliknya

 

2024

Puput Amiranti
Latest posts by Puput Amiranti (see all)

Comments

  1. Dowrangga Reply

    Puput.. I love you.

    • Admin Reply

      pelan-pelan, kak

  2. Desunime Reply

    Puisi yang sangat bagus saya menyukainya

  3. komiklab Reply

    Saya Menyukai Puisinya kak ^_^

Leave a Reply to komiklab Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!