Syaikh Abu al-Hasan al-Barusi

pinterest.com

 

Nama beliau adalah Sullam bin al-Hasan al-Barusi Abu al-Hasan. Di dalam kitab Tarikh ash-Shufiyyah, Syaikh ‘Abdurrahman as-Sullami menyatakan bahwa Syaikh Abu al-Hasan al-Barusi adalah seorang sufi generasi awal yang berasal dari Nisapur.

Beliau merupakan salah satu guru rohani dari Syaikh Hamdun al-Qashshar, seorang imam sekaligus panutan bagi kalangan penganut “tarekat” Malamatiyyah. Beliau juga dikenal sebagai seorang wali yang doanya senantiasa diijabah oleh Allah Ta’ala.

Tentang jalur rohani yang kredibel yang semestinya ditempuh oleh para salik, beliau pernah menyatakan bahwa tidak akan tampak cahaya keimanan pada seseorang kecuali dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. dan menjauhi bid’ah.

Konotasi sebutan Sunnah di sini bukan terutama tertuju kepada bentuk-bentuk amalan lahiriah di luar ibadah-ibadah mahdhah yang tidak sesuai atau dicontohkan oleh Rasulullah Saw., tapi murni tertuju kepada dimensi ontologis yang menjadikan suatu amalan secara substansial tersambung dengan nilai-nilai amal yang telah dipraktikkan oleh Sang Nabi Saw.

Seluruh amal orang-orang beriman, dengan demikian, haruslah merupakan “perpanjangan tangan” dari keagungan nilai amal yang telah dipraktikkan sekaligus dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tidak adanya relasi substansial antara nilai suatu amal umat manusia dengan Nabi Pungkasan Saw. menunjukkan kepada kita semua bahwa amal itu sebenarnya adalah bid’ah.

Jadi, pemahaman bid’ah dalam konteks kalimat sang sufi di atas sama sekali tidak menunjuk kepada aksiden atau rupa lahiriah dari sebuah amal. Akan tetapi tertuju kepada putusnya relasi secara hakiki antara nilai suatu amal dengan cahaya rohani Sang Nabi Saw. Oleh sang sufi, hal yang demikian disebut sebagai bid’ah yang samar. Sedangkan dimensi lahiriah amal itu bisa saja tidak bid’ah.

Itulah sebabnya, ketika Abu ‘Abdillah bin Karram bertanya kepada Syaikh Abu al-Hasan al-Barusi mengenai amalan-amalan para jama’ahnya, sontak sang sufi yang menjadi pembahasan kita ini memberikan jawaban yang tidak mengenakkan: “Jama’ahmu itu senantiasa melakukan shalat dan puasa, tapi tidak ada cahaya keimanan bagi mereka. Dimensi batin yang kelam menyebabkan dimensi lahiriah yang kelam pula.”

Munculnya bid’ah yang samar yang merupakan sandungan akut tersebut berawal dari adanya penyakit rohani di dalam diri seseorang. Sehingga amalan-amalannya terlepas dari ketulusan dan bisa jadi lalu berorientasi kepada selain hadiratNya. Mungkin karena pamrih terhadap sesama. Mungkin juga ingin menunjukkan rasa lebih mulia dan terhormat dibandingkan yang lain. Dan lain sebagainya.

Dalam pembahasan ini, bid’ah yang samar itu sungguh lebih berbahaya ketimbang bid’ah yang konkret. Sebab, bid’ah yang konkret, sepanjang tidak menyangkut ibadah-ibadah mahdhah, bisa sangat dimungkinkan untuk tetap memiliki nilai spiritual yang tersambung dengan cahaya rohani Nabi Muhammad Saw. Sedangkan pada bid’ah yang samar, pastilah di situ tidak ada keterhubungan spiritual dengan getar rohani Sang Nabi Saw.

Betapa di dalam hidup yang hanya sejenak ini kita mesti berusaha dengan penuh kesungguhan dan ketulusan agar nilai hidup kita senantiasa tersambung dengan keteladanan dan kemuliaan hadiratNya yang bersemayam di dalam diri Sayyid al-Wujud Saw itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.