Syaikh Ahmad Nassaj al-Khaisy

Saya tidak tidak tahu di mana beliau dilahirkan dari rahim ibunya. Saya tidak tahu pula di manakah beliau wafat. Karena kitab-kitab yang memuat nama-nama para sufi yang ada dalam kepustakaan saya tidak ada yang mencantumkan namanya. Satu-satunya kitab thabaqat yang menulis nama beliau adalah Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurrahman al-Jami.

Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam bahwa beliau adalah kawan bagi Syaikh Muhammad as-Sakhiri. Di antara keduanya ada persahabatan yang begitu akrab, yang seolah-olah tidak bisa dipisahkan, dari saking begitu akrabnya.

Cuma jelas bahwa beliau berasal-usul dari Farghanah. Bagian mana? Tidak jelas juga. Karena rindu sedemikian rupa kepada Allah Ta’ala, beliau tinggal di Mekkah, di Tanah Haram. Di sana, bebas melaksanakan shalat kapan saja. Tidak ada waktu yang terlarang sebagaimana di tempat-tempat lain.

Menurut Syaikh al-Islam, Syaikh ‘Ammu mengatakan bahwa apabila kehidupan terasa sempit di Mekkah, maka para sufi memilih untuk menikah. Mereka mengadakan walimah. Berpesta pora. Rezeki bukan berkurang, tapi malah semakin bertambah. Seolah-olah dengan pesta itu rezeki mereka semakin menumpuk.

Jadilah makanan mereka dimaklumi oleh orang-orang. Yakni, makanan yang merupakan kelas menengah ke atas, makanan yang enak-enak, makanan yang membuat kita menyadari bahwa bersyukur kepada Allah Ta’ala itu tidak hanya sekadarnya, tapi di atas segalanya. Sungguh.

Syaikh Ahmad Nassaj al–Khaisy juga menikah. Di pagi harinya, beliau mengatakan kepada masyarakat umum bahwa “pesta pora dan toleransi ini tidaklah berasal dariku. Ini adalah perkara yang baik. Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku dari dulu? Kenapa?

Menurut Syaikh al-Islam, Syaikh Ahmad Nassaj al-Khaisy kalau makan senantiasa sendiri, tanpa ditemani oleh siapa pun. Padahal seorang sufi kalau makan biasanya bersama orang-orang lain, kenapa beliau tidak? Alasannya adalah sebagaimana yang disampaikan oleh beliau sendiri.

“Pada suatu hari,” kata beliau memulai ceritanya kenapa beliau senantiasa makan sendiri, “aku makan bersama seorang sufi dalam sebuah nampan. Aku membawa sepotong daging yang agak besar. Sangat bagus daging itu. Kuletakkan daging itu di nampan. Sufi itu kemudian menjerit:

Apa yang tidak baik untukmu, kenapa engkau menganggap baik untuk orang lain?” Betul-betul tidak masuk akal bagi Syaikh Ahmad Nassaj al-Khaisy. Bagi beliau, daging itu betul-betul baik, bahkan sangat baik. Kenapa menurut orang lain tidak? Di sini beliau betul-betul tidak paham.

Sejak saat itu beliau tidaklah makan kecuali sendiri. Tak lain karena khawatir kalau beliau membawa sesuatu yang baik menurut beliau, itu ternyata dianggap tidak baik, tidak pantas untuk orang lain. Dalam rangka tidak menyakiti orang itulah beliau tidaklah makan kecuali sendiri. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!