Syaikh Ahmad as-Sarkhasi

Beliau adalah Ahmad bin Hammad as-Sarkhasi, seorang sufi yang sangat terhormat dan disegani, baik oleh makhluk-makhluk di langit, para malaikat, maupun oleh makhluk-makhluk di bumi, manusia dan selainnya, termasuk oleh binatang-binatang buas sekalipun.

Seorang penulis kitab tasawuf yang terkenal, Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri menulis sebagaimana berikut: “Beliau termasuk seorang sufi yang bersegera di dalam menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala. Melaksanakan apa pun perintah hadiratNya betul-betul nomor satu”.

Syaikh al-Hujwiri benar-benar menjadi kawan bagi beliau. Dia pernah melihat berbagai macam keajaiban dari beliau. Pada suatu hari, dia pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana kondisi rohanimu pertama kali?” Mendapatkan pertanyaan seperti itu, beliau menjawab dengan tegas:

“Pada suatu hari, aku keluar dari Sarkhas menuju padang pasir di mana unta-unta kami berada di situ. Entah kenapa, aku di waktu itu ingin sekali lapar. Di waktu itu, jatah makananku aku sedekahkan kepada para fakir. Aku berhujah dengan firman Allah Ta’ala surat al-Hasyr ayat kesembilan.”

Ayat itu berarti: “Menyanjung kaum Ansar di Madinah yang mencintai kaum Muhajirin (imigran Mekkah), mendahulukan mereka daripada diri   mereka sendiri dalam hal harta, meski mereka dalam kesempitan, serta tidak hasad.” Artinya adalah mereka selamat dari penyakit hati yang berupa kedengkian terhadap sesama.

Pada suatu hari, seekor harimau tiba-tiba keluar dari tempat berlangsungnya peperangan. Ia mengejar seekor unta dan membunuhnya. Lantas harimau itu memandang dataran yang tinggi. Terus memandang dan ia menjerit. Lantas berkumpulah aneka ragam binatang buas.

Setelah mereka, binatang-binatang buas itu, berkumpul di dekat harimau itu, harimau menggigit unta itu kecil-kecil, dan harimau itu tidak memakannya, hanya menggigit dan menjadikannya kecil-kecil. Maka, ia menoleh ke tempat yang tinggi lagi. Sungguh aneh, sangat aneh.

Binatang-binatang buas berkumpul lagi. Kali ini ada serigala, rubah, dan binatang buas lainnya. Masya Allah, mereka semua makan daging unta itu. Setelah mereka dirasa kenyang, mereka pulang. Kemudian harimau itu datang lagi. Makan sedikit daging unta itu. Lalu, ia melihat serigala yang pincang.

Harimau itu melihat tempat itu. Serigala itu datang dan makan sedikit. Harimau turun dan makan juga. Syaikh Ahmad as-Sarkhasi memandang hal itu. Ketika waktunya pulang, harimau itu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih: “Wahai Syaikh Ahmad, sesungguhnya, mengutamakan makanan kepada yang lain merupakan perbuatan anjing.

Sementara mengutamakannya lelaki agama adalah memberikan rohnya.” Setelah beliau menyaksikan mu’amalah tersebut dari kalangan binatang, beliau lantas meninggalkan semua kesibukannya. Itulah awal mula pertautan beliau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!