Syaikh ‘Abd Al-Wahid as-Sayyari

Beliau adalah ‘Abd al-Wahid bin ‘Ali as-Sayyari. Anak dari saudara perempuan Syaikh Abu al-‘Abbas as-Sayyari yang sekaligus merupakan salah satu muridnya. Beliau wafat pada tahun 375 Hijriah.

Beliau adalah seorang sufi yang dengan ikhlas dan kedermawanannya telah mewakafkan sebuah bangunan untuk menjadi persinggahan para sufi di Merv, Turkmenistan. Beliau mengundang para sufi untuk singgah di bangunannya itu.

Para sufi lalu berdatangan. Dengan bersama-sama maupun datang sendiri-sendiri. Betapa sangat hangat hubungan di antara mereka. Walaupun sebelumnya di antara mereka tidak pernah bertemu. Sungguh mereka merasakan bersaudara antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada sekat-sekat psikis di antara mereka. Jumlah mereka banyak. Tapi hakikat mereka tunggal adanya.

Selain dihiasi substansi persaudaraan yang sedemikian indah, para sufi itu senantiasa dirundung rindu dan cinta kepada Allah Ta’ala, “kampung halaman” mereka sendiri yang paling hakiki. Dalam rangka melampiaskan gemuruh rindu dan cinta yang selalu membuncah itu, mereka senantiasa bersenandung sekaligus menari-nari.

Sebagai para pecinta, jumlah mereka banyak. Tapi jelas bahwa Kekasih mereka satu. Bahkan Mahaesa. Allah Ta’ala semata. Bukan apa atau siapa pun yang lain. Dia yang terlebih dahulu mencintai mereka. Baru setelah itu mereka memantulkan cinta yang sangat sakral itu kepada hadirat-Nya.

Ketika mereka menggelorakan kerinduan dan cinta yang begitu purba kepada Allah Ta’ala dengan menari-nari, sesuatu yang sama sekali tidak diduga sebelumnya oleh Syaikh ‘Abd al-Wahid as-Sayyari kemudian terjadi. Yakni, ketika sedemikian khusyuk menari-nari, salah seorang sufi tiba-tiba terbang ke angkasa, lenyap dari pandangan, dan selamanya tidak pernah kembali.

Peristiwa terbangnya salah seorang sufi ke angkasa itu semakin meneguhkan kuda-kuda spiritualitas yang bersemayam di dalam diri Syaikh ‘Abd al-Wahid as-Sayyari. Bagaimana mungkin tidak, ketika kesiapan rohani beliau sudah betul-betul matang, maka peristiwa yang sangat sakral itu tidak mungkin dipandang oleh beliau hanya sebagai peristiwa terbang biasa sebagaimana yang setiap hari dialami oleh burung-burung.

Peristiwa terbang seorang sufi itu pastilah dihayati oleh beliau sebagai kejadian adikodrati yang murni ditangani langsung oleh Allah Ta’ala. Hal itu murni merupakan sebuah pelajaran rohani bahwa siapa pun yang telah terbebaskan dari segala belenggu duniawi dan ukhrowi, dari apa pun selain Allah Ta’ala, pastilah dia secara substansial mengalami terbang hakiki.

Terbang ke mana? Terbang ke kampung halamannya. Terbang ke asal-usulnya yang tak lain adalah hadirat-Nya. Dalam konteks ini, tentu saja perjumpaan dengan Allah Ta’ala tidak bisa dipahami secara fisik karena jelas bahwa Tuhan semesta alam itu sama sekali bukanlah jasad atau benda yang membutuhkan tempat.

Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah menyelami dan merasakan kemahaan hadirat-Nya dengan sepenuh hati sehingga tidak tebersit secuil pun untuk melirik apa atau siapa pun yang lain. Walaupun apa yang disebut sebagai yang lain itu tak lain adalah bayang-bayang-Nya sendiri. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.