Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri

A Miniature Painting Of A Meeting Of Sufis by Eastern Accents

 

Beliau adalah Abu ‘Utsman Sa’id bin Isma’il al-Hiri an-Nisaburi. Berasal dari Ray, Teheran, Iran. Salah satu murid dari Syaikh Syah Abu Syuja’al-Kirmani. Bersahabat dengan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad dan Syaikh Yahya bin Mu’adz ar-Razi. Beliau adalah salah seorang imam rohani di masanya, juga merupakan kecemerlangan spiritual di zamannya. Beliau adalah guru rohani bagi kebanyakan penduduk Nisapur. Wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 298 Hijriah. Kuburannya berada di Nisapur.

Pernah pada suatu hari, Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri bepergian bersama gurunya, Syaikh Syah bin Syuja’ al-Kirmani, dari Merv menuju Nisapur. Di tempat yang dituju, mereka berdua berjumpa dengan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad. Keduanya diajak dan “ditahan” di rumah Abu Hafsh. Tapi Syaikh Syah kemudian mohon izin pulang karena ada urusan keluarga. Tinggallah Syaikh Abu ‘Utsman sendirian, hanya bersama tuan rumahnya.

Demi untuk menyajikan jamuan-jamuan spiritual bagi tamunya, Syaikh Abu Hafsh al-Haddad mengadakan berbagai majelis rohani yang berisi sejumlah kajian dan zikir. Semata untuk memuliakan sang tamu, juga dengan penuh kenikmatan yang dirasakan oleh sang tuan rumah sendiri. Dalam konteks ini, kesenangan sang tamu dengan kesenangan tuan rumah itu sama. Membuncahlah api unggun kesenangan rohani di antara mereka berdua.

Pertemuan melalui hobi yang sama merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Baik hobi yang hanya berkaitan dengan perkara-perkara duniawi maupun apalagi yang berkaitan langsung dengan dunia spiritual, dengan dimensi-dimensi keilahian yang jelas merupakan kenikmatan yang jauh lebih bermutu dibandingkan dengan kenikmatan apa pun yang berkelindan dengan kemewahan materi, kedudukan pada hierarki kekuasaan, dan martabat bergengsi pada ilmu pengetahuan secara umum.

Di dalam majelis zikir dan dunia keilmuan secara spiritual, seseorang bisa mengalami tidak saja formalitas zikir dan transformasi keilmuan belaka, tapi lebih dari itu dia bisa melahap berbagai macam kenikmatan spiritual tak terpermanai yang dihidangkan langsung dari kemurahan Allah Ta’ala, juga bisa menikmati kenyataan-kenyataan ilmu Ilahi yang di dalam kepustakaan kaum sufi dikenal dengan istilah ilmu rasa atau ilmu dzauk.

Dan tentu saja kita tidak menyangsikan martabat spiritual dari kedua sufi agung tersebut. Yaitu, Syaikh Abu Hafsh al-Haddad sebagai tuan rumah dan tamunya yang tidak lain adalah Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri. Ketika keduanya menyelenggarakan kegiatan yang berupa berbagai majelis yang berisi kajian-kajian sufistik dan zikir, tentu saja kita bisa membayangkan bahwa majelis tersebut di hadapan mereka menjelma sebagai kebun rohani yang begitu rimbun, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan sangat menyenangkan bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Di berbagai majelis ilmu keilahian dan zikir itu, di samping keduanya menikmati hidangan demi hidangan rohani secara langsung, tidak ketinggalan mereka berdua juga menjadi sarana sangat penting bagi banyak orang untuk semakin suntuk menempuh ketulusan, menjalani kekhusyukan, menekuni makrifat, menelusuri mahabbah, dan lain sebagainya.

Sehingga pada akhirnya, Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri dianugerahi kesanggupan oleh Allah Ta’ala untuk membebaskan dirinya dari berbagai ego yang kerdil, ringkih, dan kumuh. Hidupnya murni berhiaskan tawajjuh kepada hadiratNya, merdeka dari belenggu dosa dan segala yang sia-sia, terbang melesat menuju kepada Tuhan semesta alam.

Sehingga ketika beliau ditanya tentang definisi pemuda secara hakiki, tentang dia yang sedang berada pada fase usia yang sangat energik, dengan tegas beliau memberikan sebuah jawaban sangat ideal yang mungkin di saat itu tidak terpikirkan oleh siapa pun bahwa seorang pemuda adalah orang yang tidak lagi tertarik atau silau terhadap dirinya sendiri. Seorang pemuda adalah dia yang berani menjadikan seluruh hidupnya tertegun terhadap hadiratNya semata.

Karena itu, sangat bisa dipahami ketika beliau diangkat oleh Allah Ta’ala sebagai imam rabbani, beliau mempengaruhi murid-muridnya bukan terutama dengan kajian kitab-kitab tasawuf, melainkan dengan kekuatan-kekuatan rohani yang begitu sublim dan sangat memukau pada diri beliau sendiri. Minim kata-kata. Tapi melimpah ruah dengan keteladanan rohani yang sangat indah. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Dedi Reply

    Melihat tulisan mas perihal sufistik, saya pribadi cukup tertarik untuk mengenalinya walaupun untuk mendalami atau mengikuti jalannya tidak.

Leave a Reply to Dedi Cancel Reply

Your email address will not be published.