Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri

Beliau adalah Muhammad bin Hisan Abu ‘Ubaid al-Busri. Termasuk sufi terdepan di antara sufi-sufi yang lain. Bersahabat dengan Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi.

Tentang keunggulan spiritual dan derajat rohani beliau, Syaikh Ibn al-Jala’ memberikan testimoni sebagaimana berikut ini: “Aku telah berjumpa dengan enam ratus sufi. Tidaklah kusaksikan kualitas rohani di antara mereka sebagaimana empat sufi ini: Syaikh Dzun Nun al-Mishri, Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi, Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri, dan Syaikh Abu al-‘Abbas bin ‘Atha’.”

Dituturkan di dalam kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami bahwa ketika sudah tiba bulan Ramadhan, Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri masuk ke sebuah kamar dan berwasiat kepada keluarganya: “Tutuplah pintu khalwatku.” Maka mereka menutup pintu kamar itu. Hanya ada satu tingkap kecil yang tetap dibiarkan terbuka. Lewat tingkap kecil itulah setiap malam mereka memberikan satu potong kue.

Pada hari raya, mereka membuka pintu khalwat beliau. Mereka terkejut karena menemukan kue-kue itu masih utuh, tiga puluh biji. Beliau ternyata tidak makan sepotong pun kue itu. Juga tidak minum dan tidak tidur. Selama bulan Ramadhan, beliau shalat dan dzikir hanya dengan sekali wudhu ketika mau memasuki kamar khalwatnya di awal bulan Ramadhan.

Menakjubkan, bukan? Itulah karunia rohani yang sangat besar. Bayangkanlah dengan penuh perenungan dan pengharapan untuk mendapatkan anugerah-anugerah rohani sebagaimana yang telah dialami dan dinikmati oleh para sufi, oleh mereka yang memiliki kesiapan tangguh di dalam menampung berbagai macam rahmat istimewa dari hadiratNya.

Jelas bahwa dimensi murni dari rohani beliau melampaui dimensi jasmaninya. Unsur-unsur dari dimensi jasmaninya telah sepenuhnya bergabung dengan dimensi rohaninya. Menjadi penopang yang utuh dan penuh totalitas bagi keberlangsungan sembah-sujud paling tulus dan penuh kesungguhan terhadap Allah Ta’ala.

Beliau adalah jenis orang rohani dalam pengertiannya yang utuh dan mendalam. Sehingga ruang dan jarak yang merupakan bagian dari rangkaian dimensi jasmani alam raya bisa dengan mudah ditekuk dan diterobos. Contohnya adalah ketika beliau mau berangkat haji.

Dituturkan oleh salah seorang sahabatnya bahwa Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri sedang sibuk dengan suatu urusan sehingga waktu pelaksanaan ibadah haji cuma tinggal tiga hari. Ada dua orang sufi yang datang kepada beliau dan bertanya: “Kau mau melaksanakan ibadah haji tahun ini?” Beliau menjawab: “Tidak.” Beliau kemudian menoleh kepada sahabatnya dan berkata: “Gurumu ini lebih sanggup dari kedua orang itu dalam melipat bumi.”

Melipat bumi berarti menjadikan energi fisik bermetamorfosis menjadi energi rohani, menjadi energi cahaya spiritual yang berlipat-lipat jauh lebih cepat ketimbang lesatan cahaya rembulan dan matahari. Hal itu merupakan gambaran bagi tingkatan rohani Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri, juga bagi siapa pun yang telah dianugerahi kesanggupan untuk menjadikan dirinya sebagai orang rohani, sebagai orang yang telah mempertautkan keseluruhan dirinya di dalam kemutlakan sembah sujud kepada Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.