Sampul Sastrawan

(Kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta. Telah menerbitkan buku seni rupa Bergerak dari Pinggir (2018), Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti (2019), dan Bertandang ke Galeri (2020). Ketiganya diterbitkan oleh BASABASI)

Sudah lama saya percaya bahwa sampul merupakan seninya buku—terutama buku sastra. Setidaknya sejak pengujung 1992 ketika saya membeli kumpulan cerpen Adam Makrifat Danarto seharga dua ribu lima ratus rupiah di toko buku Gunung Agung—sepelemparan batu ke utara dari Tugu Yogyakarta—yang kini sudah tak ada lagi. Itu kenapa sampul menjadi perangkap estetis yang memungkinkan saya tergeleng-geleng atau berpaling haluan. Apalagi jika yang membikinnya adalah sastrawannya sendiri.

Maka izinkan saya bercerita tentang sejumlah sastrawan Indonesia yang berdaya cipta dengan sampul buku. Harap maklum jika di dalamnya tak terdapat “kupasan kritis” akan pilar artistik—bentuk, teknik, dan ide—sampul-sampul buku rancangan mereka. Saya sengaja menghindarinya di kesempatan ini.

***

Dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Avi Basuki, Tango (2006), Seno Gumira Ajidarma mendaku Avi Basuki “bukan sekadar teman bagi saya, saya selalu menyebut Avi sebagai ‘temanku yang ajaib’.”        

Menurut pengarang Penembak Misterius (1993) itu, keajaiban Avi Basuki terlihat dalam beragam profesi yang pernah, sedang, bahkan akan, ditekuninya: dari model dan peragawati, fotografer dan penulis kisah perjalanan, sampai digital artist dan cerpenis.

Sebagai cerpenis, sebagaimana sudah saya sebut di atas, Avi Basuki telah menerbitkan Tango. Pembaca yang memiliki buku ini, setidaknya pernah membacanya dengan saksama, tentu tahu sampulnya didesain sendiri oleh penulis yang “mengisi malam-malam panjangnya berdansa tango” itu.

Merancang sampul dan isi buku bolehlah disebut sebagai sedikit bukti dari daya cipta seorang Avi Basuki yang digital artist. Ternyata, itu bukan kali pertamanya. Dua tahun sebelumnya dari penerbitan Tango, Avi Basuki mengerjakannya untuk kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Aku Kesepian Sayang.” “Datanglah Menjelang Kematian.” (2006).

Dua sampul buku karya Avi Basuki

Sekalipun tak seajaib Avi Basuki—Iksaka Banu terbilang lebih produktif melahirkan buku sastra ketimbang pedansa tango yang tinggal di Milan, Italia, itu. Sekira tujuh tahun belakangan Iksaka Banu telah menerbitkan tiga kumpulan cerpen, dua novel, dan satu kumpulan cerpen berbahasa Inggris—yaitu Semua untuk Hindia (2014), Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya (2017), dan Teh dan Pengkhianat (2019); Sang Raja (2017) dan Pangeran dari Timur (ditulis bersama Kurnia Effendi, 2020); dan A Shooting Star and Other Stories (terjemahan Tjandra Kerton dan Jutta Wurm, 2015).

Tapi, kalau saya tak salah periksa, tak satu pun dari enam buku itu yang sampulnya dibuat Iksaka Banu. Padahal—sekira satu dasawarsa sebelum masyhur sebagai sastrawan—peraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk Prosa 2014 dan 2019 itu dikenal sebagai bukan sembarang perancang sampul buku.

Di rumah saya menyimpan kumpulan cerpen Kunia Effendi Senapan Cinta (April 2004), AS Laksana Bidadari yang Mengembara (Mei 2004), dan Zen Hae Rumah Kawin (Oktober 2004); antologi puisi Beno Siang Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana Gobang Semarang (Oktober 2009) dan Hanna Fransisca Konde Penyair Han (April 2010); himpunan esai Mohamad Guntur Romli Ustadz, Saya Sudah di Surga (Agustus 2007) dan Luthfi Assyaukanie Islam Benar versus Islam Salah (September 2007); buku “utuh” Abd. Moqsith Ghazali Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an (Mei 2009); dan novel Sitok Srengenge Menggarami Burung Terbang (2004) dan Y.B Mangunwijaya Roro Mendut: Sebuah Trilogi (2008).

Selain buku-buku terbitan KataKita, Metafor, dan Gramedia Pustaka Utama itu, saya mempunyai belasan buku (terjemahan dan terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Yayasan Pustaka Obor Indonesia-KITLV Jakarta, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia-Lembaga Studi Pers Pembangunan) yang sampul-sampulnya dirancang oleh Iksaka Banu. Atas pengetahuan itu, saya yakin, pembaca yang budiman mengetahui, jika tak mengoleksi, sejumlah lain buku bersampul bikinan alumnus Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, itu.

Lima buku dengan sampul bikinan Iksaka Banu

Tak sekondang Iksaka Banu di gelanggang sastra Indonesia hari-hari ini, tapi saya kira penting dicatat di sini adalah Yusrizal KW. Sejak awal 2000-an saya menyimpan Pistol Perdamaian: Cerpen Pilihan KOMPAS 1996 (cetakan kedua, Maret 2002) dan Kurma: Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran KOMPAS (November 2002).

Pada yang pertama (hlm. 103-110) terdapat cerpen Yusrizal KW “Sang Pengeluh”. Pada yang kedua (hlm. 26-33) termuat “Tiga Butir Kurma per Kepala”. Kedua cerpen itu kemudian terhimpun dalam kumpulan (empat belas) cerpen Yusrizal KW Kembali ke Pangkal Jalan (Penerbit Buku Kompas, Juni 2004, hlm. 35-45 dan 47-56).

Rupanya, mungkin tak mengejutkan betul, pengarang yang alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa Padang itu sekali-dua membikin sampul buku pengarang lain. Yang saya punya, ini benar-benar langka, ialah kumpulan (tujuh puluh dua) sajak A.A Navis Dermaga Lima Sekoci (Yayasan Citra Budaya Indonesia, November 2000, xi + 130 halaman).

Yusrizal KW mendesain sampul buku pengarang Robohnya Surau Kami (1986)itu dengan gambar potongan lukisan Cinta Perdamaian Ardianto dalam komposisi artistik ala sampul buku Pustaka Jaya atau Bentang Budaya-Buldanul Khuri.

Buku puisi A.A Navis dengan sampul rancangan Yusrizal KW

***

Ihwal persampulan buku Avi Basuki, Iksakan Banu, dan Yusrizal KW sebenarnya adalah cerita yang luput dari surat upaya saya “Sastrawan Berseni Rupa” (Jawa Pos, Minggu, 8 November 2020). Di situ, izinkan saya mengulang barang sedikit di sini, saya menyebut Ayu Utami dan Eka Kurniawan sebagai sastrawan yang berseni rupa dengan desain sampul buku.

Ayu Utami membuat desain dan gambar sampul kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma Atas Nama Malam (1999). Pengarang Saman (1998) itu pula yang menciptakangambar sampul dan ilustrasi-dalam buku Goenawan Mohamad, Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Selain itu, ia merupakan belasan sketsa sebagai sampul depan-belakang dan ilustrasi isi bukunya Si Parasit Lajang (2003). Satu dasawarsa kemudian, ketika buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), ia jualah yang membuat gambar sampulnya. Tiga bukunya yang lain, yang diterbitkan oleh KPG, yaitu Manjali dan Cakrabirawa (Juni 2010), Cerita Cinta Enrico (Februari 2012), dan Lalita (September 2012), gambar sampul atau gambar sampul dan isinya dibikin sendiri oleh sastrawan kelahiran 1968 itu.   

Tiga buku dengan desain sampul atau gambar sampul karya Ayu Utami

Eka Kurniawan membikin desain sampul dan ilustrasi buku lewat kumpulan cerpennya Corat-Coret di Toilet (2014) dan novel-novelnya, antara lain, Lelaki Harimau (cetakan ketiga, 2015), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (cetakan keempat, 2016), dan O (2016).

Tidak hanya itu, ketika masih tinggal dan berkarya di Yogyakarta pada 2000-an, Eka Kurniawan, dengan nama samaran Siti Soendari, pun membuat sampul buku penulis lain. Di antaranya, saya menyimpannya di rumah, Lima Serpihan Moral Umberto Eco (Jendela, April 2002, xiv + 160 halaman) dan Metamorfosa Franz Kafka (Yayasan Aksara Indonesia, Oktober 2000, xi + 119 halaman). Yang pertama diterjemahkan oleh Eka Kurniawan dan Elpiwin Adela. Yang kedua dialihbahasakan oleh Eka Kurniawan.    

Dua buku bersampul karya Siti Soendari

Sampai pada titik itu tak afdal tak menyebut Danarto. Perupa-sastrawan yang diakui sebagai pelopor realisme magis di Indonesia itu telah menerbitkan kumpulan cerpen yang sampulnya dirancangnya sendiri. Salah-dua yang saya punya adalah Adam Makrifat (Balai Pustaka, cetakan kedua, 1992, 71 halaman) dan Berhala (Pustaka Firdaus, cetakan kelima, 1996, xiv + 134 halaman).

Seperti halnya Avi, Iksaka, Yusrizal, Ayu, dan Eka—Danarto mendesain pula sampul buku penulis atau pengarang lain. Yang tersimpan di rumah saya adalah kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono Ayat-Ayat Api (Pustaka Firdaus, Maret 2000, 158 halaman), buku (terjemahan) Reynold A Nicholson Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi (Pustaka Firdaus, cetakan keempat, Juni 2002, viii + 176 halaman), dan Kenedi Nurhan (ed.) Jejak Tanah: Cerpen Pilihan KOMPAS 2002 (Penerbit Buku Kompas, cetakan kedua, Maret 2004, xxiv + 166 halaman).

Lima buku dengan sampul buatan Danarto

Bersama buku-buku itu, saya pun menyimpan kumpulan cerpen Hanna Fransisca Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina (Komodo Books, Mei 2012, 140 halaman), dan dua buku cerita wayang Seno Gumira Ajidarma Kitab Omong Kosong (PT Bentang Pustaka, Juli 2004, 623 halaman) dan Wisanggeni Sang Buronan (Yayasan Bentang Budaya, Januari 2000, xi + 92 halaman), yang gambar sampul dan isinya dibikin oleh Danarto.

Ternyata, sastrawan pun menawan dalam urusan desain sampul buku.

Latest posts by Wahyudin (see all)

Comments

  1. Hubertus Gilang Aryasatya Reply

    Melihat tulisan ini mengingatkan mata kuliah permintaan (Desain Perwajahan) yang saya ambil di jurusan sastra indo dan memang jadi tantangan menarik untuk sastrawan dekade ini….. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.