Sajak-Sajak Irianto Ibrahim

robinsonswritings.weebly.com

 

PERIHAL KEPERGIAN

 

suatu hari nanti

saya ingin dikuburkan

di sini. di gundukan

tanah pada sepetak kebun

peninggalan bapak

 

kepada seorang pembuat nisan

telah kusampaikan

untuk menulis namaku

dengan huruf-huruf kecil saja

dengan tanggal yang disamarkan

penanda waktu

yang hanya sebentar ini

 

saya juga sudah bicara

kepada seorang penggali kubur

perihal sepetak tanah

muasal diri yang hina

agar dibuatkan liang

yang tidak terlalu dalam

seukuran badan saja

untuk membaringkan

jasad yang fana ini

 

suatu hari nanti

bila kau turut melayat

jangan menangis

biarkan arwahku tenang

menghadap sang kekasih

dengan senyum

dan doa-doa

 

Kendari, 2020

 

 

JALAN PULANG

 

masih berapa lama lagi, tanyamu

 

kata-kata yang patah

napas yang nyaris putus

di antara doa-doa dan rasa takut

 

tak bisa kubayangkan

langit manakah yang akan kita tuju

 

malah yang tampak kini

adalah wajah sendiri

ke mana pun menoleh

yang kulihat hanyalah tubuh

debu yang diterbangkan angin

 

apakah kita hampir sampai?

 

 

Kendari, 2020

 

 

DI TELUK KENDARI

 

saya pernah mengimpikan berdua denganmu

pada suatu sore selepas hujan. duduk bersisian

di bangku kayu itu, membayangkan hutan bakau

yang pernah ada di sana. merindukan masa-masa

ketika para pencari pokea tertawa lepas

sambil sesekali membetulkan tali keranjang.

 

semua tinggal kenangan, katamu.

 

ketika kapal nelayan melintas menuju ke laut lepas,

kau genggam tanganku. terasa benar kau sangsi pada kesetiaan

takut pada kehilangan.

 

jangan pergi lagi, bisikmu.

 

saya terdiam

tak bisa bicara

tak ada kata-kata

 

telah kupasrahkan nasib pada apa yang tampak di permukaan,

dan gejolak yang tersembunyi di kedalamannya.

 

ketika azan magrib sudah kedengaran dari masjid di tengah teluk itu,

kau menatapku. kubaca isyarat pada matamu seperti lampu perahu nelayan

binar yang menerbitkan harapan.

 

 

Kendari, 2020

 

 

TE NTANG POHON ASAM

DI BELAKANG RUMAH

: kepada Rahmad Adianto

 

mungkin sampai mati saya akan

terus bicara tentang sepi

tentang kesunyian yang kian bertalu

tentang kita yang tiada berpaut

 

ingin sekali kuceritakan padamu

perihal pohon asam di belakang rumah

agar bisa kau resapi desir angin

dan bunyi daun-daun mungil bergesekan

juga ranting pada atap

yang menerbitkan ngilu

yang membuatku tambah bisu

 

tapi ayah, bila engkau datang kembali

melihat rumah kecil nan reyot ini

dinding yang sudah lapuk ini

atap dan lantai penuh tambalan ini

guguran daun-daun asam ini

semua hanyalah gugusan kesunyian

demi kesunyian

 

 

Kendari, 2020

Latest posts by Irianto Ibrahim (see all)

Comments

  1. JBS Reply

    Luar biasa bosku…

  2. Salwiah Reply

    Kreen

    • Rahmat Adianto Reply

      Pada puisi terakhir, saya merindukan kampung dan sepasang pohon asam itu.

  3. Netty Andas Reply

    Luar biasa bpk Bilal

    • Erwin Usman Reply

      πŸ‘πŸ‘πŸ‘ Juaraa Ode…

      • Infah Reply

        Uhh mantapπŸ‘

  4. Tiwi Darwis Reply

    Kereeenn. Ku tunggu buku kumpulan” puisi selanjutnya. Sukses BossπŸ‘πŸ‘

  5. Ishak Yusuf Tahang Reply

    Sukses terus kak boss🀲

  6. Sumiman Udu Reply

    Luar biasa

  7. Djuharni Reply

    Super,,

  8. Riwang Coyy Reply

    S’lalu nikmat untuk di baca guru. Keren.

  9. Manaf Reply

    Mantap

  10. Daridiksi Reply

    Berasa akan pulang. πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

  11. Gembong Krys Sukranto Reply

    puisi yang terasa mengalir apa adanya. boleh lah

Leave a Reply

Your email address will not be published.