Syaikh ‘Ali Al-Ashfihani

pinterest.com

 

Beliau adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Sahl al-Azhar al-Ashfihani, salah seorang sufi terdepan di Asfihan, salah seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’. Sepantaran dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi, bahkan saling berkirim surat di antara keduanya. Beliau bersahabat dengan Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi.

Sebagai seorang sufi, beliau pernah menempuh riyadhah atau latihan rohani yang sangat berat. Yaitu, selama dua puluh hari tidak makan dan tidak minum sama sekali, pun selama itu pula tidur dalam keadaan berdiri dan terhuyung-huyung: sebuah latihan rohani yang kemungkinan besar kebanyakan kita tidak akan sanggup melakukannya.

Tapi bagi beliau atau siapa pun yang dengan penuh semangat menempuh perjalanan panjang rohani, adanya tirakat sebagaimana yang telah dilakukan oleh Syaikh ‘Ali al-Ashfihani itu sungguh bukan merupakan hal yang getir dan menyedihkan, namun merupakan realisasi dari adanya debar-debar pengharapan yang sedemikian tulus terhadap rahmat hadiratNya.

Semakin besar volume debar-debar pengharapan dan ketulusan seorang salik, maka dapat dipastikan semakin menggembirakan pula tirakat yang sedang ditekuninya. Pada saat yang bersamaan, semakin ringan pula tugas-tugas rohani yang sedang dipikul di pundak batinnya.

Itulah sebabnya, bagi Syaikh ‘Ali al-Ashfihani, walaupun secara ekonomi berada di bawah garis kemiskinan, seorang sufi tidak bisa dikatakan bangkrut. Sama sekali tidak bisa. Karena secara hakiki, seorang sufi sesungguhnya lebih kaya dibandingkan dengan kebanyakan orang kaya. Lebih berbahagia ketimbang kebanyakan orang yang bahagia lainnya.

Karena kebahagiaan seorang sufi itu muncul dari sebuah sumber yang jauh lebih substansial dibandingkan dengan kebahagiaan orang kebanyakan yang muncul dari adanya kepemilikan terhadap berbagai macam harta benda dan kekayaan material belaka. Yakni, kebahagiaan seorang sufi menyeruak dari adanya kedekatan spiritual dengan Allah Ta’ala dan Rasul Terkasih Saw. Itulah kebahagiaan yang tidak saja permanen di kehidupan dunia ini, tapi juga membentang hingga di akhirat yang abadi.

Kita yang berada di luar gelanggang kaum sufi, yang hanya bisa “menonton dan menyaksikan” dari luar, mungkin mengajukan sebuah pertanyaan yang sedikit bernada sinis: “Masa iya sih para sufi itu betul-betul berbahagia, bahkan dibilang lebih berbahagia ketimbang mereka yang kaya secara material?”

Pertanyaan yang seperti itu sebenarnya terhitung wajar. Karena yang mengajukan pertanyaan kemungkinan besar mengukur kebahagiaan orang lain, termasuk para sufi, dengan kebahagiaan yang dirasakannya sendiri yang terutama ditopang dengan adanya kecukupan di dalam kepemilikan terhadap materi.

Keberpihakan sang sufi terhadap kebahagiaan hakiki, terhadap kedekatan dengan hadiratNya, semata karena dilandasi oleh adanya keteguhan hati di dalam berpegang kepada jawaban “ya” di alam arwah ketika mendapatkan pertanyaan dari Allah Ta’ala, “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

Bahkan beliau dengan tegas menyatakan bahwa perjanjian di “hari Alastu” itu seolah baru terjadi kemarin. Padahal itu terjadi jauh sebelum tergelarnya episode demi episode kehidupan, jauh sebelum ada dan merambatnya waktu, jauh sebelum berlangsungnya peristiwa kelahiran dan kematian, jauh sebelum tangis dan tawa mencengkeram manusia. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.